Menyingkap Simbol Peradaban Masa Lalu

Pameran Asana Bina Seni yang kembali dihelat kini telah sampai pada hari terakhir pameran digital sejak dibuka pada 25 Juli lalu. Program milik Yayasan Biennale Yogyakarta tersebut sejak pembukaannya dapat juga dikunjungi secara daring di Taman Budaya Yogyakarta namun telah berakhir pada  4 Agustus lalu.

Melalui Asana Bina Seni, Yayasan Biennale Yogyakarta ingin mendukung terciptanya ekosistem seni rupa yang berkelanjutan di Yogyakarta. Gagasan tersebut di atas dimulai dari visi Yayasan Biennale Yogyakarta untuk berkontribusi dalam proses pendidikan seni, selain juga melalui penyelenggaraan pameran Biennale Jogja dan Simposium Khatulistiwa.

Asana Bina Seni, sebagai pra Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 menghadirkan sebelas karya seni dari tujuh seniman dan empat kolektif dengan diikat pada satu payung MANTRA yang berarti tawaran ritual untuk bersama menjadi doa demi kebaikan semua manusia.

Tema yang diangkat para seniman di Asana Bina Seni kali ini mencakup lokalitas, lingkungan, identitas dan tubuh, serta fragmentasi sosial. Dua diantara peserta ialah Radeh Kukuh Hermadi dengan karya berjudul Matinya Tanah Firdaus, dan kolektif Proyek Benggala yang menggali kontekstualitas makna sebuah pacul.

Raden Kukuh mencoba merekonstruksi narasi yang hilang di daerah tempat ia tinggal, Gunung Kidul. Rekonstruksi tersebut menyasar pada proses deforestation dan desertification yang berpuncak pada zaman gaber beriringan dengan serangan hama tikus tahun 1960an.

Ketertarikan Kukuh pada hilangnya narasi di Gunung Kidul dimulai pada awal 2020 ketika ia membaca catatan seorang Geolog bernama Franz Wilhelm Junghuhn dalam buku Pulung Gantung karya Darmaningtyas. Junghuhn mengatakan bahwa Gunung Kidul pada tahun 1800 merupakan daerah indah, lebat, hijau. Ia sampai-sampai menjulukinya dengan Tanah Firdaus. Padahal pasca masa kemerdekaan daerah Gunung Kidul justru dikenal sebagai daerah gersang dan gundul. Dari sinilah kemudian Kukuh berupaya untuk mengungkap hilangnya narasi tersebut melalui karyanya.

Tak jauh beda dengan Kukuh melalui Matinya Tanah Firdaus, Proyek Benggala mencoba menggali historisitas pacul sebagai artefak yang terus digunakan sampai saat ini. Fenomena tersebut beririsan dengan tradisi lisan dan representasi simbolik di dalam budaya agraria hingga menyasar pada ideologi dan politik kekuasaan.

Proyek interdisipliner yang digarap oleh Racmhad Afandi, Adnan Aditya, Adhi Pandoyo, dan Awalludin M mengungkap sisa peninggalan Sunan Kalijaga yang bertumpu pada pacul sebagai artefak.

Upaya merepresentasi pacul melalui karya seni, pertama kali tercetus oleh Awalludin M (Cak Udin). Cak Udin, yang juga ketua Lesbumi, mengatakan bahwa Sunan Kalijaga pernah memberi wejangan kepada Ki Ageng Selo terkait pacul. Wejangan tersebut merujuk pada anatomi pacul dan filosofi atas kehidupan manusia.

Pacul terdiri dari tiga bagian dengan makna yang berbeda. Pertama, bagian paling tajam atau pacul berarti Ngipatake barang kang Muncul (Membuang barang yang mendugul atau tidak rata). Maknanya adalah manusia harus selalu berbuat baik dengan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak rata, seperti ego dan sifat jelek lain. Kedua, lingakaran tempat kayu atau Bawak berarti Obahing Awak (Bergeraknya tubuh). Maknanya adalah manusia hidup diwajibkan berikhtiar mencari rezeki dari Gusti Allah guna memenuhi kebutuhan hidup disamping menyembah-Nya. Ketiga, batang kayu sebagai pegangan atau Doran berarti Donga Marang Pangeran (Berdoa kepada Gusti Allah). Maknanya adalah manusia harus senantiasa ingat dan menyembah Gusti Allah.

