Featured

Saripati Kebudayaan Nusantara dalam Tegangan Berbangsa-bernegara


Photo: sejarahindonesia (Instagram)

“Dalam ruang makan keluarga ada lukisan dua orang pengemis, ayah, dan anak, yang letaknya agak miring. Sambil memperbaiki letak lukisan, Bapak berkata:

+ Kau tahu, mengapa lukisan ini Bapak pasang di ruang makan ini?

Nggak!

+ Supaya Bapak waktu makan selalu ingat pada Tuhan yang memberi rezeki kepada Bapak dan selalu ingat rakyat Indonesia yang masih melarat karena neokolonialisme.”


Fragmen di atas terekam dalam esei Memperingati 1 dan 6 Juni: Bung Karno dalam buku “Esei-Esei Orang Republik” karya Y.B. Mangunwijaya. Dari situ dapat dilihat bagaimana Soekarno menjelaskan kepada Guntur Soekarnoputra mengapa ia memajang lukisan dua orang pengemis, ayah, dan anak di sebuah ruang makan.

Fakta bahwa Indonesia telah merdeka pasca proklamasi 1945 tidaklah tepat, mengingat dua tahun setelahnya Belanda datang kembali dalam sebuah Clash di Yogyakarta dan sekitarnya. Ditambah lagi, KMB baru mengakui secara internasional RIS tahun 1949 sebelum berganti pada 1950 menjadi RI.

Indonesia yang masih membangun dirinya menjadi sebuah negara merasakan betul rintangan yang terhampar. Seperti ketika Hatta mengundurkan diri dari jabatan sebagai wakil presiden pada 1956 akibat tak sejalannya prinsip dengan Soekarno yang sebetulnya telah menggejala sejak 1930-an.

Demokrasi terpimpin tampaknya menjadi upaya Soekarno untuk mengatasi beragam masalah di Indonesia seperti neo-kolonialisme. Gaya kepempimpinan otoriter ini akhirnya memenggal konsep dwitunggal yang membuat Hatta pergi.

Tak hanya itu, pasca peristiwa berdarah 1965, Soekarno terjerembab dalam semangat otoritarianisme yang diwarisi Soeharto, yang akan membuka babak pembangunan berdarah selama 32 tahun.

Padahal bangsa Indonesia pernah berada dalam situasi serupa itu ketika Belanda dan Jepang masuk, yang justru tak memberikan kesejahteraan selain kepatuhan karena rasa takut.

Padahal nilai-nilai dalam Pancasila sendiri ia gali dari kepribadian bangsa yang otentik yang tersintesa dengan rumusan dari Mohammad Yamin, dan Dr. Soepomo.

Soekarno juga mengatakan bahwa saripati terakhir Pancasila ialah Gotong Royong. “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘Gotong Royong’.”

Ilmu-Pengetahuan Lokal

Peradaban Nusantara banyak dibangun dalam dinamika spiritualisme. Ketika pengetahuan modern belum sekuat-semasif sekarang, penduduk Nusantara masih mengaitkan fenomena tak tertangkap indra dengan totem atau perkara mistik. Karenanya kemudian banyak bermunculan bentuk-bentuk pemujaan kepada alam dengan segala turunannya.

Mereka meyakini bahwa semua yang berasal dari alam akan kembali ke alam; bencana alam juga dapat diselesaikan dengan melibatkan alam. Maka dari itu dalam sebuah upacara adat sering disediakan hasil alam sebagai persembahan.

Di daerah Molo, NTT, terdapat sebuah marga yang punya kewajiban menjaga batu tertentu di alam tempat mereka tinggal. Kata ‘Batu’ sekaligus menjadi nama marga mereka. Karena itu, jika ada acara tertentu, mereka wajib menaruh sesaji pada batu di bukit yang dipercayai.

Pengetahuan lokal yang diturunkan oleh nenek-moyang banyak memuat ajaran kebajikan yang berlandaskan pada keseimbangan alam. Mereka mafhum bahwa alam harus dimanfaatkan sebaik dan seadil mungkin untuk kepentingan bersama.

Di desa Fatumnasi, NTT, mama-mama sedang memperjuangkan hutan mereka yang akan diambil alih oleh pemerintah untuk dijadikan hutan lindung atau hutan wisata. Penolakan oleh mama-mama terhadap hutan wisata tersebut mempunyai dasar kuat bahwa ketika hutan tersebut diambil alih oleh pemerintah, penduduk sekitar tidak akan lagi bisa masuk ke hutan.

Dua perkara di atas yaitu otoritarianisme dan privatisasi dapat menjangkiti mentalitas negara tak lepas dari peranan Belanda dan Jepang yang pernah menjajah Indonesia (baca: Hindia).

Tak ada upaya untuk menyalahkan, karena toh! mereka juga masuk akibat bantuan dari penduduk lokal atau golongan priyayi. Ditambah lagi, secara mentah dan grusa-grusu, Soeharto mengadopsi sistem politik Jepang, contohnya.

Diktator jebolan PETA itu, setelah mendepak Soekarno, mencoba meniru Japan Incorporated[1] versi zaman perang pasifik. Karenanya watak Soeharto yang feodal Jawa bercampur dengan fasisme Dai Nippon digunakan untuk menjalankan negara yang masih bayi secara semena-mena. Ia mencoba menciptakan pendisiplinan dan pelembagaan insan bumiputra atas nama pembangunan.

Coba cermati lembaga atau organisasi macam RT/RW yang mirip tonari-gumi; hansip, keibodan; pramuka, seinendan; dwifungsi sipil-militer, bakufu gunseikan; dan departemen penerangan persis seperti barisan propaganda Jepang/ sendenbu.

Sebenarnya dapat dipahami upaya Soeharto tersebut semata-mata untuk mengatasi dunia teknologi, industri, dan jejaring bisnis dan moneter berwatak neo-kolonialisme yang mulai merangsek masuk.

Tak salah memang. Jepang, pasca Hiroshima dan Nagasaki kejatuhan bom atom oleh AS, yang menjadi sebab percepatan Indonesia merdeka, terbukti mampu bangkit dan kini ia telah menjadi negara berdaulat bersanding dengan Tiongkok.

Jepang berhasil betul memadukan ilmu-pengetahuan Barat dengan ajaran konfusianisme dan Shinto tradisional. Mereka sama sekali tak kehilangan watak dan kepribadian lokal.

Indonesia sebenarnya tak kalah mampu dengan Jepang dalam hal membangun negara. Coba saja tilik perjuangan Mohammad Hatta yang sampai ke Rotterdam, Belanda pada 1922 untuk menuntut ilmu. Setelah menjadi pengurus PI di Belanda, Hatta mengubah arah perkumpulan pelajar Indonesia dari yang semula untuk memajukan kepentingan mereka dalam perkara studi, berubah menjadi gerakan sosial dan politik. Atau Soekarno, pada awal 1960-an, yang mengirim ribuan orang ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan dengan harapan, setelah kembali, dapat membangun bangsa dan negara.

Mentalitas masyarakat Indonesia tak jauh beda dengan Jepang dalam upaya membangun bangsa. Gagasan dan semangat Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka, serta pejuang lain yang diwarisi masyarakat kiwari dapat membuat Indonesia berdaulat.

Namun, kenyataannya selama 76 tahun Indonesia merdeka, kita tetap belum menyamai prestasi Jepang, yang dalam kurun 20 tahun melalui keiretsu-nya dapat menggeser posisi AS dalam dunia otomotif.

Pancasila dan Pengkhianatan

Soekarno dalam buku “Di bawah Bendera Revolusi jilid I” pernah mengatakan “… Saya sekadar penggali Panca Sila daripada bumi tanah air Indonesia ini… Malah pernah saya katakan, bahwa sebenarnya hasil, atau lebih tegas penggalian daripada Panca Sila ini, saudara-saudara, adalah pemberian Tuhan kepada saya…”

Tegas. Pancasila tidak datang dari ruang kosong ataupun rentetan kalimat yang dipaksakan maknanya. Sekali lagi, Pancasila telah ada dalam dinamika hidup masyarakat Indonesia dan ia mencuat untuk dirumuskan sebagai dasar untuk dikembalikan kepada masyarakat. Dan pondasi penggalian itu ialah ke-Tuhan(an) Yang Maha Esa, yang menjadi sila pertama daripada sila-sila lainnya.

Meski begitu kini nyatanya nilai-nilai Pancasila seperti diletakkan dalam etalase. Orang lalu-lalang hanya melihat dan jika ada kepentingan jahat ia singgah lalu menawar lantas membawa itu pulang untuk dirinya sendiri.

Nilai-nilai Pancasila dikomersilkan, persis seperti penyakit KKN yang mulai kelihatan ketika Orde Baru dan kini ia menggejala dalam kehidupan berbangsa-bernegara.

Sikap individualistis-kapitalis betul sudah menjangkiti masyarakat. Kalau itu sikap/ mentalitas dibiarkan menyebar, watak gotong royong akan memudar dan akhirnya lenyap. Padahal kata Soekarno itu adalah saripati Pancasila.

Perjuangan di era globalisasi memang tak kalah sulit (atau bisa dikatakan lebih sulit) dari zaman penjajahan. Musuh-musuh yang datang sublim dan berwatak imperialis-neokolonialis. Pantaslah jika pemerintah–kalau tak mau dikatakan sengaja–teperdaya olehnya. Karena itu dapat dipahami tindakan-tindakan kontra-Pancasila kerap diambil dalam mengatasi permasalahan negara-bangsa Indonesia.

Pantas juga mama-mama Fatumnasi, NTT bersikeras tak mau menyerahkan hutan (baca: rumah) mereka kepada pemerintah.

Apakah perlu juga sebagai pengingat, seperti Soekarno, untuk meletakkan lukisan dua orang pengemis, ayah, dan anak di ruang makan kita? Nah!

Berketuhanan, ya! Berkemanusiaan

Kearifan dan keberpihakan terhadap masyarakat pinggiran seakan hilang dari dinamika berbangsa-bernegara. Ia tak didasarkan lagi pada cita-cita luhur. Ia tak didasarkan pada ketuhanan.

Padahal Romo Y.B. Mangunwijaya menegaskan bahwa ber-Tuhan adalah sifat manusia. Karena manusia ciptaan Tuhan maka ia bernilai, karenanya tidak dapat direndahkan haknya.

Sedangkan banyak orang sedang memperjuangkan hak. Padahal hak tidak patut diperjuangkan. Ia ada untuk diberikan tanpa tedeng aling-aling.

Kesadaran ketuhanan itu lah yang menjadi dasar nilai untuk bertindak, bersikap, dan juga dasar nilai semua ilmu pengetahuan.

Sangat jelas terlihat bagaimana prinsip ketuhanan menjadi dasar menentukan arah kehidupan bangsa Indonesia.

Prinsip itulah yang menggerakkan Romo Mangun dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat miskin. Seperti ketika di kali Code, Grigak Gunung Kidul, dan di daerah sekitar waduk Kedungombo.

Berkaitan dengan prinsip tersebut, Romo Mangun sampai pernah mengkritik frater-frater di Seminari Kentungan karena mereka hidup dalam kondisi serba berkecukupan dan tak tahu-menahu permasalahan masyarakat miskin. Katanya, di Yogyakarta, mereka hanya tahu tiga tempat yaitu Panti Rapih, Kapel, dan Kampus.

Baik Soekarno ataupun Romo Mangunwijaya, mereka tahu betul bahwa ilmu yang didapat dengan kerja keras akan mempunyai daya fungsinya ketika berlandaskan ketuhanan. Ilmu tersebut akan mampu dioperasikan secara jitu kepada masyarakat yang miskin dan dipinggirkan oleh sistem dan kekuasaan.

