
“Dalam ruang makan keluarga ada lukisan dua orang pengemis, ayah, dan anak, yang letaknya agak miring. Sambil memperbaiki letak lukisan, Bapak berkata:
+ Kau tahu, mengapa lukisan ini Bapak pasang di ruang makan ini?
– Nggak!
+ Supaya Bapak waktu makan selalu ingat pada Tuhan yang memberi rezeki kepada Bapak dan selalu ingat rakyat Indonesia yang masih melarat karena neokolonialisme.”
Fragmen di atas terekam dalam esei Memperingati 1 dan 6 Juni: Bung Karno dalam buku “Esei-Esei Orang Republik” karya Y.B. Mangunwijaya. Dari situ dapat dilihat bagaimana Soekarno menjelaskan kepada Guntur Soekarnoputra mengapa ia memajang lukisan dua orang pengemis, ayah, dan anak di sebuah ruang makan.
Fakta bahwa Indonesia telah merdeka pasca proklamasi 1945 tidaklah tepat, mengingat dua tahun setelahnya Belanda datang kembali dalam sebuah Clash di Yogyakarta dan sekitarnya. Ditambah lagi, KMB baru mengakui secara internasional RIS tahun 1949 sebelum berganti pada 1950 menjadi RI.
Indonesia yang masih membangun dirinya menjadi sebuah negara merasakan betul rintangan yang terhampar. Seperti ketika Hatta mengundurkan diri dari jabatan sebagai wakil presiden pada 1956 akibat tak sejalannya prinsip dengan Soekarno yang sebetulnya telah menggejala sejak 1930-an.
Demokrasi terpimpin tampaknya menjadi upaya Soekarno untuk mengatasi beragam masalah di Indonesia seperti neo-kolonialisme. Gaya kepempimpinan otoriter ini akhirnya memenggal konsep dwitunggal yang membuat Hatta pergi.
Tak hanya itu, pasca peristiwa berdarah 1965, Soekarno terjerembab dalam semangat otoritarianisme yang diwarisi Soeharto, yang akan membuka babak pembangunan berdarah selama 32 tahun.
Padahal bangsa Indonesia pernah berada dalam situasi serupa itu ketika Belanda dan Jepang masuk, yang justru tak memberikan kesejahteraan selain kepatuhan karena rasa takut.
Padahal nilai-nilai dalam Pancasila sendiri ia gali dari kepribadian bangsa yang otentik yang tersintesa dengan rumusan dari Mohammad Yamin, dan Dr. Soepomo.
Soekarno juga mengatakan bahwa saripati terakhir Pancasila ialah Gotong Royong. “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘Gotong Royong’.”
Ilmu-Pengetahuan Lokal
Peradaban Nusantara banyak dibangun dalam dinamika spiritualisme. Ketika pengetahuan modern belum sekuat-semasif sekarang, penduduk Nusantara masih mengaitkan fenomena tak tertangkap indra dengan totem atau perkara mistik. Karenanya kemudian banyak bermunculan bentuk-bentuk pemujaan kepada alam dengan segala turunannya.
Mereka meyakini bahwa semua yang berasal dari alam akan kembali ke alam; bencana alam juga dapat diselesaikan dengan melibatkan alam. Maka dari itu dalam sebuah upacara adat sering disediakan hasil alam sebagai persembahan.
Di daerah Molo, NTT, terdapat sebuah marga yang punya kewajiban menjaga batu tertentu di alam tempat mereka tinggal. Kata ‘Batu’ sekaligus menjadi nama marga mereka. Karena itu, jika ada acara tertentu, mereka wajib menaruh sesaji pada batu di bukit yang dipercayai.
Pengetahuan lokal yang diturunkan oleh nenek-moyang banyak memuat ajaran kebajikan yang berlandaskan pada keseimbangan alam. Mereka mafhum bahwa alam harus dimanfaatkan sebaik dan seadil mungkin untuk kepentingan bersama.
Di desa Fatumnasi, NTT, mama-mama sedang memperjuangkan hutan mereka yang akan diambil alih oleh pemerintah untuk dijadikan hutan lindung atau hutan wisata. Penolakan oleh mama-mama terhadap hutan wisata tersebut mempunyai dasar kuat bahwa ketika hutan tersebut diambil alih oleh pemerintah, penduduk sekitar tidak akan lagi bisa masuk ke hutan.
Dua perkara di atas yaitu otoritarianisme dan privatisasi dapat menjangkiti mentalitas negara tak lepas dari peranan Belanda dan Jepang yang pernah menjajah Indonesia (baca: Hindia).
Tak ada upaya untuk menyalahkan, karena toh! mereka juga masuk akibat bantuan dari penduduk lokal atau golongan priyayi. Ditambah lagi, secara mentah dan grusa-grusu, Soeharto mengadopsi sistem politik Jepang, contohnya.