Pada Matinya Tanah Firdaus, kita dapat melihat Radeh Kukuh Hermadi menggantung sembilan karung goni yang telah dipotong menjadi persegi panjang. Di muka karung goni terdapat sebuah gambar yang merepresentasikan Gunung Kidul tahun 1960. Dua karung paling depan merupakan gambar seorang simbok-simbok; bagian kanan membawa kelapa dan beras sebagai representasi Gunung Kidul di tahun 1800 sebagai daerah hijau yang masih mampu menghasilkan banyak hal, sedangkan bagian kiri membawa olan-olan (semacam ulat sagu yang hidup di akar pohon).

Pada slide kedua kanan terdapat gambar bunga jati, ketiga adalah kayu jati dan mahoni, lalu industri arang rumahan, gubuk kecil dengan asap membubung. Pada bagian tengah, karung goni diberi warna hitam sebagai transisi ke sisi sebelah kiri. Setelahnya adalah peristiwa penyerangan tikus-tikus yang berpuncak pada zaman gaber. Simbok pembawa olan-olan merepresentasikan konsumsi makanan kebun atau alas pada 1800 sebagai pengganti protein.

Dengan dikelilingi karung goni pada bagian inti-tengah terdapat sebuah kotak di atas meja berisi banyak arang dan satu sketsa hamparan alam hijau berbukit yang merepresentasikan Gunung Kidul tahun 1800an.

Arang tersebut menjadi jawaban penduduk Gunung Kidul atas eksploitasi hutan oleh pemerintah Hindia-Belanda dan Keraton yang membuat tanah luruh menyisakan batuan kapur yang tidak dapat diolah.

Pada artikel dalam jurnal Lembaran Sejarah berjudul Pengelolaan Hutan Jati di Afdeeling Gunung Kidul 1846-1933 terbitan 2001 dipaparkan bahwa Keraton Yogyakarta membutuhkan banyak kayu jati untuk keperluan pembangunan Pasanggrahan Ambarukmo di Gowok.

Kala itu keraton masih sangat mempercayai aturan adat dan kepercayaan Jawa dalam pemilihan kayu jati yang baik. Menurut adat dan kepercayaan Jawa, pohon jati apabila dijadikan bahan bangunan rumah akan berpengaruh terhadap kehidupan orang yang tinggal di dalamnya. Dari situlah pembangunan tersebut justru dinilai sebagai suatu pemborosan.

Kebutuhan kayu bakar bagi pabrik gula dan arak kala itu pun didorong oleh pemerintah kolonial yang berakibat pada gundulnya hutan-hutan.

Penduduk Gunung Kidul yang kala itu menanggung akibat dari gundulnya hutan kemudian menyiasati dengan industri arang rumahan agar bertahan hidup. Kukuh bercerita bahwa penduduk Gunung Kidul kala itu kesulitan bercocok-tanam. Padi yang ditanam setahun sekali membuat mereka menyiasati dengan menanam tanaman lain seperti kacang-kacangan.

Kayu sebagai bahan baku pembuatan arang penduduk ambil dari milik pemerintah Hindia-Belanda. Dengan kata lain penduduk Gunung Kidul menggarong kayu glondongan setelah kayu tersebut dihanyutkan ke sungai (baca: pengiriman kayu kuno).

Kukuh juga menambahkan audio hasil wawancara ia dengan penduduk desa Wonolagi, Gunung Kidul yang dimixing dengan audio narasinya yang menceritakan hilangnya narasi Gunung Kidul tahun 1800 sebagai daerah hijau. Audio tersebut menambah kesan murung dan gelap pada Matinya Tanah Firdaus.

Berbeda dengan Kukuh, Proyek Benggala menciptakan sebuah ruang yang dapat diterka sebagai sebuah mushola kecil. Mereka menyebutnya dengan multishola. Di tengah-tengah terdapat karpet merah dengan di atasnya bagian tepi terdapat sembilan penutup kepala seperti blangkon, iket, dan topi fedora. Sedangkan di bagian bawah pojok kiri-kanan terdapat kain hijau dan putih. Barulah tepat di inti karpet diletakkan empat cangkul yang disusun terbalik saling memunggungi sehingga menyerupai tatakan Al-Qur’an. Di tengah titik perpotongan empat pacul berdiri sebuah senthir dan menggantung sebuah tasbih.