Bukankah pada pembukaan UUD 1945 juga telah disampaikan bahwa melalui rahmat Allah yang Mahakuasa dan didorong oleh keinginan luhur, dalam upaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Tak adil lah jika kita berilmu namun mengebiri peran rahmat Allah. Romo Mangunwijaya saja pernah berujar, “Ini sesuai dengan jalan hidup saya, biasanya yang dianatomi adalah penjahat, atau jenazah gelandangan yang tak berkeluarga. Seperti Yesus mati bersama para penjahat dan orang miskin ketika disalib, saya pun ingin mati dengan cara mereka, meski tidak disalib.”

Persis. Sang burung manyar itu ingin menyerahkan jiwa-raganya bagi manusia. Ia berpesan bila meninggal dunia tidak ingin dikubur, tetapi raganya ingin diserahkan ke Fakultas Kedokteran UGM bagian anatomi.

Tak hanya gagasannya, jiwa-raga Romo Mangun secara utuh diberikan kepada masyarakat. Karena, seperti halnya Soekarno, ilmu dan hidup yang ia miliki diberi oleh Tuhan.



Catatan:

[1] Istilah Japan Incorporated dipakai Y.B. Mangunwijaya dalam esei Warisan Mental dan Praktek Fasis Pemerintahan dan Rekayasa Sosial Bala Tentara Jepang kepada Orde Baru.


Referensi

Buku:

Mangunwijaya, Y.B. Tumbal. 1994. Yogyakarta: Bentang Intervisi Utama, pt.

Mangunwijaya, Y.B. Esei-Esei Orang Republik. 1987. Jakarta: PT Midas Surya Grafindo.

Mangunwijaya, Y.B. Menuju Republik Indonesia Serikat. 1998. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Latif, Yudi. Negara Paripurna. 2011. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Sutrisno, Mudji. Sejarah Filsafat Nusantara: Alam Pikiran Indonesia. 2018. Yogyakarta: Galangpress.

Website:

https://langgar.co/nusantara-berkaca-priyayi-mandarin-dan-samurai/ Diakses pada 27 Oktober 2021. Pukul 23.54.

https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/09/150928_indonesia_lapsus_eksil_bui Diakses pada 28 Oktober 2021. Pukul 13.23.

#LombaBlogUnpar #BlogUnparPengabdian

Featured

‘Titik Didih Seni Rupa di Era New Normal’: Sebuah Ledakan Emosi atau Kompromitas?  

Dunia tampak lebih baik dan penuh warna di sepanjang tahun 2020. Segala kemalangan pupus. Virus mematikan lenyap. Orang-orang mulai tak gentar berinteraksi di tengah massa. Perekonomian kembali dengan pesat dan masyarakat kembali berdaya.

Begitulah sekilas terkaan terhadap karya Addy Debil dengan figur doodle bermata pejam miliknya dalam pameran tunggal ia bertajuk “Eyes Shut Fantasia”. Karakter yang ia ciptakan sejak 2011 tersebut merepresentasikan setengah perjalanan hidup manusia yang dilalui dengan mata terpejam yang dipandang jauh lebih indah dibanding realitas. Ruang hampa yang kemudian terbentuk dalam kegelapan ia isi dengan imaji-imaji warna-warni melalui figur-figur doodle dengan mata terpejam dengan bermacam ekspresi.

Terlepas dari itu, bagaimana relasi figur Debil yang dipenuhi kegembiraan dengan dinamika hidup ia sebagai seorang seniman di sepanjang 2020 dan semester pertama 2021. Apakah juga berjalan paralel dengan kehidupannya?

Pertaruhan di dunia seni rupa nyatanya membawa Addy Debil pada kemungkinan-kemungkinan yang tak ia duga sebelumnya.

Selepas virus lokal yang berepisentrum di Wuhan, Tiongkok mengubah dirinya menjadi virus global, pemerintah Indonesia lantas memberlakukan PSBB untuk seluruh wilayahnya pada Maret tahun lalu. Debil yang kala itu meneken kontrak dengan beberapa perusahaan dalam suatu kolaborasi seni rupa pada akhirnya pun lantak.

Dunia seni rupa memang menjadi salah satu bidang yang terdampak akibat pandemi Covid-19. Pakem konvensional seni rupa di Indonesia membuat seni rupa mengubah dirinya dan terpaksa kawin dengan dunia digital untuk dapat tetap survive. Meski tidak semua perupa mau melakukannya.

Hafez Gumay, Koordinator Advokasi Koalisi Seni, mengacu pada data Koalisi Seni per 3 April 2020 mengatakan terdapat 181 acara seni yang ditunda atau dibatalkan akibat Covid-19 yaitu 21 proses produksi, rilis, dan festival film, 98 konser, tur, dan festival musik, 1 acara sastra, 18 pameran seni rupa, 9 pertunjukan tari dan 34 pentas teater, pantomim, wayang, boneka, dan dongeng.

Sudah setahun lebih sejak data tersebut rilis. Ketika Indonesia memasuki era new normal sejak pemberlakuannya secara berkala dalam 4 fase pada 1 Juni 2020, bagaimana kemudian nasib dunia seni yang sempat ambruk?

Hibriditas Seni Rupa dan Pemberontakan

Selain Addy Debil, juga terdapat dua seniman muda yang sedang menghelat pameran tunggal yaitu Ummi Shabrina dan Bernandi Desanda. Mereka bekerja sama dengan Kohesi Initiative, sebuah galeri seni junior dari grup Srisasanti Syndicate, yang terletak di Tirtodipuran Link, jalan Tirtodipuran No. 50, Yogyakarta.

Kohesi Initiative hadir sebagai tempat untuk mewadahi seniman muda berkarya. Pameran tunggal mereka yanng masih akan berlangsung sampai dengan 6 Juni 2021 sejak pembukaannya bulan lalu, menjadi gelagat seniman muda yang tidak dapat membendung gairah dalam berkarya. Mereka mendobrak kebuntuan dan pembatasan akibat ketakmenentuan situasi bangsa.

Yogyakarta sebagai kota dengan konsentrasi seni rupa terbesar di Indonesia mulai menghidupkan kembali gairah seni rupa yang dibuktikan dengan tak sedikitnya perhelatan pameran seni rupa. Salah satunya dapat dilihat melalui Kohesi Initiative.

Festival Seni yang disebut paling besar se-Asia, Art Jog, pun pada tahun ini akan tetap digelar dengan segala risiko yang ada.

Ketika dihubungi pada, Selasa (01/06/2021) Heri Pemad, pendiri Art Jog, mengatakan dalam pertemuannya melalui video conference, zoom, dengan [Mantan] Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama serta Direktur Jenderal Kebudayaan Indonesia, Hilmar Farid tahun lalu, bahwa ia akan tetap membuat sebuah karya berupa event. Khususnya di bidang seni rupa. Meski ketika itu Covid-19 sedang marak-maraknya menginfeksi masyarakat secara brutal.

Ia menegaskan bahwa, “…bukan karena saya melawan kondisi,” kata Heri, “akan tetapi saya akan berusaha bersahabat dengan pandemi”.

Dan memang benar pernyataan Heri Pemad tersebut. Art Jog bertajuk ‘Resilience’ sukses digelar pada 8 Agustus – 10 Oktober 2020 dengan mengadopsi sistem hibrid (offline dan online).

Meski begitu, tak mudah bagi Heri mengadakan Art Jog di situasi pandemi meski memasuki kebijakan new normal. Sama seperti pelaku seni lain, ia harus mencoba segala kemungkinan yang dapat diterapkan pada Art Jog. Berulang kali ia meyakinkan manajemen miliknya dan para seniman bahwa Art Jog tetap akan digelar. Heri pun kemudian meminta crew Pemad Manajemen untuk tetap berpikir dalam upaya menyiasati pandemi.

Heri meyakinkan bahwa Art Jog akan menjadi pilot project di wilayah seni rupa sekaligus pelopor pemulihan ekonomi di wilayah seni dan kreatif di era pandemi.

Pria yang mendapat julukan ‘pemad’, sekaligus ketua Joga Festival tersebut tidak membiarkan harapannya tenggelam begitu saja dalam pandemi. Ia membiarkan harapan di dadanya tetap berdetak sama seperti Addy Debil.

Debil yang mengawali kesenimannya dari seorang street art artist di Bandung ini memberontak untuk menyiasati pandemi dengan sebuah karya baru kolaborasi bersama kawannnya yang seorang cheff bertajuk SOON. Sebuah fusion antara food and beverage (F&B) dengan seni ala Debil.

Tidak sampai di situ, Debil yang setelah projek kolaborasi awal tahun gagal dihantam pandemi kemudian menemukan suaka lain bersama perusahaan penyedia layanan telekomunikasi, Smartfren, dalam projek kolaborasi bertajuk “The Unlimited Story of Indonesian Netijen”.

Projek tersebut menjadi bukti bagaimana harapan dan usahanya dapat mendobrak batas ruang dan waktu yang dianggap mustahil oleh kebanyakan orang di situasi pandemi.

Kenormalan baru justru semakin membuktikan sekaligus menegaskan bahwa ekosistem seni rupa tidak dapat menolak pemisahan tradisional antara apresiator dan objek seni.

Debil menyadari hal itu jauh sebelum memasuki era kenormalan baru. Ia membuat karyanya tidak hanya dapat diapresiasi di ruang tertutup seperti galeri namun ia membiarkan karyanya bergerak di ruang-ruang yang dapat dijamah oleh tiap elemen masyarakat.

Seni Rupa Sebagai Medium Pemulihan

“Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara”.

Begitulah kata Semar, tokoh pewayangan yang bijaksana, yang mempunyai arti harus dan wajib hukumnya mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan, serta membuang jauh sifat angkara murka, serakah, dan tamak.

Aforisme tersebut sangat terasa menggema seperti Gong di tengah-tengah masyarakat di situasi pandemi.

Ketika bangsa Indonesia memasuki situasi normal yang benar-benar baru setelah setahun dihantam tak bersisa oleh Covid-19, masyarakat tentulah belajar banyak atasnya. Solidaritas antarelemen masyarakat tak dapat ditampik. Ia menjamur di ruang-ruang yang tak terjamah dunia maya.

Fenomena sosial-budaya yang terjadi di masyarakat dan berubah menjadi kegelisahan menjadi salah satu penggerak seniman untuk mencipta dan menandai zaman dengan suatu karya. Karena itulah istilah kenormalan baru hanya digunakan untuk menandai dinamika masyarakat yang berjalan beriringan dengan pandemi seolah sesuatu yang normal. Bukan untuk seni rupa itu sendiri.

Tengoklah karya Debil yang berjudul Upside Down yang menyiratkan sebuah pesan betapa masyarakat remukakibat Covid-19. Tak hanya Debil dan seniman lain, teman-teman Debil pun terkenda imbas pandemi. Hal tersebutlah yang kemudian coba ia suarakan melalui lukisannya tersebut.

“Jadi [lukisan] itu aku bikin karena sepanjang tahun 2020 banyak orang di sekelilingku tak sedikit usahanya yang tumbang. Benar-benar dalam kurun waktu yang sebentar dan berlangsung begitu cepat,” kata Debil.

Guru Besar ISI Yogyakarta, Profesor M. Dwi Marianto mengatakan bahwa selain perihal ekonomi, seni rupa secara simbolik dapat menjadi sarana untuk menjaga nyala api dan menggerakkan masyarakat agar tetap optimis terhadap kehidupan dengan cara mengubah mindset.

Lebih lanjut, pria yang sekaligus pengamat seni tersebut menyampaikan bahwa seni tidak dapat dilepaskan dari kehidupan. Menurut ia seni harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Pernyataan Dwi Marianto tersebut selaras dengan pernyataan Ratri Ninditya, Koordinator Peneliti Kebijakan Seni dan Budaya, Koalisi Seni, dalam tulisannya berjudul “Membayangkan Ekosistem Seni Pascapandemi”.