Diktator jebolan PETA itu, setelah mendepak Soekarno, mencoba meniru Japan Incorporated[1] versi zaman perang pasifik. Karenanya watak Soeharto yang feodal Jawa bercampur dengan fasisme Dai Nippon digunakan untuk menjalankan negara yang masih bayi secara semena-mena. Ia mencoba menciptakan pendisiplinan dan pelembagaan insan bumiputra atas nama pembangunan.
Coba cermati lembaga atau organisasi macam RT/RW yang mirip tonari-gumi; hansip, keibodan; pramuka, seinendan; dwifungsi sipil-militer, bakufu gunseikan; dan departemen penerangan persis seperti barisan propaganda Jepang/ sendenbu.
Sebenarnya dapat dipahami upaya Soeharto tersebut semata-mata untuk mengatasi dunia teknologi, industri, dan jejaring bisnis dan moneter berwatak neo-kolonialisme yang mulai merangsek masuk.
Tak salah memang. Jepang, pasca Hiroshima dan Nagasaki kejatuhan bom atom oleh AS, yang menjadi sebab percepatan Indonesia merdeka, terbukti mampu bangkit dan kini ia telah menjadi negara berdaulat bersanding dengan Tiongkok.
Jepang berhasil betul memadukan ilmu-pengetahuan Barat dengan ajaran konfusianisme dan Shinto tradisional. Mereka sama sekali tak kehilangan watak dan kepribadian lokal.
Indonesia sebenarnya tak kalah mampu dengan Jepang dalam hal membangun negara. Coba saja tilik perjuangan Mohammad Hatta yang sampai ke Rotterdam, Belanda pada 1922 untuk menuntut ilmu. Setelah menjadi pengurus PI di Belanda, Hatta mengubah arah perkumpulan pelajar Indonesia dari yang semula untuk memajukan kepentingan mereka dalam perkara studi, berubah menjadi gerakan sosial dan politik. Atau Soekarno, pada awal 1960-an, yang mengirim ribuan orang ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan dengan harapan, setelah kembali, dapat membangun bangsa dan negara.
Mentalitas masyarakat Indonesia tak jauh beda dengan Jepang dalam upaya membangun bangsa. Gagasan dan semangat Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka, serta pejuang lain yang diwarisi masyarakat kiwari dapat membuat Indonesia berdaulat.
Namun, kenyataannya selama 76 tahun Indonesia merdeka, kita tetap belum menyamai prestasi Jepang, yang dalam kurun 20 tahun melalui keiretsu-nya dapat menggeser posisi AS dalam dunia otomotif.
Pancasila dan Pengkhianatan
Soekarno dalam buku “Di bawah Bendera Revolusi jilid I” pernah mengatakan “… Saya sekadar penggali Panca Sila daripada bumi tanah air Indonesia ini… Malah pernah saya katakan, bahwa sebenarnya hasil, atau lebih tegas penggalian daripada Panca Sila ini, saudara-saudara, adalah pemberian Tuhan kepada saya…”
Tegas. Pancasila tidak datang dari ruang kosong ataupun rentetan kalimat yang dipaksakan maknanya. Sekali lagi, Pancasila telah ada dalam dinamika hidup masyarakat Indonesia dan ia mencuat untuk dirumuskan sebagai dasar untuk dikembalikan kepada masyarakat. Dan pondasi penggalian itu ialah ke-Tuhan(an) Yang Maha Esa, yang menjadi sila pertama daripada sila-sila lainnya.
Meski begitu kini nyatanya nilai-nilai Pancasila seperti diletakkan dalam etalase. Orang lalu-lalang hanya melihat dan jika ada kepentingan jahat ia singgah lalu menawar lantas membawa itu pulang untuk dirinya sendiri.
Nilai-nilai Pancasila dikomersilkan, persis seperti penyakit KKN yang mulai kelihatan ketika Orde Baru dan kini ia menggejala dalam kehidupan berbangsa-bernegara.
Sikap individualistis-kapitalis betul sudah menjangkiti masyarakat. Kalau itu sikap/ mentalitas dibiarkan menyebar, watak gotong royong akan memudar dan akhirnya lenyap. Padahal kata Soekarno itu adalah saripati Pancasila.
Perjuangan di era globalisasi memang tak kalah sulit (atau bisa dikatakan lebih sulit) dari zaman penjajahan. Musuh-musuh yang datang sublim dan berwatak imperialis-neokolonialis. Pantaslah jika pemerintah–kalau tak mau dikatakan sengaja–teperdaya olehnya. Karena itu dapat dipahami tindakan-tindakan kontra-Pancasila kerap diambil dalam mengatasi permasalahan negara-bangsa Indonesia.