Empat pacul tersebut didapat dari tempat yang berbeda-beda begitupun dengan jenisnya. Dari empat pacul tersebut, hanya satu yang merupakan pacul wejangan Sunan Kalijaga. Tiga pacul lain merupakan pacul modern. Perbedaannya terletak pada bagian plat atau pacul. Plat pada pacul modern biasanya dapat dilepas-pasang. Semacam bagian plat paling tajam tidak terhubung langsung dengan Bawak. Sedangkan plat pada pacul versi wejangaan Sunan Kalijaga langsung terhubung dengan Bawak tanpa sambungan.

Adnan dan Rachmad mengatakan bahwa ketika membicarakan pacul tak terlepas dari syair Gundul-Gundul Pacul. Syair yang telah ada sejak tahun 1400 itu ditulis dan dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga.

Pacul secara filosofi membicarakan hubungan dan pekerjaan manusia dengan Gusti Allah. Manusia dituntut untuk berilmu, bekerja yang bermanfaat, lalu menjadi seorang manusia utuh, setelahnya manusia akan menjadi pemimpin. Namun, ketika manusia yang telah memiliki pacul lalu ia justru gembelengan atau sombong dan ceroboh dia akan jatuh. Kalau dia jatuh, semua akan jatuh. Karenanya syair Gundul-gundul pacul merupakan nasihat oleh sang Wali kepada pemimpin (baca: pemimpin Jawa) untuk mengutamakan kesejahteraan rakyat.  Berikut syair dari Gundhul-gundhul Pacul.

Gundhul gundhul pacul cul

gembèlengan

Nyunggi nyunggi wakul kul

gembèlengan

Wakul ngglimpang segané dadi sak latar

Wakul ngglimpang segané dadi sak latar

Gundul gundul cangkul, sembrono

Membawa bakul (di atas kepala) dengan sembrono

Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman

Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman.

Selain Sunan Kalijaga yang memberi simbolisasi pada pacul, Soekarno ketika kolonialisme berakhir menggunakan moment tersebut sebagi dalih pemberian makna lain pada pacul. Pacul merepresentasikan semangat revolusioner, kepribadian, dan kemajuan. Pembangunan Semesta Nasional Berencana pada 1 Januari 1961 pun juga dimulai dengan upacara pengayunan pacul oleh Soekarno.

Gambar pacul pun juga terdapat pada sajadah di bagian mihrab multishola milik Proyek Benggala. Dua pacul berhadapan seolah membentuk segitiga berlatar belakang pemandangan alam dengan sebuah gunung dan diatas sajadah tersebut terletak sebuah blangkon. Pada dinding mihrab atas menggantung sebuah cermin bulat yang dapat ditafsir sebagai simbol dari kolektif Benggala.

***

Terdapat titik kesamaan antara karya Proyek Benggala dengan Matinya Tanah Firdaus. Mereka sama-sama menggali historisitas sebuah benda atau tempat yang terikat sebuah mikro-makro-kosmos.

Pacul sebagai sebuah artefak yang menjadi simbol atas peradaban masa lalu mencerminkan sebuah laku manusia agar selalu ingat kepada Gusti Allah. Sebuah perjuangan untuk selalu mengusahakan hidup yang baik melalui pekerjaan tercermin dalam entitas pacul.

Begitupun dengan Matinya Tanah Firdaus yang memproyeksikan laku eksploitatif manusia yang diganjar dengan zaman gaber berbarengan dengan serangan hama tikus. Hanya karung goni, peninggalan pemerintah Hindia-Belanda yang kala itu menjadi pelindung diri dari serangan tikus-tikus. Gunung Kidul pun kemudian tiba pada zaman nir-kehidupan ketika Indonesia justru telah merdeka.

Baik pacul, karung goni, dan arang merupakan artefak yang dilekati simbol-simbol peradaban masa lalu. Artefak itu mengartikulasikan sebuah pesan penting terkait kesatuan alam, manusia, dan Gusti Allah. Ia memberi pesan pada manusia modern untuk menjaga kesatuan dengan tidak merusak alam, tindak menafikan peran Gusti Allah, dan tetap menjadi pribadi yang tak gembelengan. Ia tak dapat dicerai menjadi bagian tersendiri melainkan satu. Ketunggalan yang satu atau Tritunggal.

Seribu Rapalan di Jantung Samas

Rujito, seorang konservator berada di selasar rumahnya di daerah Sanden, Samas (Sabtu, 14/08/2021).