Ninditya mengatakan bahwa transformasi relasi antarpihak dalam ekosistem kesenian perlu dipandang secara holistik lebih dari sekadar transaksi ekonomi. Dengan itu, cita-cita ekosistem seni yang sehat dapat terwujud sebagai lebih dari sekadar keberdayaan ekonomi, tetapi juga kepekaan daya refleksi kritis dari pengalaman hidup yang terus berubah.

Ketika era kenormalan baru masih menyisakan residu negatif akibat hantaman virus, seni rupa salah satunya, mampu membantu masyarakat pulih secara psikis. Dengan begitu mental masyarakat kemudian akan bertumbuh dengan positif dan kuat. Masyarakat lalu dapat kembali tampil untuk sampai pada kebahagiaan dan kesejahteraan. Persis seperti yang dikatakan tokoh pewayangan, Semar di atas.

Sinyal tersebut ternyata ditangkap baik oleh perupa Sohieb Toyaroja yang sedang menggelar pameran di Jogja Gallery. Kali ini Sohieb mengangkat tema “Semar Ngruwat Jagad”. Ia mencoba menyampaikan ajaran Semar secara tersirat melalui lukisan-lukisannya.

Dari situ semakin mengafirmasi peran seni rupa sebagai sebuah representasi ledakan emosi seniman. Ledakan emosi tersebut menular menjadi solidaritas nasional bahkan internasional. Seniman akan terus bergerak di tengah era kenormalan baru. Seperti kata Heri Pemad, bahwa tidak ada istilah seniman itu mati.

Ia selalu meyakini kekuatan seni rupa untuk menandai zaman sebagai arsip ingatan kolektif.

Baik Heri Pemad ataupun Addy Debil, mereka sama-sama memberontak terhadap pasung kreatifitas. Pandemi justru membawa mereka pada jalan lain dalam menyiasati Covid-19. Melalui karyanya masing-masing, mereka menandai sebuah zaman ketika dunia luluh-lantak akibat coronavirus.

Mereka menyadari sejak awal bahwa seni (termasuk di dalamnya seni rupa) akan selalu bergerak. Ninditya mengasosiasikannya dengan jaringan rizomatik yang terus bergerak dan saling terhubung satu dengan yang lainnya sebagai sebuah fenomena sosial-budaya.

Karena itu upaya kompromi terhadap kenormalan baru merupakan daya seni rupa untuk mendobrak kebuntuan dan membalikkan situasi dari kerentanan ke situasi yang lebih baik. Seperti halnya Debil yang melalui karyanya Upside Down mengatakan bahwa pencarian kebahagiaan untuk menghindari kesedihan sudah seperti roda kehidupan yang selalu berputar.

Membangun Budaya Membaca! [Menemukan Akar Masalah hingga 8 Langkah Ampuh yang Wajib Diketahui]

Perempuan pembaca buku
Pengunjung Perpustakaan Grhatama Pustaka Sedang Membaca Buku

Membangun budaya membaca tidaklah sulit meski tidak mudah juga. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menumbuhkan budaya tersebut; apalagi untuk kita yang jauh dari kata mudah dalam mengakses bahan bacaan atau kultur membaca.

Tapi tenang, artikel kali ini akan mengupas budaya membaca dan rintangannya sampai ke akar serta akan memberimu langkah jitu untuk membangun budaya membaca. Check it out!

Budaya Membaca dan Tantangannya

Otak kita memang lebih suka menangkap sesuatu hal yang berpola, runtut, dan menyenangkan mata. Seperti ketika kita datang di pameran lukis, kita cenderung hanya melihat karyanya saja tanpa peduli dengan keterangan tertulis (caption) yang biasa menyertai sebuah karya.

Hal itu terjadi karena kita sering menganggap hasil akhir lebih penting daripada proses. Dalam hal ini proses membaca. Rentetan kata yang terangkai menjadi kalimat lalu menjadi paragraf dan terakhir wacana membutuhkan kesabaran dan ketenangan untuk memahaminya. Baru setelah selesai membaca kita menjadi tahu makna yang terkandung.

Nah, salah satu faktor yang menjadi hulu dari masalah ketidaksabaran tersebut ialah banjir informasi di media sosial kita. Tak heran jika banyak orang mudah terseret arus hoaks.

Contoh lain adalah ketika kamu berhadapan dengan komik. Bisa dihitung berapa banyak orang yang membaca [untuk memahami] kalimat pada text box dalam panel komik dibanding dengan mereka yang hanya melakukan scanning (baca cepat).

Sebuah pertanyaan kemudian bisa kita munculkan, “Budaya membaca itu membaca apa dan yang seperti apa? Bukankah membaca kalimat larangan juga termasuk membaca?”

Istilah membaca memang luas. Suatu fenomena yang terjadi di masyarakat pun menjadi objek yang bisa kita baca yang kemudian menghasilkan kesimpulan.

Terlepas dari luasnya istilah membaca, pada artikel kali ini, pembahasan membangun budaya membaca hanya terbatas pada sebuah kegiatan melihat, mengucap, dan memahami suatu wacana tertulis baik berupa artikel maupun buku.

Koleksi buku
Ruang Koleksi Lantai 1 Grhatama Pustaka

Sebelum kita bisa membaca fenomena yang lebih luas, kita perlu mengisi diri kita dengan pengetahuan. Salah satu sumber pengetahuan ialah bacaan.

Ketika kita bisa membaca suatu fenomena dengan jernih dan jeli, kita tidak akan kesulitan dalam mengatasi permasalah dalam hidup yang datang silih-berganti. Karenanya, membangun budaya membaca menjadi suatu hal yang penting untuk kita miliki. Karena dari sanalah pintu kesuksesan juga akan terbuka lebar.

Delapan Langkah Membangun Budaya Membaca

Nah, tanpa perlu mengikuti kelas terapi membangun budaya membaca yang bertebaran di internet, berikut langkah ampuh, taktis, dan aplikatif buat kamu yang mau mulai membangun budaya membaca!

  • Kenali Diri Sendiri

Yes! Kamu tidak salah baca. Mengenal diri sendiri menjadi langkah pertama yang wajib kamu lakukan. Hal ini memang klise dan menimbulkan kesan, “itu lagi-itu lagi”. Namun demikian, perkara mengenal diri sendiri akan menjadi tali pengikat konsistensimu dalam proses membaca. Apalagi jika yang kamu baca adalah buku dengan jumlah halaman yang tidak sedikit yang rawan membuatmu bosan.

Bukan hanya membosankan tapi kemungkinan besar kamu akan enggan menyentuhnya sejak mengetahui jumlah halaman tersebut. Belum mulai membaca tapi udah merasa berat buat membuka lembar pertama, bukankah ini menjadi ganjalan utama untukmu dalam membangun budaya membaca?

Solusinya, kamu bisa melakukan journaling untuk membantumu mengenali diri sendiri. Beberapa pertanyaan yang bisa menjadi pemantik, antara lain seperti:

  1. Mengapa aku tidak suka membaca?
  2. Mengapa ketika melihat buku, aku membayangkan suatu hal yang rumit dan menyebalkan?
  3. Kenapa aku harus membaca buku?
  4. Apakah budaya membaca buku penting buat masa depanku?
  5. Apa yang aku inginkan dalam hidup ini?
  6. Apa tujuanku membaca buku?

Setelah kamu merasa cukup dalam proses mengenal diri sendiri, kamu bisa bergerak ke langkah ke dua.

  • Ubah Mindset

Percaya atau tidak, beberapa orang merasa terkuras energinya dan merasa stress ketika melihat sebuah buku yang harus ia baca. Hal ini bisa kita sebut dengan istilah psikosomatis. Sebuah istilah yang merujuk pada efek yang terjadi pada tubuh yang disebabkan oleh pikiran.

Mindset menjadi ganjalan lain dalam membangun budaya membaca. Kalaupun kita berhasil membaca sebuah buku hingga tuntas, bisa dipastikan tidak akan maksimal dalam memahami bacaan tersebut.

Hal tersebut begitu beralasan karena mindset-mu selalu menginterupsi tiap kali kamu membaca kalimat. Berbeda jika mindset-mu telah berganti dalam keadaan siap dalam  proses membaca. Bukan tak mungkin kamu justru akan menghabiskan waktu yang lebih lama dalam membaca karena kamu menikmati itu.

  • Temukan Bacaan Ringan

Nah! Sebelum kamu mulai dengan bacaan yang full dengan kalimat dan perlu pemahaman yang mendalam, kamu sebaiknya mulai dengan artikel ringan yang bisa dibaca sekali duduk atau buku bergambar.

Kamu bisa membaca cerpen atau komik. Mulailah dengan dua bacaan tersebut dulu. Setelah kamu bisa konsisten membaca tiap hari selama sebulan, kamu bisa bergeser ke buku-buku pengetahuan. Intinya kamu menemukan bacaan yang mampu membuatmu jatuh hati sehingga ketika membaca, kamu tidak merasa terbebani.

Jika kamu telah membaca buku dan tidak sadar bahwa kamu telah mencapai lembar terakhir, itu artinya kamu menikmati bacaanmu. Carilah bacaan-bacaan sejenis agar kamu tetap mau membaca.

  • Buat Dirimu Terpapar Bacaan

Anak yang dibesarkan dengan orang tua penulis akan tumbuh dengan kultur membaca yang kuat dibanding dengan anak yang dibesarkan di keluarga petani yang jauh dari bacaan.

Pernyataan di atas memberikan sebuah kesimpulan bahwa seseorang perlu dekat dengan bahan bacaan. Dengan segala hal yang ada kaitan dengan buku atau literasi.            

Jika kamu bukan seorang anak yang berasal dari keluarga atau lingkungan dengan kultur membaca, kamu bisa kok memanipulasi lingkungan sekitarmu agar mendekatkanmu dengan bacaan.                                 

Sebagai contoh adalah kamu bisa memajang buku-buku di ruang-ruang yang sering kamu lalui seperti di ruang tamu, ruang makan, dan kamar tidur. Bahkan, Dian Sastrowardoyo meletakkan buku di toilet rumah. Apakah itu sebuah kebetulan belaka? Tentu tidak.             

Rak Buku Perpustakaan
Rak Buku Samping Customer Service Perpustakaan Grhatama Pustaka

Sesering mungkin kita terpapar bacaan, makin mudah kita untuk membangun budaya membaca. Otak kita butuh pembiasaan. Ia suka hal-hal yang berpola dan konstan.            

Cara lain yang juga efektif adalah pasang poster-poster penulis atau kutipan kalimat sebuah buku. Perhatikan saja kalau kamu main ke toko buku, kamu akan menemukan di berbagai dinding macam-macam poster. Mulai dari poster penulis sampai poster yang hanya berisi sebuah kutipan buku.                                                                                                         

Hal di atas selain digunakan untuk membangun imajinasi pengunjung juga berguna memprovokasi mereka agar mau membaca. Nah, hal ini akan kita bahas pada langkah ke lima.

  • Carilah Provokator

Ketika dalam proses membaca kita tiba-tiba kehilangan gairah, kita bisa mendongkraknya dengan sebuah pemantik. Persis seperti sebuah arang yang mulai meredup, kita tentu perlu mengipasnya agar ia tetap membara.

Hal ini wajar dalam membaca karena melibatkan energi kita. Ketika kita lelah, baik otak maupun fisik, mood yang tadinya membara pelan-pelan meredup. Solusinya selain istirahat ialah diri kita butuh diprovokasi.