Pantas juga mama-mama Fatumnasi, NTT bersikeras tak mau menyerahkan hutan (baca: rumah) mereka kepada pemerintah.
Apakah perlu juga sebagai pengingat, seperti Soekarno, untuk meletakkan lukisan dua orang pengemis, ayah, dan anak di ruang makan kita? Nah!
Berketuhanan, ya! Berkemanusiaan
Kearifan dan keberpihakan terhadap masyarakat pinggiran seakan hilang dari dinamika berbangsa-bernegara. Ia tak didasarkan lagi pada cita-cita luhur. Ia tak didasarkan pada ketuhanan.
Padahal Romo Y.B. Mangunwijaya menegaskan bahwa ber-Tuhan adalah sifat manusia. Karena manusia ciptaan Tuhan maka ia bernilai, karenanya tidak dapat direndahkan haknya.
Sedangkan banyak orang sedang memperjuangkan hak. Padahal hak tidak patut diperjuangkan. Ia ada untuk diberikan tanpa tedeng aling-aling.
Kesadaran ketuhanan itu lah yang menjadi dasar nilai untuk bertindak, bersikap, dan juga dasar nilai semua ilmu pengetahuan.
Sangat jelas terlihat bagaimana prinsip ketuhanan menjadi dasar menentukan arah kehidupan bangsa Indonesia.
Prinsip itulah yang menggerakkan Romo Mangun dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat miskin. Seperti ketika di kali Code, Grigak Gunung Kidul, dan di daerah sekitar waduk Kedungombo.
Berkaitan dengan prinsip tersebut, Romo Mangun sampai pernah mengkritik frater-frater di Seminari Kentungan karena mereka hidup dalam kondisi serba berkecukupan dan tak tahu-menahu permasalahan masyarakat miskin. Katanya, di Yogyakarta, mereka hanya tahu tiga tempat yaitu Panti Rapih, Kapel, dan Kampus.
Baik Soekarno ataupun Romo Mangunwijaya, mereka tahu betul bahwa ilmu yang didapat dengan kerja keras akan mempunyai daya fungsinya ketika berlandaskan ketuhanan. Ilmu tersebut akan mampu dioperasikan secara jitu kepada masyarakat yang miskin dan dipinggirkan oleh sistem dan kekuasaan.
Bukankah pada pembukaan UUD 1945 juga telah disampaikan bahwa melalui rahmat Allah yang Mahakuasa dan didorong oleh keinginan luhur, dalam upaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya.
Tak adil lah jika kita berilmu namun mengebiri peran rahmat Allah. Romo Mangunwijaya saja pernah berujar, “Ini sesuai dengan jalan hidup saya, biasanya yang dianatomi adalah penjahat, atau jenazah gelandangan yang tak berkeluarga. Seperti Yesus mati bersama para penjahat dan orang miskin ketika disalib, saya pun ingin mati dengan cara mereka, meski tidak disalib.”
Persis. Sang burung manyar itu ingin menyerahkan jiwa-raganya bagi manusia. Ia berpesan bila meninggal dunia tidak ingin dikubur, tetapi raganya ingin diserahkan ke Fakultas Kedokteran UGM bagian anatomi.
Tak hanya gagasannya, jiwa-raga Romo Mangun secara utuh diberikan kepada masyarakat. Karena, seperti halnya Soekarno, ilmu dan hidup yang ia miliki diberi oleh Tuhan.
Catatan:
[1] Istilah Japan Incorporated dipakai Y.B. Mangunwijaya dalam esei Warisan Mental dan Praktek Fasis Pemerintahan dan Rekayasa Sosial Bala Tentara Jepang kepada Orde Baru.
Referensi
Buku:
Mangunwijaya, Y.B. Tumbal. 1994. Yogyakarta: Bentang Intervisi Utama, pt.
Mangunwijaya, Y.B. Esei-Esei Orang Republik. 1987. Jakarta: PT Midas Surya Grafindo.
Mangunwijaya, Y.B. Menuju Republik Indonesia Serikat. 1998. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Latif, Yudi. Negara Paripurna. 2011. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sutrisno, Mudji. Sejarah Filsafat Nusantara: Alam Pikiran Indonesia. 2018. Yogyakarta: Galangpress.
Website:
https://langgar.co/nusantara-berkaca-priyayi-mandarin-dan-samurai/ Diakses pada 27 Oktober 2021. Pukul 23.54.
https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/09/150928_indonesia_lapsus_eksil_bui Diakses pada 28 Oktober 2021. Pukul 13.23.
#LombaBlogUnpar #BlogUnparPengabdian