“Itu kita potong-kita sembelih, tetapi pada waktu menyembelih kita harus membaca rapalan. Sebelum kita buang ke laut kepalanya, kita buka mulutnya, kita sumbat pakai padi-padian atau kacang-kacangan,” aku Rujito. Ia lantas menghisap rokok yang sempat terhenti karena ajuan pertanyaan saya. “Kalau tidak kami lakukan seperti itu, dengan menyumbat menggunakan padi atau kacang-kacangan, nanti ombak laut akan naik, banyak bencana, masyarakat ada yang sakit,” katanya dengan nada lirih.  

***

Bagian paling selatan pulau Jawa masih menyimpan banyak enigma kisah yang jarang terkuak dan mencuat ke jagad maya. Kisah-kisah itu mengalir deras pada tiap nadi penduduk Samas.

Matahari di barat langit secara perlahan menghilang dibalik kepulan awan hitam. Mengubah kehidupan dalam terang ke kegelapan malam.

Bau amis itu makin menjadi menyeruak masuk ke dalam hidung. Pohon-pohon cemara mulai terlihat seperti siluet. Deburan ombak pantai Samas meraung-raung ditelan adzan Isya.

Dari selatan seorang pria berumur 60 tahun berjalan sambil menuntun anak kecil masuk ke dalam rumah bercat biru. Tinggi ia di atas rata-rata penduduk Samas. Sekitar 180 cm. Tulang tangannya besar, begitupun bagian kaki. Penduduk Samas memanggilnya dengan Rujito, seorang konservator sejak tahun 2000.

Di depan rumah Rujito terhampar perlengkapan nelayan seperti jaring, pelampung, dan styrofoam box yang barangkali dipakai sebagai penyimpanan ikan. “Memang saya akui, dulu saya adalah pemburu,” kata Rujito tegas.  

Rujito terekam dalam dalam sejarah sebagai seorang yang giat dalam laku konservasi penyu. Ia kadang sampai harus mengeluarkan uang untuk membiayai laku konservasi. Kini bersama komunitas reISPIRASI, Rujito dapat menghirup nafas lebih panjang lantaran kerja penyelamatan penyu ia lakukan secara bersama-sama.

Tak dinyana, Rujito dulunya merupakan seorang yang gemar berkelahi dan suka memburu penyu untuk dikonsumsi. Ia percaya bahwa daging penyu punya khasiat tersendiri bagi tubuhnya.

Kami berbincang di atas amben menghadap ke timur di depan selasar rumah Rujito. Di atas kami bulan separoh terlihat bersinar dan sesekali tersapu daun cemara. “Sesudah diberi sosialisasi dan pembinaan dari dinas kelautan dan perikanan, saya akhirnya sadar akan pelestarian penyu,” pungkas Rujito. “Sampai sekarang pun saya masih menjadi penyelamat penyu, tidak pernah ada kata pensiun.”

Rujito memang tak kenal lelah. Di samping kegiatannya bertani, ia masih tetap memberikan atensi lebih pada penyu. Ia mengaku pada awal-awal konservasi, hanya Rujito yang bergerak dalam penyelamatan penyu, khususnya di wilayah pantai selatan. “Kan dulu itu baru [wilayah] Samas. Lalu [seiring berjalannya waktu] banyak yang mengikuti di pantai lain bagian selatan seperti Goa Cemara, Mina Bahari, Trisik, dan Kuwaru.”

Waktu, tenaga, dan pengeluaran yang tak sedikit membuat beberapa dari usaha penyelamatan penyu di wilayah macet. “Dia (konservator wilayah lain) kemudian mengikuti apa yang saya lakukan. Sampai sekarang ada yang masih berjalan, ada yang macet, bahkan ada yang tidak berjalan. Kalau saya tidak muluk-muluk yang penting aktif selalu berperan tiap harinya melakukan usaha-usaha konservasi.”

Rumah Rujto terlihat dari bibir pantai. Foto Andreas Pramono

Rumah Rujito berdiri di padukuhan Ngepet, Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, RT 64 sekaligus RT terakhir yang letaknya 100 meter dari pesisir menghadap langsung ke samudera hindia. Lahan tempat Rujito mendirikan rumah dan lahan dimana ia biasa bertani berstatus Sultan Ground (SG).

Tanah yang ada di kalurahan Srigading paling besar digunakan untuk sawah dan ladang seluas 432,8250  Ha. Penggunaan terluas kedua 210,4000 Ha diperuntukkan bagi pemukiman. Jalan menyita 71,3000 Ha, bangunan umum seluas 3,1512 Ha, pekuburan seluas 3,3233 Ha dan pengunaaan lain-lain seluas 36,6005 Ha.