Kamu bisa mendengarkan ulasan buku tersebut dalam bentuk audio atau video. Dengan mendengar dan melihat, kita akan menyerap ekspresi dan emosi pengulas. Sehingga gairah untuk melanjutkan proses membaca membara kembali.

Di sisi lain, kamu bisa menghadiri acara bedah buku tersebut. Mendiskusikan buku bersama pembaca lain akan membuka celah-celah menarik yang mungkin relate dengan apa yang terjadi dalam hidupmu. Alhasil, kamu bahkan akan membacanya secara lebih kritis karena kamu butuh jawaban atas sesuatu yang terjadi dalam hidupmu.

Kalau kedua hal di atas tidak bisa kamu dapatkan, jangan kecewa karena kamu masih punya dirimu sendiri. Memprovokasi diri sendiri. Pemantiknya adalah hasilmu mengenali diri sendiri. Inilah pentingnya mengenal diri sendiri sebelum mulai membangun budaya membaca.

  • Gunakan Prinsip 20 X 15

Dalam proses membaca, kita akan merasa pikiran penuh. Hal ini wajar saja karena kita berusaha memahami bacaan. Jika kita tetap memaksa membaca dengan kondisi pikiran yang penuh kemungkinan besar kita akan skip beberapa hal yang tentu berhubungan satu dengan lainnya. Dan, jika hal tersebut terjadi kita akan bingung karena ada sesuatu yang putus dalam proses memahami bacaan.

Di sinilah kamu perlu mengambil jeda per 20 menit membaca. Kamu bisa beristirahat selama 15 menit sebelum melanjutkan proses membaca. Selama 15 menit istirahat kamu tidak boleh sama sekali membuka media sosial. Hal itu akan menjadi hambatan besar untuk seseorang yang baru awal dalam membangun budaya membaca.

Kamu bisa mengendapkan apa yang telah kamu baca lalu menulis poin-poin penting di kertas. Intinya adalah pikiranmu wajib istirahat hingga terasa ringan dan plong agar kamu bisa melanjutkan membaca.

  • Matikan Handphone mu

Berkomitmenlah ketika membaca buku bahwa kamu sama sekali tidak akan membuka handphone. Kamu bisa membuat target perhari dalam membaca dan pada akhir proses membaca, kamu baru boleh memegang handphone.

Sebagai contoh, per hari kamu harus menyelesaikan lima puluh halaman. Setelah selesai lima puluh halaman pertama barulah kamu boleh memegang handphone.

Jika ingin lebih ekstrem, letakkan handphone dan segala pernak-pernik milikmu di tempat terpisah dari tempatmu membaca sehingga kamu bisa lebih fokus pada satu bacaan.

  • Bacalah di Tempat Tenang

Proses dan cara orang membaca berbeda-beda. Ada yang harus di tengah keramaian dengan tak seorang pun dikenal atau di tempat sepi dan sunyi. Hal ini lagi-lagi berkaitan dengan hasilmu dalam mengenal diri sendiri

Jika kamu seorang yang lebih suka membaca di tempat sunyi, ya jangan berusaha menantang dirimu membaca di keramaian seperti di kafe. Mungkin bisa, tapi setelah kamu establish dalam membangun budaya membaca.

Sekarang kamu tahu bahwa ada beberapa langkah yang bisa dipakai untuk membangun budaya membaca. Hal tersebut tentu akan benar-benar berdampak jika kamu menjalankan dengan kesungguhan hati.

Maka dari itu lah langkah pertama membangun budaya membaca dibuka dengan “mengenal diri sendiri” karena hasil dari pengenalan diri sendiri akan membantu tiap detik ketika kita sedang dalam proses membaca.

Pengunjung Perpustakaan
Dua orang sedang membaca (kiri) dan seseorang sedang mencari buku (tengah)

Kamu tak perlu khawatir, jika memang ada niat untuk membangun budaya membaca, pasti selalu ada jalan. Yang perlu kamu ketahui adalah bukan hanya kamu yang struggle dalam membangun budaya membaca. Ribuan orang juga mengalami hal sama.

Jatuh-bangun, trial-error selalu menjadi bagian dari hidup manusia. Begitupun dalam membaca. Satu hal yang perlu kamu pastikan adalah kamu tidak berhenti. Jangan pernah berhenti untuk membaca walaupun satu paragraf. Dari langkah kecil itu, harapanmu untuk merengkuh budaya membaca akan tercapai.

Ketika kamu mencapai itu, kamu akan menemukan sesuatu yang luar biasa. Sebuah kekuatan yang selama ini kamu butuhkan untuk bergerak di tengah kepungan dunia yang tanpa sekat dan di tengah banjir arus informasi. Sesudah itu, pintu kesuksesan pun akan terbuka lebar-lebar.

Mengenal Minimalism: Mulai dari Lintasan Sejarah hingga Manfaatnya

Sebagai manusia, kita sepakat bahwa selalu ada kekurangan pada diri sendiri. Manusia tak pernah sempurna. Ia selalu mempunyai celah dan tak jarang berbuat kesalahan.

Perkara di atas penting untuk disadari bahwa kekurangan tak bisa kita pandang sebelah mata sebagai yang tak berguna dan perlu ditutupi.

Bagaimanapun juga, celah-celah itu lah yang membuat manusia lengkap. Sebuah celah yang menyimpan daya kekuatan yang jarang manusia ketahui untuk dapat digunakan.

Dengan begitu, sesorang akan berkembang lebih jauh seturut dengan tujuan hidupnya. Dalam satu tarikan nafas, kita bisa merumuskan hal di atas dalam satu kalimat, “Less is More”.

Ketika kamu berjalan-jalan di galeri atau pameran lukisan, tak jarang kamu melihat sebuah lukisan yang hanya terdiri dari sapuan sederhana kuas. Atau lihat saja lukisan Barnett Newman berjudul “Anna’s Light” 1968 dengan media kanvas 274 X 609 cm yang penuh dengan warna merah.

Orang yang sekilas melihatnya mungkin akan berpikir bahwa tak ada yang istimewa dari lukisan itu. Namun, ketika melihatnya secara tenang dan intim, orang-orang merasakan kehangatan, sekaligus kemegahan yang mengerikan.

Lukisan tersebut pun terjual dengan harga 105.9 juta USD. Padahal lukisan tersebut begitu minimalis, tak sekompleks lukisan para pelukis yang menganut aliran realism.

Mengenal Minimalism dari Barat

Awal konsep minimalis tersebut muncul pada tahun 1800-1850 di Amerika. Ada sebuah anggapan ketika itu bahwa wawasan dan pencerahan dapat diperoleh melalui kesederhanaan. Meski memang tak muncul istilah minimalis ketika itu untuk merumuskan gagasan kesederhanaan.

Konsep tersebut mengalami ekpsansi ketika sekelompok seniman pada 1960an menentang aturan baku yang pucat dan tawar untuk seni murni. Dari sinilah kemudian bidang-bidang seperti: kepenulisan, arsitektur, desain dan kreatif mengadopsi gaya minimalis. Akhirnya konsep tersebut diadopsi untuk sebuah gaya hidup hingga sekarang.

Mengenal Minimalism dari Indonesia

Apabila yang kita baca pada beberapa paragraf di atas menerangkan konsep minimalis dari Barat, sekarang mari kita lihat konsep tersebut di bumi Indonesia.

Sebagai negara dunia ketiga, Indonesia dipandang sebagai negara yang tak maju dan irrasional. Alasan ini lah yang membawa negara Barat datang untuk menjajah guna memberadabkan Indonesia.

Padahal kita mengenal arsitektur termaju seperti yang diterapkan pada candi-candi di Indonesia seperti Candi Borobudur.

Irrasionalitas yang dipandang Barat sebagai sesuatu yang rendah nyatanya menjadi pegangan masyarakat Indonesia agar dapat hidup dengan bahagia. Hal tersebut tercermin dari praktik penghayat kepercayaan yang menempatkan alam sebagai pusat.

Di tanah Jawa sendiri kita mengenal istilah “Nerimo Ing Pandume Gusti” yang berarti menerima apa yang Tuhan telah berikan. Ungkapan tersebut menyiratkan gaya hidup sederhana dan secukupnya. Tak berlebih dan tak rakus.

Kita memang tak mengenal apa itu minimalism. Tapi dengan apa yang telah masyarakat Indonesia lakukan, sejatinya kita telah melakukan apa yang terumuskan dalam konsep minimalism.

Memakai pakaian yang ada tanpa perlu membeli lebih banyak, memiliki pola pikir yang berorientasi pada nilai fungsional dan kualitas daripada kuantitas, menggunakan benda-benda yang recycleable menjadi sesuatu yang telah nenek moyang kita terapkan.

Lihat saja berbagai perkakas yang terbuat dari bahan alam seperti: celengan dari bambu, rumah dengan material kayu atau bambu yang dominan, bakiak, bahkan kain jarik yang sama menjadi pakaian sehari-hari.

Bukankah hal di atas merupakan esensi dari gaya hidup minimalis?

Mengenal Minimalism dari Jepang

Masih di wilayah Asia, Jepang telah menerapkan konsep minimalis jauh sebelum Barat. Mungkin saja Jepang yang mempengaruhi gerakan minimalis di Barat setelah mereka membuka diri terhadap dunia luar.

Kita bisa melihat gaya hidup tersebut dari konsep Zen Budhism mereka. Zen ini menekankan praktik meditasi untuk mengenal kodrat diri. Ia bukan aliran agama namun masih bagian dari agama Budha. Sebuah pencerahan yang manusia usahakan melalui diri sendiri dengan alam sebagai pusat.

Hal-hal yang bisa kita amati menggunakan indera adalah tempat meditasi yang mereka bangun dengan minimalis, atau upacara minum teh a la Jepang yang ringkas dan penuh gerakan terukur juga pelan.

Bergeser ke seni kaligrafi Jepang, kita sering melihat lingkaran hasil sapuan kuas. Lingkaran yang bernama ensō ini mengacu pada pikiran yang bebas tanpa hambatan. Beberapa praktisi Zen menghubungkan gagasan itu dengan wabi-sabi, keindahan ketidaksempurnaan. Persis seperti konsep “Less is More”.

Manfaat Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Inti dari gaya hidup minimalis adalah memaksimalkan barang-barang tanpa perlu membeli atau menambah kuantitasnya sehingga kita akan lebih produktif dan berkembang. Kita juga akan lebih tenang karena kita hanya fokus pada satu-dua hal saja.

Arus globalisasi yang begitu cepat tak bisa menyetir kita untuk mengikutinya. Kecepatan yang bahkan manusia sendiri tak bisa ikuti.

Ketika kita memaksa mengikuti, dampaknya tentu akan terjadi kelelahan atau burnout. Jika hal ini berkelanjutan, akan terjadi ketidakstabilan emosi pada diri kita. Perkara ini justru berbahaya bagi hidup sehari-hari.

Di lain sisi, dengan gaya hidup minimalis, kita tak akan berlomba-lomba menimbun barang. Tak akan ada lagi persaingan dengan orang lain atau pengguna media sosial untuk lebih eksis dan trendi yang sering ditentukan oleh kepemilikan barang tertentu seperti pakaian.

Arus informasi media sosial menawarkan banyak hal hingga kita kebingungan dan mau tak mau menjadi kalap dan mengikuti semua yang ada di dalamnya.

Dengan konsep minimalis kita diajak untuk benar-benar memikirkan tujuan hidup. Apakah hidup seseorang bisa disetir oleh informasi di media sosial. Apakah dengan mengikuti tren merupakan kunci kebahagiaan.

Ternyata diri manusia terjebak oleh ilusi yang membuat seseorang rela mengorbankan waktu berjam-jam menatap layar handphone. Ilusi tersebut membawa kita dalam persaingan komoditi. Membentuk kita menjadi bagian dari masyarakat konsumerisme. Psikologis kita pun menjadi tak stabil.

Dengan melambat dan menakar ulang hidup, kita menjadi tahu kebutuhan dalam hidup sehari-hari. Ketika kita dapat mengontrol emosi konsumeris, kita dapat hidup lebih tenang. Apa yang kita lakukan menjadi maksimal dan produktif.

Kendati demikian, kita tak perlu hingga menerapkan gaya hidup minimalis secara ekstrem. Maksudnya, jangan sampai gaya hidup tersebut justru menyusahkanmu.

Sebagai contoh, kamu berusaha mengurangi barang-barang di rumah ke tingkat yang paling minim. Sehingga rumahmu hampir menjadi rumah kosong tanpa barang.

Pada dasarnya konsep ini mencoba memberikan penawar agar kita tak larut dalam aktifitas membeli dan menumpuk barang yang tak berguna atau esensial bagi kita.

Dengan begitu, gaya hidup ini akan benar-benar membuat kita lebih produktif dan powerful. Fokus kita akan lebih terarah pada satu-dua hal dengan memaksimalkan apa yang kita punya tanpa perlu repot-repot membeli barang yang tak kita butuhkan.

Kita mungkin saja akan merasa senang jika membeli banyak barang, namun hal itu tak akan bertahan begitu lama. Ia semacam ilusi yang hanya memberikan kesenangan sesaat.

Karena itu mengenal minimalism menjadi langkah awal bagi praktik kehidupan yang bahagia.

Semakin kita mengenal lebih dalam, kita akan menjadi lebih terarah dan tak impulsif. Pandangan kita akan berubah dari yang tadinya suka membeli barang tanpa tujuan dengan dalih kesenangan sesaat menjadi berfokus pada nilai fungsionalitas dan kualitas.

Pada akhirnya, kebahagiaan yang lebih long-last dapat kita rengkuh dan mengisi aktifitas sehari-hari.

Menyingkap Simbol Peradaban Masa Lalu

Pameran Asana Bina Seni yang kembali dihelat kini telah sampai pada hari terakhir pameran digital sejak dibuka pada 25 Juli lalu. Program milik Yayasan Biennale Yogyakarta tersebut sejak pembukaannya dapat juga dikunjungi secara daring di Taman Budaya Yogyakarta namun telah berakhir pada  4 Agustus lalu.

Melalui Asana Bina Seni, Yayasan Biennale Yogyakarta ingin mendukung terciptanya ekosistem seni rupa yang berkelanjutan di Yogyakarta. Gagasan tersebut di atas dimulai dari visi Yayasan Biennale Yogyakarta untuk berkontribusi dalam proses pendidikan seni, selain juga melalui penyelenggaraan pameran Biennale Jogja dan Simposium Khatulistiwa.

Asana Bina Seni, sebagai pra Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 menghadirkan sebelas karya seni dari tujuh seniman dan empat kolektif dengan diikat pada satu payung MANTRA yang berarti tawaran ritual untuk bersama menjadi doa demi kebaikan semua manusia.

Tema yang diangkat para seniman di Asana Bina Seni kali ini mencakup lokalitas, lingkungan, identitas dan tubuh, serta fragmentasi sosial. Dua diantara peserta ialah Radeh Kukuh Hermadi dengan karya berjudul Matinya Tanah Firdaus, dan kolektif Proyek Benggala yang menggali kontekstualitas makna sebuah pacul.

Raden Kukuh mencoba merekonstruksi narasi yang hilang di daerah tempat ia tinggal, Gunung Kidul. Rekonstruksi tersebut menyasar pada proses deforestation dan desertification yang berpuncak pada zaman gaber beriringan dengan serangan hama tikus tahun 1960an.

Ketertarikan Kukuh pada hilangnya narasi di Gunung Kidul dimulai pada awal 2020 ketika ia membaca catatan seorang Geolog bernama Franz Wilhelm Junghuhn dalam buku Pulung Gantung karya Darmaningtyas. Junghuhn mengatakan bahwa Gunung Kidul pada tahun 1800 merupakan daerah indah, lebat, hijau. Ia sampai-sampai menjulukinya dengan Tanah Firdaus. Padahal pasca masa kemerdekaan daerah Gunung Kidul justru dikenal sebagai daerah gersang dan gundul. Dari sinilah kemudian Kukuh berupaya untuk mengungkap hilangnya narasi tersebut melalui karyanya.

Tak jauh beda dengan Kukuh melalui Matinya Tanah Firdaus, Proyek Benggala mencoba menggali historisitas pacul sebagai artefak yang terus digunakan sampai saat ini. Fenomena tersebut beririsan dengan tradisi lisan dan representasi simbolik di dalam budaya agraria hingga menyasar pada ideologi dan politik kekuasaan.

Proyek interdisipliner yang digarap oleh Racmhad Afandi, Adnan Aditya, Adhi Pandoyo, dan Awalludin M mengungkap sisa peninggalan Sunan Kalijaga yang bertumpu pada pacul sebagai artefak.

Upaya merepresentasi pacul melalui karya seni, pertama kali tercetus oleh Awalludin M (Cak Udin). Cak Udin, yang juga ketua Lesbumi, mengatakan bahwa Sunan Kalijaga pernah memberi wejangan kepada Ki Ageng Selo terkait pacul. Wejangan tersebut merujuk pada anatomi pacul dan filosofi atas kehidupan manusia.

Pacul terdiri dari tiga bagian dengan makna yang berbeda. Pertama, bagian paling tajam atau pacul berarti Ngipatake barang kang Muncul (Membuang barang yang mendugul atau tidak rata). Maknanya adalah manusia harus selalu berbuat baik dengan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak rata, seperti ego dan sifat jelek lain. Kedua, lingakaran tempat kayu atau Bawak berarti Obahing Awak (Bergeraknya tubuh). Maknanya adalah manusia hidup diwajibkan berikhtiar mencari rezeki dari Gusti Allah guna memenuhi kebutuhan hidup disamping menyembah-Nya. Ketiga, batang kayu sebagai pegangan atau Doran berarti Donga Marang Pangeran (Berdoa kepada Gusti Allah). Maknanya adalah manusia harus senantiasa ingat dan menyembah Gusti Allah.

Pada Matinya Tanah Firdaus, kita dapat melihat Radeh Kukuh Hermadi menggantung sembilan karung goni yang telah dipotong menjadi persegi panjang. Di muka karung goni terdapat sebuah gambar yang merepresentasikan Gunung Kidul tahun 1960. Dua karung paling depan merupakan gambar seorang simbok-simbok; bagian kanan membawa kelapa dan beras sebagai representasi Gunung Kidul di tahun 1800 sebagai daerah hijau yang masih mampu menghasilkan banyak hal, sedangkan bagian kiri membawa olan-olan (semacam ulat sagu yang hidup di akar pohon).

Pada slide kedua kanan terdapat gambar bunga jati, ketiga adalah kayu jati dan mahoni, lalu industri arang rumahan, gubuk kecil dengan asap membubung. Pada bagian tengah, karung goni diberi warna hitam sebagai transisi ke sisi sebelah kiri. Setelahnya adalah peristiwa penyerangan tikus-tikus yang berpuncak pada zaman gaber. Simbok pembawa olan-olan merepresentasikan konsumsi makanan kebun atau alas pada 1800 sebagai pengganti protein.

Dengan dikelilingi karung goni pada bagian inti-tengah terdapat sebuah kotak di atas meja berisi banyak arang dan satu sketsa hamparan alam hijau berbukit yang merepresentasikan Gunung Kidul tahun 1800an.

Arang tersebut menjadi jawaban penduduk Gunung Kidul atas eksploitasi hutan oleh pemerintah Hindia-Belanda dan Keraton yang membuat tanah luruh menyisakan batuan kapur yang tidak dapat diolah.

Pada artikel dalam jurnal Lembaran Sejarah berjudul Pengelolaan Hutan Jati di Afdeeling Gunung Kidul 1846-1933 terbitan 2001 dipaparkan bahwa Keraton Yogyakarta membutuhkan banyak kayu jati untuk keperluan pembangunan Pasanggrahan Ambarukmo di Gowok.

Kala itu keraton masih sangat mempercayai aturan adat dan kepercayaan Jawa dalam pemilihan kayu jati yang baik. Menurut adat dan kepercayaan Jawa, pohon jati apabila dijadikan bahan bangunan rumah akan berpengaruh terhadap kehidupan orang yang tinggal di dalamnya. Dari situlah pembangunan tersebut justru dinilai sebagai suatu pemborosan.

Kebutuhan kayu bakar bagi pabrik gula dan arak kala itu pun didorong oleh pemerintah kolonial yang berakibat pada gundulnya hutan-hutan.

Penduduk Gunung Kidul yang kala itu menanggung akibat dari gundulnya hutan kemudian menyiasati dengan industri arang rumahan agar bertahan hidup. Kukuh bercerita bahwa penduduk Gunung Kidul kala itu kesulitan bercocok-tanam. Padi yang ditanam setahun sekali membuat mereka menyiasati dengan menanam tanaman lain seperti kacang-kacangan.

Kayu sebagai bahan baku pembuatan arang penduduk ambil dari milik pemerintah Hindia-Belanda. Dengan kata lain penduduk Gunung Kidul menggarong kayu glondongan setelah kayu tersebut dihanyutkan ke sungai (baca: pengiriman kayu kuno).

Kukuh juga menambahkan audio hasil wawancara ia dengan penduduk desa Wonolagi, Gunung Kidul yang dimixing dengan audio narasinya yang menceritakan hilangnya narasi Gunung Kidul tahun 1800 sebagai daerah hijau. Audio tersebut menambah kesan murung dan gelap pada Matinya Tanah Firdaus.

Berbeda dengan Kukuh, Proyek Benggala menciptakan sebuah ruang yang dapat diterka sebagai sebuah mushola kecil. Mereka menyebutnya dengan multishola. Di tengah-tengah terdapat karpet merah dengan di atasnya bagian tepi terdapat sembilan penutup kepala seperti blangkon, iket, dan topi fedora. Sedangkan di bagian bawah pojok kiri-kanan terdapat kain hijau dan putih. Barulah tepat di inti karpet diletakkan empat cangkul yang disusun terbalik saling memunggungi sehingga menyerupai tatakan Al-Qur’an. Di tengah titik perpotongan empat pacul berdiri sebuah senthir dan menggantung sebuah tasbih.

Empat pacul tersebut didapat dari tempat yang berbeda-beda begitupun dengan jenisnya. Dari empat pacul tersebut, hanya satu yang merupakan pacul wejangan Sunan Kalijaga. Tiga pacul lain merupakan pacul modern. Perbedaannya terletak pada bagian plat atau pacul. Plat pada pacul modern biasanya dapat dilepas-pasang. Semacam bagian plat paling tajam tidak terhubung langsung dengan Bawak. Sedangkan plat pada pacul versi wejangaan Sunan Kalijaga langsung terhubung dengan Bawak tanpa sambungan.

Adnan dan Rachmad mengatakan bahwa ketika membicarakan pacul tak terlepas dari syair Gundul-Gundul Pacul. Syair yang telah ada sejak tahun 1400 itu ditulis dan dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga.

Pacul secara filosofi membicarakan hubungan dan pekerjaan manusia dengan Gusti Allah. Manusia dituntut untuk berilmu, bekerja yang bermanfaat, lalu menjadi seorang manusia utuh, setelahnya manusia akan menjadi pemimpin. Namun, ketika manusia yang telah memiliki pacul lalu ia justru gembelengan atau sombong dan ceroboh dia akan jatuh. Kalau dia jatuh, semua akan jatuh. Karenanya syair Gundul-gundul pacul merupakan nasihat oleh sang Wali kepada pemimpin (baca: pemimpin Jawa) untuk mengutamakan kesejahteraan rakyat.  Berikut syair dari Gundhul-gundhul Pacul.