Rujito bersama anak lelakinya mendapat bagian lahan untuk mereka olah. “Kemarin baru aja panen brambang (bawang merah).” Lahan ia tidak jauh dari rumah. Sekitar 250 meter ke utara.

Di malam hari, tak banyak penduduk beraktivitas. Di samping kiri-kanan rumah Rujito beberapa orang terlihat duduk bersantai di selasar dengan hanya diterangi lampu kecil 30 watt berwarna putih menyala. “Itu tanah dikapling-kapling gitu. Tanah SG-tanah Keraton buat saya kelola bareng anak. Hasilnya buat kami sendiri.”

Sultan ground merupakan istilah khusus yang biasa digunakan untuk menyebut tanah-tanah milik keraton Yogyakarta yang sebelumnya merupakan bekas tanah Swapraja setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 dalam Hukum Tanah Nasional.

Lahan tempat biasa Rujito melakukan kegiatan penetasan telur penyu berada di barat daya rumahnya sekitar 50 meter. Tempat seluas 290 m2 itu selain digunakan sebagai tempat penetasan sekaligus menjadi basecamp reISPIRASI, juga tempat pengkondisian tukik sebelum dilepas di laut Samas. Di dalam basecamp terdapat setidaknya 15 buis beton sebagai tempat penetasan. Penggunaan buis beton dilakukan sebagai upaya menghindarkan telur dari predator seperti anjing, burung camar, dan tikus.

Bangunan tempat penangkaran penyu. Foto Andreas Pramono

Tentu wilayah konservasi tersebut tidak terbatas pada kolam maupun basecamp penetasan. Persisnya titik konservasi dimulai dari mercusuar di pantai Pandansari sampai di ujung potongan sungai opak di bagian timur.

Penyu yang mendarat di pantai selatan biasanya bertelur di sepanjang garis pantai dan kebanyakan titik penyu bertelur ada di daerah timur sebelum potongan sungai opak.

Sekalipun telah mendapat sosialisasi dan pembinaan terkait penyu, nyatanya masih terdapat penduduk yang menjual telur penyu.

Rujito mengaku kesadaran dalam upaya penyelamatan penyu masih nimim di daerahnya. Banyak penduduk yang mencari telur penyu hanya untuk ditukarkan dengan uang. Rujito dan Deni, pendiri reISPIRASI kerap menebus telur yang penduduk temukan. Per telur setidaknya mereka harus mengeluarkan Rp 2.000. Meski begitu tidak semua penduduk mencari telur untuk dijual. Beberapa orang justru memberikan telur kepada Rujito untuk ditetaskan. “Memang ada yang peduli tapi tidak semuanya,” aku Ruijto.

Wilayah seluas lebih-kurang 9 Ha yang menjadi daerah konservasi akan diajukan ke Keraton untuk mendapat kekancingan. Luasan tersebut belum mencakup bagian pesisir dan ke arah timur sungai opak. Untuk mengancing wilayah seluas lebih dari 10 hektar tersebut tentu ada syarat yang tak mudah untuk dipenuhi seperti wajib bebas dari pemukiman, lalu pedagang pinggir pantai juga harus direlokasi, ditambah lagi Jeep wisata yang kerap masuk dalam radius konservasi menjadi persoalan tersendiri.

Rumah Rujto terlihat dari bibir pantai. Foto Andreas Pramono

Peta wilayah konservasi yang akan diajukan kekancingan ke Keraton.

Pengajuan penggunaan lahan sebagai wilayah konservasi di pantai selatan harus mengacu pada Peraturan Gubernur DIY Nomor 49 Tahun 2018 tentang Prosedur Permohonan Pemanfaatan Tanah Kasultanan dan Tanah Kadipaten.   

Sejak awal Rujito menerima pembinaan, wilayah Samas telah dirancang menjadi wahana wisata pendidikan. “Itu yang membuat saya tertarik. Menurut saya pendidikan adalah masa depan kita. Biar pun saya pribadi tidak bisa menyekolahkan anak saya seperti harapan saya. Tapi saya ikut andil mengabdikan diri sebagai pelestari bagi pendidikan anak sampai saat ini,” kata Rujito dengan bangga.

Tahun 2007 Rujito pernah menerima tamu mahasiswi dari UNY yang berniat melakukan riset terkait penyu. “Dia mengadakan penelitian selama 6 bulan. [Seingat saya] namanya Dewik, Danti, dan Nurul.”