Gundhul gundhul pacul cul

gembèlengan

Nyunggi nyunggi wakul kul

gembèlengan

Wakul ngglimpang segané dadi sak latar

Wakul ngglimpang segané dadi sak latar

Gundul gundul cangkul, sembrono

Membawa bakul (di atas kepala) dengan sembrono

Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman

Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman.

Selain Sunan Kalijaga yang memberi simbolisasi pada pacul, Soekarno ketika kolonialisme berakhir menggunakan moment tersebut sebagi dalih pemberian makna lain pada pacul. Pacul merepresentasikan semangat revolusioner, kepribadian, dan kemajuan. Pembangunan Semesta Nasional Berencana pada 1 Januari 1961 pun juga dimulai dengan upacara pengayunan pacul oleh Soekarno.

Gambar pacul pun juga terdapat pada sajadah di bagian mihrab multishola milik Proyek Benggala. Dua pacul berhadapan seolah membentuk segitiga berlatar belakang pemandangan alam dengan sebuah gunung dan diatas sajadah tersebut terletak sebuah blangkon. Pada dinding mihrab atas menggantung sebuah cermin bulat yang dapat ditafsir sebagai simbol dari kolektif Benggala.

***

Terdapat titik kesamaan antara karya Proyek Benggala dengan Matinya Tanah Firdaus. Mereka sama-sama menggali historisitas sebuah benda atau tempat yang terikat sebuah mikro-makro-kosmos.

Pacul sebagai sebuah artefak yang menjadi simbol atas peradaban masa lalu mencerminkan sebuah laku manusia agar selalu ingat kepada Gusti Allah. Sebuah perjuangan untuk selalu mengusahakan hidup yang baik melalui pekerjaan tercermin dalam entitas pacul.

Begitupun dengan Matinya Tanah Firdaus yang memproyeksikan laku eksploitatif manusia yang diganjar dengan zaman gaber berbarengan dengan serangan hama tikus. Hanya karung goni, peninggalan pemerintah Hindia-Belanda yang kala itu menjadi pelindung diri dari serangan tikus-tikus. Gunung Kidul pun kemudian tiba pada zaman nir-kehidupan ketika Indonesia justru telah merdeka.

Baik pacul, karung goni, dan arang merupakan artefak yang dilekati simbol-simbol peradaban masa lalu. Artefak itu mengartikulasikan sebuah pesan penting terkait kesatuan alam, manusia, dan Gusti Allah. Ia memberi pesan pada manusia modern untuk menjaga kesatuan dengan tidak merusak alam, tindak menafikan peran Gusti Allah, dan tetap menjadi pribadi yang tak gembelengan. Ia tak dapat dicerai menjadi bagian tersendiri melainkan satu. Ketunggalan yang satu atau Tritunggal.

Indonesia Pasca-Pandemi dan Resilience

Indonesia bukanlah kanvas kosong yang hanya bisa dilukis oleh segelintir orang. Bukan pula ruang-ruang berbatas yang terisolasi. Indonesia ibarat tembok penuh coretan warna yang sesiapapun boleh menggoreskan kuasnya dan tak ada satu atau segelintir orang dapat menghapus atau memprivatisasinya.

Tak dapat disangkal bahwa bangsa Indonesia ada karena kesatuan atas keberagaman. Bangsa multikultur seolah kodrat untuk Indonesia.

Sebelum Indonesia lahir, ketika Nusantara masih dikuasai kerajaan-kerajaan, banyak suku-bangsa lain berdatangan sekadar untuk berdagang. Bersama perdagangan itu pula budaya dan sistem kepercayaan luar masuk dan berasimilasi dan/atau berakulturasi.

Tak pelak kemudian bangsa Indonesia punya beragam tradisi dengan kearifan lokal di tiap daerah di Indonesia. Salah satu kearifan lokal yang ada ialah membasuh anggota tubuh melalui gentong air (biasa terletak di samping sumur) atau Padasan.

Sumur masyarakat (terkhusus Jawa) pada masa-masa pra-kolonialisme lebih banyak terletak di luar rumah. Di sampingnya biasa terdapat gentong berisi air yang digunakan untuk mencuci kaki-tangan sebelum masuk rumah.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, masyarakat ketika itu masih banyak yang berprofesi sebagai petani. Ketika ingin memasuki rumah, petani yang tak akan jauh dari lumpur atau kotoran yang melekat, terlebih dahulu membersihkannya menggunakan air yang berasal dari gentong.

Kepercayaan masyarakat Jawa tentang lelembut atau roh/entitas kasat mata juga berkaitan dengan kearifan lokal tersebut. Lelembut dipercaya dapat menempel di tubuh manusia atau istilahnya sawanen. Salah satu cara mengusirnya adalah dengan membersihkan tubuh menggunakan air. Karena itu, gentong berisi air selalu diletakkan di luar rumah untuk membersihkan (minimal) kaki-tangan setelah keluar rumah.

Clifford Geertz, dalam bukunya Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi, mengungkap bahwa lelembut selalu masuk ke dalam tubuh dari bawah, melalui kaki. Hal ini masuk akal ketika masyarakat mempunyai budaya mencuci kaki sebelum masuk rumah melalui padasan.

Jika melihat dari sudut pandang ilmiah, membasuh anggota badan dengan air sebelum masuk rumah dapat mencegah virus menular penyebab penyakit menjangkiti manusia.

Budaya tersebut punya kaitan erat dengan pandemi Covid-19 saat ini. Sebelum vaksin macam Sinovac dan/atau AstraZeneca diciptakan, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyarankan setiap orang mencuci tangan (dengan sabun). Tangan menjadi sarana paling mudah menularkan corona virus desease karena orang kerap tak sadar mengusapkan tangan ke daerah wajah. Padahal virus tersebut mudah masuk melalui hidung dan mulut.

Virus barangkali menjadi alasan utama masyarakat Jawa mempunyai kearifan lokal cuci kaki-tangan sebelum masuk rumah melalui gentong.

Sebelum Clifford Geertz melakukan penelitan di daerah Mojokuto, Jawa Timur, yang menghasilkan karya masyur “Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi”, Hindia-Belanda telah mengalami epidemi dalam skup lokal dan regional. Salah satunya dalam kasus penyakit cacar.

Penyakit cacar menjadi penyebab kematian terbanyak di Jawa sampai pada awal abad ke-20. Layaknya vaksinasi Covid-19, vaksinasi cacar pun dilakukan dalam mencegah penyebaran penyakit. Meski setelah itu tidak ada usaha lain untuk mengembangkan pemeliharaan kesehatan masyarakat di Jawa.

Jurnal Humaniora edisi 3 Oktober 2006 memuat sebuah artikel berjudul “Dari Mantri Hingga Dokter Jawa: Studi Kebijakan Pemerintahan Kolonial Dalam Penanganan Penyakit Cacar di Jawa Abad XIX – XX”. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa pihak yang mempunyai peranan besar dalam proses vaksinasi cacar di wilayah Jawa adalah para mantri dan dokter djawa sebagai dokter pembantu.

Mereka dapat mudah masuk ke tengah-tengah masyarakat melalui pendekatan kultural dan kedekatan emosional. Proses ini tampaknya menjadi kesempatan transfer pengetahuan mengenai penyakit kepada masyarakat.

Bisa jadi pembuatan sumur di luar rumah dan penggunaan gentong air merupakan residu dari proses transfer pengetahuan tersebut.

Nahas, ketika modernisasi masuk ke Hindia-Belanda, Indonesia perlahan kehilangan piranti tersebut. PAM telah menggantikan sumur dan akibatnya gentong air pun kehilangan tempatnya. Hal tersebut diperparah dengan hotel-hotel yang menyedot air tanah sehingga membuat masyarakat di sekitarnya kehilangan sumber air.

Padasan atau gentong tanah liat berisi air akhirnya kembali mengingatkan masyarakat saat ini dengan kearifan lokal yang telah lama ditinggalkan.

Masyarakat kembali timbul kesadaran untuk menyediakan sarana cuci kaki-tangan di depan rumah. Meski kini bukan lagi menggunakan gentong melainkan kran air. Atau apapun itu asal dapat menampung air untuk membasuh kaki-tangan agar bersih dari Covid-19.

Sebenarnya, masyarakat Indonesia telah mempunyai sistem antisipasi penyebaran virus macam Covid-19 jauh sebelum kolonialisme masuk. Pengetahuan dan pengobatan alam yang dimiliki suku-suku di Nusantara sedikit banyak telah mengurangi tingkat mortalitas dan meningkatkan taraf kehidupan.

Kita bisa melihat masyarakat adat Sunda di wilayah kabupaten Lebak, Banten yang sering disebut orang Kanekes atau suku Baduy dalam menerapkan tradisi masuk ke hutan bagi orang Rimba, dan menetap dalam kurun waktu tertentu serta melarang orang asing masuk yang disebut besesandingon.

Tradisi tersebut bukankah mirip dengan karantina wilayah yang dilakukan pemerintah?

Di lain sisi, mengutip dari laman projectmultatuli.org bahwa ketika Covid-19 merebak, masyarakat Baduy Luar mempunyai inisiatif menjaga perbatasan, serta membikin aliran air di sekitar luar kawasan Baduy yang ditujukan untuk mencegah orang-orang masuk sembarangan.

Hasilnya adalah tak ditemukan satupun kasus yang melibatkan Covid-19 sejak awal penyebarannya di Indonesia.

Membayangkan Indonesia pasca-pandemi tentu tak sekalut itu meski juga tak mudah (seperti) membangun perekonomian yang sempat sekarat.

Nyatanya dari dua contoh tradisi di atas yaitu padasan dan besesandingon, gotong-royong masyarakat menjadi kekuatan besar dalam menghadapi permasalah seperti pandemi Covid-19.

Andai pandemi ini pergi, masyarakat kiwari (tanpa melepas peranan negara) telah mempunyai kekuatan yang berasal dari pengetahuan dalam menanggulangi bencana alam dan non-alam.

Soekarno, dalam pidatonya 1 Juni 1945, pernah mengatakan, “… Kita mendirikan Negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemiko yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan Negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!”

Ungkapan Soekarno tersebut tampak jelas tidak lahir dari kekosongan. Gotong royong menjadi saripati terakhir dari Pancasila.

Ketika pemerintah mengumumkan bahwa Covid-19 telah masuk di Indonesia, ketika itu pula banyak orang membentuk kelompok untuk membantu penanganan Covid-19.

Kita bisa melihat beberapa di antaranya yaitu Solidaritas Pangan Jogja (SPJ), Solidaritas Sosial Bandung, serta Food Not Bomb.

Bukan hanya itu, banyak juga media daring yang mendedikasikan platform mereka untuk mempublikasikan informasi apapun tentang solidaritas atau penjualan oksigen seperti yang dilakukan sudutkantin.com.

Iklim gotong royong di ruang digital akan menjadi budaya pasca-pandemi. Hal ini, sekali lagi, dapat dibaca bahwa embrio bangsa Indonesia ialah Gotong Royong.

Meski globalisasi – kalau tidak bisa dibilang westernisasi – mempengaruhi dinamika gotong royong di masyarakat, yang sedikit banyak telah pudar, namun di ruang lain macam ruang maya, gotong royong ternyata justru ada dan bahkan tumbuh subur seperti yang dapat kita lihat secara jelas ketika pandemi.

Karenanya kemudian, andai pandemi pergi, kita bisa berbangga dan optimis bahwa masyarakat Indonesia telah jauh lebih kuat.

Namun kita tentu juga harus berhati-hati sebab nilai gotong royong tersebut bisa benar-benar memudar dan akhirnya lenyap kalau kita tidak mengembangkan diri dan hanya berbangga dengan pengetahuan yang ada.

Kita tahu ruang digital menjadi arena pertarungan wacana. Banyak pihak terlibat di dalamnya. Di antara mereka mungkin punya sifat antagonisme atas semangat gotong royong. Kalau tidak hati-hati, kita akan jadi bagian dari aktor politik penyebab segregasi sosial radikal. Dari situ sentimen antarkelompok dapat meningkat drastis.

Kalau itu yang terjadi, bayangan Indonesia pasca-pandemi, akan benar-benar kalut. Tembok yang awalnya penuh warna akan menjadi satu warna ‘merah’ padam dan orang tak akan bisa menggoreskan kuas di atasnya.

Post-Truth dan Konglomerasi Media

“I believe therefore I’m right!”

Satire dari kredo René Descartes, I think therefore I’m, di atas menandai sebuah era baru bernama post-truth.

Istilah post-truth mencuat drastis ketika Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) pada 2016 dan Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat di tahun yang sama.

Statistik kamus Oxford bahkan merekam penggunaan kata post-truth di tahun 2016 meningkat 2000 persen bila dibandingkan 2015 dan menjadikan kata post-truth sebagai “Word of the Year”.

Penghargaan tersebut sekilas tampak optimis-positivis. Padahal jika kata post-truth di-sigi, dapatlah diketahui makna sebenarnya justru penuh hasutan, pesimistis, dan intrik.

Istilah Post-Truth, menurut McIntyre, sebetulnya lahir dari keprihatinan orang-orang yang penuh perhatian terhadap konsep kebenaran dan merasa bahwa kebenaran sedang diserang dan dilecehkan.[1]

Meski demikian post-truth tidak identik dengan kebohongan. Ia mencakup “ketidaktahuan yang disengaja” tapi disebarkan, falsifikasi data, dan berbohong yang melibatkan diri sendiri.

Persoalan tersebut menjadi perkara serius karena jaringan internet telah menghubungan tiap segi kehidupan masyarakat di dunia melalui sarana media sosial secara masif.

Jauh sebelum penetrasi internet semasif sekarang, media massa selalu dijadikan rujukan memeriksa fakta atau menghimpun informasi. Situasi tersebut terdepresiasi ketika internet makin masuk dan tumbuh kuat; media sosial bermunculan. Orang-orang, kemudian, menjadi bebas menyebarkan informasi; melangkahi verifikasi data secara ketat seperti yang dilakukan media massa.

Gelontoran informasi itu menyesakkan ruang-ruang maya sebagai arena pertarungan wacana. Pengguna akhirnya hanyut ke dalam banjir informasi. Akibatnya pengguna kesulitan membedakan opini dan fakta.

Hal tersebut diperparah adanya fitur bubble yang menghuni media sosial kita. Fitur tersebut memasukkan pengguna dalam satu ruang yang diisi dengan narasi serupa. Para pengguna se-ideologi akan ditempatkan pada satu aliran dan ruang yang sama. Dari situ muncul efek echo-chamber atau ruang gema.

Situasi di atas membuat rasio kita berangsur terkikis. Musababnya ialah kita tidak dihadapkan dengan narasi lain sebagai pembanding atas narasi penghuni ruang gema. Keyakinan kita makin menguat atas dasar hasrat atau perasaan emosional semata. Karenanya ketika dihadapkan dengan data valid dan/atau sumber objektif, kita akan cenderung menolak. Inilah yang menjadi tantangan terbesar media massa saat ini dan dekade-dekade mendatang.

Satu hal yang pasti adalah era post-truthtidak dapat dihindari. Karena hal tersebut berkaitan dengan jaringan maha luas yang menyeret berbagai pihak dan bidang atas dasar kepentingan kelompok atau individu tertentu.

Sebagai contoh ialah konglomerasi dan konsentrasi media di Indonesia. Merlyna Lim mengatakan, “Selama bertahun-tahun, media Indonesia ‘kembali berbisnis’. Kepentingan korporasi mengambil alih dan terus mendominasi lanskap media Indonesia.”[2] Mereka didorong oleh “kepentingan kapitalis” untuk memperluas platform.

Harry Tanoesoedibjo, pemilik perusahaan Global Media Com, menguasai anak perusahaan MNC, dengan stasiun televisi utama andalan MNC, Global, dan RCTI, di samping kepemilikan atas Koran Sindo; (Media Daring) Okezone, Sindonews; (Stasiun Radio) Tirjaya FM, ARH Global Radio Dangdut.[3]

Ketua umum Partai Perindo tersebut hanya satu di antara beberapa orang yang menguasai industri media.

Fakta tersebut membuktikan landskap media secara pasti melangkah ke arah oligopolistik. Ditambah lagi konsentrasi industri media besar berada di Jakarta. Hal ini rentan akan kepentingan. Karena kebanyakan pemilik media menganggap merger antarplatform menjadi solusi atas situasi serba cepat. Demikianlah multiplatform industri media kontemporer berkembang.

Selain di Indonesia, kita bisa melihat peristiwa Black September. Pasca kejadian yang menimpa menara kembar WTC, pemerintah Amerika Serikat kerap memanfaatkan dan mengeksploitasi media massa untuk kepentingan dan tujuan peribadi.

Televisi berita CNN, dalam pemberitaan, kerap menggunakan pilihan kata yang menempatkan tentara Amerika pada posisi positif dan Irak pada posisi negatif. Seperti pada oposisi biner (+) pahlawan >< teroris (-). Wacana dominan CNN perlahan ditelan mentah oleh publik. Karenanya ketika Al-Jazira muncul pada 1996, dunia tersentak. Mereka menawarkan perspektif lain dalam pemberitaanya, yang cenderung melawan wacana dominan CNN (Amerika).

Peristiwa di atas justru membangun iklim yang baik. Terdapat wacana tandingan yang memberi perspektif lain. Ketika diversifikasi konten tercapai, masyarakat akan lebih kritis dan tak mudah jatuh dalam era post-truth.

Fenomena post-truthmemang muncul akibat kepentingan segelintir orang atau konglomerat atas dorongan kapitalisme. Cukup sulit memang, karena yang sedang terjadi adalah pertarungan simbolik demi kekuasaan simbolik. Pertarungan tersebut laten. Untuk membongkar perlu pisau analisis tajam.

Dengan minimnya literasi media, masyarakat akan sulit mengatasi itu. Karenanya media massa punya tugas berat sebagai gatekeeper nalar kritis dan kesadaran masyarakat.

Rujukan

Tapsel, Ross. 2018. Kuasa Media di Indonesia. Tangerang Selatan: Marjin Kiri.

Haryatmoko. “Mencari Kebijakan di Era Post-Truth: Menghadapi Hoaks, Emosi Sosial, dan Populisme Agama.” Dalam Majalah BASIS Nomor. 05 – 06,  2019, hlm. 28-37.

Rusdiarti, Suma Riella. “Bahasa, Pertarungan Simbolik dan Kekuasaan.” Dalam Majalah BASIS Nomor. 11 – 12, 2003, hlm. 31-40.

Redaksi. https://www.remotivi.or.id/kabar/345/selamat-datang-di-era-post-truth. Diakses: 21/9/2021, 19:03.

https://languages.oup.com/word-of-the-year/2016/ Diakses: 21/9/2021, 19:03.


Seribu Rapalan di Jantung Samas

Rujito, seorang konservator berada di selasar rumahnya di daerah Sanden, Samas (Sabtu, 14/08/2021).

“Itu kita potong-kita sembelih, tetapi pada waktu menyembelih kita harus membaca rapalan. Sebelum kita buang ke laut kepalanya, kita buka mulutnya, kita sumbat pakai padi-padian atau kacang-kacangan,” aku Rujito. Ia lantas menghisap rokok yang sempat terhenti karena ajuan pertanyaan saya. “Kalau tidak kami lakukan seperti itu, dengan menyumbat menggunakan padi atau kacang-kacangan, nanti ombak laut akan naik, banyak bencana, masyarakat ada yang sakit,” katanya dengan nada lirih.  

***

Bagian paling selatan pulau Jawa masih menyimpan banyak enigma kisah yang jarang terkuak dan mencuat ke jagad maya. Kisah-kisah itu mengalir deras pada tiap nadi penduduk Samas.

Matahari di barat langit secara perlahan menghilang dibalik kepulan awan hitam. Mengubah kehidupan dalam terang ke kegelapan malam.

Bau amis itu makin menjadi menyeruak masuk ke dalam hidung. Pohon-pohon cemara mulai terlihat seperti siluet. Deburan ombak pantai Samas meraung-raung ditelan adzan Isya.

Dari selatan seorang pria berumur 60 tahun berjalan sambil menuntun anak kecil masuk ke dalam rumah bercat biru. Tinggi ia di atas rata-rata penduduk Samas. Sekitar 180 cm. Tulang tangannya besar, begitupun bagian kaki. Penduduk Samas memanggilnya dengan Rujito, seorang konservator sejak tahun 2000.

Di depan rumah Rujito terhampar perlengkapan nelayan seperti jaring, pelampung, dan styrofoam box yang barangkali dipakai sebagai penyimpanan ikan. “Memang saya akui, dulu saya adalah pemburu,” kata Rujito tegas.  

Rujito terekam dalam dalam sejarah sebagai seorang yang giat dalam laku konservasi penyu. Ia kadang sampai harus mengeluarkan uang untuk membiayai laku konservasi. Kini bersama komunitas reISPIRASI, Rujito dapat menghirup nafas lebih panjang lantaran kerja penyelamatan penyu ia lakukan secara bersama-sama.

Tak dinyana, Rujito dulunya merupakan seorang yang gemar berkelahi dan suka memburu penyu untuk dikonsumsi. Ia percaya bahwa daging penyu punya khasiat tersendiri bagi tubuhnya.

Kami berbincang di atas amben menghadap ke timur di depan selasar rumah Rujito. Di atas kami bulan separoh terlihat bersinar dan sesekali tersapu daun cemara. “Sesudah diberi sosialisasi dan pembinaan dari dinas kelautan dan perikanan, saya akhirnya sadar akan pelestarian penyu,” pungkas Rujito. “Sampai sekarang pun saya masih menjadi penyelamat penyu, tidak pernah ada kata pensiun.”

Rujito memang tak kenal lelah. Di samping kegiatannya bertani, ia masih tetap memberikan atensi lebih pada penyu. Ia mengaku pada awal-awal konservasi, hanya Rujito yang bergerak dalam penyelamatan penyu, khususnya di wilayah pantai selatan. “Kan dulu itu baru [wilayah] Samas. Lalu [seiring berjalannya waktu] banyak yang mengikuti di pantai lain bagian selatan seperti Goa Cemara, Mina Bahari, Trisik, dan Kuwaru.”

Waktu, tenaga, dan pengeluaran yang tak sedikit membuat beberapa dari usaha penyelamatan penyu di wilayah macet. “Dia (konservator wilayah lain) kemudian mengikuti apa yang saya lakukan. Sampai sekarang ada yang masih berjalan, ada yang macet, bahkan ada yang tidak berjalan. Kalau saya tidak muluk-muluk yang penting aktif selalu berperan tiap harinya melakukan usaha-usaha konservasi.”

Rumah Rujto terlihat dari bibir pantai. Foto Andreas Pramono

Rumah Rujito berdiri di padukuhan Ngepet, Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, RT 64 sekaligus RT terakhir yang letaknya 100 meter dari pesisir menghadap langsung ke samudera hindia. Lahan tempat Rujito mendirikan rumah dan lahan dimana ia biasa bertani berstatus Sultan Ground (SG).

Tanah yang ada di kalurahan Srigading paling besar digunakan untuk sawah dan ladang seluas 432,8250  Ha. Penggunaan terluas kedua 210,4000 Ha diperuntukkan bagi pemukiman. Jalan menyita 71,3000 Ha, bangunan umum seluas 3,1512 Ha, pekuburan seluas 3,3233 Ha dan pengunaaan lain-lain seluas 36,6005 Ha.

Rujito bersama anak lelakinya mendapat bagian lahan untuk mereka olah. “Kemarin baru aja panen brambang (bawang merah).” Lahan ia tidak jauh dari rumah. Sekitar 250 meter ke utara.

Di malam hari, tak banyak penduduk beraktivitas. Di samping kiri-kanan rumah Rujito beberapa orang terlihat duduk bersantai di selasar dengan hanya diterangi lampu kecil 30 watt berwarna putih menyala. “Itu tanah dikapling-kapling gitu. Tanah SG-tanah Keraton buat saya kelola bareng anak. Hasilnya buat kami sendiri.”

Sultan ground merupakan istilah khusus yang biasa digunakan untuk menyebut tanah-tanah milik keraton Yogyakarta yang sebelumnya merupakan bekas tanah Swapraja setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 dalam Hukum Tanah Nasional.

Lahan tempat biasa Rujito melakukan kegiatan penetasan telur penyu berada di barat daya rumahnya sekitar 50 meter. Tempat seluas 290 m2 itu selain digunakan sebagai tempat penetasan sekaligus menjadi basecamp reISPIRASI, juga tempat pengkondisian tukik sebelum dilepas di laut Samas. Di dalam basecamp terdapat setidaknya 15 buis beton sebagai tempat penetasan. Penggunaan buis beton dilakukan sebagai upaya menghindarkan telur dari predator seperti anjing, burung camar, dan tikus.

Bangunan tempat penangkaran penyu. Foto Andreas Pramono

Tentu wilayah konservasi tersebut tidak terbatas pada kolam maupun basecamp penetasan. Persisnya titik konservasi dimulai dari mercusuar di pantai Pandansari sampai di ujung potongan sungai opak di bagian timur.

Penyu yang mendarat di pantai selatan biasanya bertelur di sepanjang garis pantai dan kebanyakan titik penyu bertelur ada di daerah timur sebelum potongan sungai opak.

Sekalipun telah mendapat sosialisasi dan pembinaan terkait penyu, nyatanya masih terdapat penduduk yang menjual telur penyu.

Rujito mengaku kesadaran dalam upaya penyelamatan penyu masih nimim di daerahnya. Banyak penduduk yang mencari telur penyu hanya untuk ditukarkan dengan uang. Rujito dan Deni, pendiri reISPIRASI kerap menebus telur yang penduduk temukan. Per telur setidaknya mereka harus mengeluarkan Rp 2.000. Meski begitu tidak semua penduduk mencari telur untuk dijual. Beberapa orang justru memberikan telur kepada Rujito untuk ditetaskan. “Memang ada yang peduli tapi tidak semuanya,” aku Ruijto.

Wilayah seluas lebih-kurang 9 Ha yang menjadi daerah konservasi akan diajukan ke Keraton untuk mendapat kekancingan. Luasan tersebut belum mencakup bagian pesisir dan ke arah timur sungai opak. Untuk mengancing wilayah seluas lebih dari 10 hektar tersebut tentu ada syarat yang tak mudah untuk dipenuhi seperti wajib bebas dari pemukiman, lalu pedagang pinggir pantai juga harus direlokasi, ditambah lagi Jeep wisata yang kerap masuk dalam radius konservasi menjadi persoalan tersendiri.

Rumah Rujto terlihat dari bibir pantai. Foto Andreas Pramono

Peta wilayah konservasi yang akan diajukan kekancingan ke Keraton.

Pengajuan penggunaan lahan sebagai wilayah konservasi di pantai selatan harus mengacu pada Peraturan Gubernur DIY Nomor 49 Tahun 2018 tentang Prosedur Permohonan Pemanfaatan Tanah Kasultanan dan Tanah Kadipaten.   

Sejak awal Rujito menerima pembinaan, wilayah Samas telah dirancang menjadi wahana wisata pendidikan. “Itu yang membuat saya tertarik. Menurut saya pendidikan adalah masa depan kita. Biar pun saya pribadi tidak bisa menyekolahkan anak saya seperti harapan saya. Tapi saya ikut andil mengabdikan diri sebagai pelestari bagi pendidikan anak sampai saat ini,” kata Rujito dengan bangga.

Tahun 2007 Rujito pernah menerima tamu mahasiswi dari UNY yang berniat melakukan riset terkait penyu. “Dia mengadakan penelitian selama 6 bulan. [Seingat saya] namanya Dewik, Danti, dan Nurul.”

Suatu waktu, Rujito pernah mendapati seorang penduduk menjual telur. Ia lantas memberitahu tindakan itu pada dinas kelautan dan perikanan. Namun ia tak merasa puas dengan penanganan yang dilakukan. Rujito mengaku bahwa penyelesaian tersebut tidak bisa semudah itu lewat jalur damai. “Saya tidak puas dengan penyidik. Itu kan ada aturan denda. Tapi kok cuma tanda tangan saja. Katanya sih mitra. Besok kalau memang penanganan tetap seperti itu berarti UU tidak berjalan. Kalau itu melanggar UU ya, harus ditindak secara hukum.”

Pada tahun yang sama, dalam upaya penyelamatan penyu, Rujito dibantu oleh komunitas rumah hijau. Pasca rumah hijau berhenti memberikan bantuan, Deni yang nantinya membentuk reISPIRASI lah yang membantu Rujito sampai saat ini. “Tanpa bantuan Mas Deni saya kurang gerak, Mas.”

Rujito mempunyai strategi lain dalam upaya konservasi yang ia lakukan. “Dari dulu saya gabung dengan masyarakat setempat dan nelayan, saya tidak lepas dari mereka karena semua lingkup di wilayah Samas ini harus kita rangkul biar menyatu.” Ketika ia mendapat ilmu terkait pelestarian penyu, Rujito tidak tanggung-tangung untuk membagikannya dengan penduduk. “Waktu pertemuan Jumat Kliwon, saya ikut gabung di pertemuan warga itu. Nah, dari situ materi yang saya dapat dari dinas kemudian saya floor-kan. Soalnya kan kalau mengadakan pertemuan sendiri pasti mengeluarkan biaya,” kata Rujito sambil tertawa kecil.

Selain ilmu dari dinas kelautan dan perikanan, Rujito mempunyai ilmu titen yang digunakan untuk mengetahui masa penyu akan naik ke permukaan dan bertelur di pantai selatan. “Faktor bulan bisa menjadi penentu, sedangkan jam-waktu itu tidak bisa, lalu feeling atau naluri memberi tahu. Umpamanya air laut ada perubahan, boleh dikatakan bau amis, kalau ada suara anjing dan burung [beterbangan] itu penentu lain. Tandanya mereka mau mencuri telur. Angin kencang dan kalau pasir pantai bersentuhan dengan kaki rasanya akan gatal cekat-cekit, itu tandanya penyu mau [naik] bertelur.”

Ilmu modern dan titen milik Rujito membuat ia menjadi konservator mumpuni. Ia kadang masih memberi materi terkait konservasi penyu ketika ada kegiatan oleh reISPIRASI – jika memang dibutuhkan. Dengan apa yang telah Rujito lakukan, ia diganjar dengan tiga kali penghargaan sampai saat ini. “Saya mendapat penghargaan, kalpataru tahun 2002, lalu dapat lagi di tahun 2007, dan terakhir 2016,” kata Rujito.

Meski dengan ilmu yang telah Rujito miliki, ia tetap mempunyai kesulitan dalam penetasan telur. Terlebih ketika ada orang lain yang ikut. Ia mengatakan bahwa kadang dalam memindahkan telur dari sarang asli ke ember, orang yang ikut masih asal memindah. “Mindahnya semaunya sendiri.”

Pada waktu memindah, ember harus diberi pasir terlebih dahulu, begitupun setelahnya agar tidak kena angin. “Kalau kena angin nanti bisa mengempit. Menjadi tidak baik [telurnya].” Begitupun ketika memasukkan ke dalam buis beton tidak boleh terlalu lama karena angin akan sangat berpengaruh. Penataan telur pun harus diperhatikan agar menyisakan rongga. “Biasanya anak-anak kalau ikut serta tata cara penetasan, mereka sering sekadar menata.”

Hal tersebut adalah satu dari sekian faktor penentu keberlangsungan hidup penyu. Faktor lainnya adalah sampah plastik yang setiap tahunnya makin bertambah di lautan. Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) merilis laporan berjudul White Paper on Plastics Circular Economy and Global Trade terbitan Juli 2020. Laporan itu memaparkan sampah plastik yang berada di dunia mencapai 150 juta ton. Sedangkan pertumbuhannya mencapai 8 juta ton per tahunnya.

Padahal dari 1000 ekor tukik yang dilepaskan ke lautan, hanya ada seekor yang kemungkinan hidup sampai dewasa. Hal tersebut telah mempertimbangkan predator alami di lautan.

Depan (selatan) rumah Rujito. Foto Andreas Pramono

Orang Arab yang dulu datang dan membeli telur penyu dari Rujito – ketika ia masih jadi pemburu – mengungkapkan rasa kagum ketika mendapati Rujito di televisi sebagai seorang konservator penyu. “Dia terakhir melihat saya di tv sebagai penyelamat [penyu] mengucapkan selamat. Karena atas kepedulian saya sadar akan artinya itu (penyelamatan penyu). [Dia] merasa bangga sekali,” kata Rujito yang tidak acuh dengan angin malam Samas yang merangsek masuk ke celah celana pendek dan kaos oblongnya. “Makasih, Pak. Anda [sangat] sadar. Dulu belum ada aturannya (tentang konservasi penyu),” pungkas Rujito menirukan ucapan orang Arab itu.

Pria tiga anak dan dua cucu tersebut tak kenal lelah. Menyelamatkan penyu, bertani, dan kadang ia masih sempat turun melaut bersama anak dan teman-temannya. “Pada waktu musim [melaut], laut bisa dijadikan [ajang] persahabatan. Saya turun, tetap melaut, kalau mampu. [Karena] di tengah kan banyak temannya. Pegang ikan [saya] juga senang.”

Ia sadar betul bahwa alam harus dirawat. Melalui pengabdian selama ini – sebagai bentuk lain pengabdian untuk pendidikan – masa depan akan terbentang lebih baik. Karena ia sendiri tak percaya dengan manfaat ijazah. “Kalau sekarang, saya sudah tidak punya ijazah. Lah mau buat apa? Di pakai buat [mengajukan] bantuan juga engga empuk,” seloroh Rujito sambil tertawa.

Suasana sekitar rumah Rujito makin lama makin senyap. Kami tetiba disergap sepi. Beberapa orang yang tadi duduk di selaras rumah mereka telah lenyap. Di Samas, langit malam tampak bersih dari asap kendaraan. Satu-dua bintang di atas kami kadang disapu daun cemara. Bendera merah-putih yang tersemat di pasak atap rumah berkibar.

Sebelum pamit untuk pergi, saya meminta kesediaan Rujito untuk diambil gambar diri. Ia pun dengan senang hati mempersilakan. Di depan pintu rumahnya, di bawah cahaya lampu 30 watt, Rujito tampak gagah. Membayangkan sepak terjang ia selama 21 tahun terasa menakjubkan. Seorang yang dengan hati penuh mengabdi untuk masa depan anak-anak dengan mengesampingkan hidupnya sendiri.

Design a site like this with WordPress.com
Get started