Suatu waktu, Rujito pernah mendapati seorang penduduk menjual telur. Ia lantas memberitahu tindakan itu pada dinas kelautan dan perikanan. Namun ia tak merasa puas dengan penanganan yang dilakukan. Rujito mengaku bahwa penyelesaian tersebut tidak bisa semudah itu lewat jalur damai. “Saya tidak puas dengan penyidik. Itu kan ada aturan denda. Tapi kok cuma tanda tangan saja. Katanya sih mitra. Besok kalau memang penanganan tetap seperti itu berarti UU tidak berjalan. Kalau itu melanggar UU ya, harus ditindak secara hukum.”

Pada tahun yang sama, dalam upaya penyelamatan penyu, Rujito dibantu oleh komunitas rumah hijau. Pasca rumah hijau berhenti memberikan bantuan, Deni yang nantinya membentuk reISPIRASI lah yang membantu Rujito sampai saat ini. “Tanpa bantuan Mas Deni saya kurang gerak, Mas.”

Rujito mempunyai strategi lain dalam upaya konservasi yang ia lakukan. “Dari dulu saya gabung dengan masyarakat setempat dan nelayan, saya tidak lepas dari mereka karena semua lingkup di wilayah Samas ini harus kita rangkul biar menyatu.” Ketika ia mendapat ilmu terkait pelestarian penyu, Rujito tidak tanggung-tangung untuk membagikannya dengan penduduk. “Waktu pertemuan Jumat Kliwon, saya ikut gabung di pertemuan warga itu. Nah, dari situ materi yang saya dapat dari dinas kemudian saya floor-kan. Soalnya kan kalau mengadakan pertemuan sendiri pasti mengeluarkan biaya,” kata Rujito sambil tertawa kecil.

Selain ilmu dari dinas kelautan dan perikanan, Rujito mempunyai ilmu titen yang digunakan untuk mengetahui masa penyu akan naik ke permukaan dan bertelur di pantai selatan. “Faktor bulan bisa menjadi penentu, sedangkan jam-waktu itu tidak bisa, lalu feeling atau naluri memberi tahu. Umpamanya air laut ada perubahan, boleh dikatakan bau amis, kalau ada suara anjing dan burung [beterbangan] itu penentu lain. Tandanya mereka mau mencuri telur. Angin kencang dan kalau pasir pantai bersentuhan dengan kaki rasanya akan gatal cekat-cekit, itu tandanya penyu mau [naik] bertelur.”

Ilmu modern dan titen milik Rujito membuat ia menjadi konservator mumpuni. Ia kadang masih memberi materi terkait konservasi penyu ketika ada kegiatan oleh reISPIRASI – jika memang dibutuhkan. Dengan apa yang telah Rujito lakukan, ia diganjar dengan tiga kali penghargaan sampai saat ini. “Saya mendapat penghargaan, kalpataru tahun 2002, lalu dapat lagi di tahun 2007, dan terakhir 2016,” kata Rujito.

Meski dengan ilmu yang telah Rujito miliki, ia tetap mempunyai kesulitan dalam penetasan telur. Terlebih ketika ada orang lain yang ikut. Ia mengatakan bahwa kadang dalam memindahkan telur dari sarang asli ke ember, orang yang ikut masih asal memindah. “Mindahnya semaunya sendiri.”

Pada waktu memindah, ember harus diberi pasir terlebih dahulu, begitupun setelahnya agar tidak kena angin. “Kalau kena angin nanti bisa mengempit. Menjadi tidak baik [telurnya].” Begitupun ketika memasukkan ke dalam buis beton tidak boleh terlalu lama karena angin akan sangat berpengaruh. Penataan telur pun harus diperhatikan agar menyisakan rongga. “Biasanya anak-anak kalau ikut serta tata cara penetasan, mereka sering sekadar menata.”

Hal tersebut adalah satu dari sekian faktor penentu keberlangsungan hidup penyu. Faktor lainnya adalah sampah plastik yang setiap tahunnya makin bertambah di lautan. Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) merilis laporan berjudul White Paper on Plastics Circular Economy and Global Trade terbitan Juli 2020. Laporan itu memaparkan sampah plastik yang berada di dunia mencapai 150 juta ton. Sedangkan pertumbuhannya mencapai 8 juta ton per tahunnya.

Padahal dari 1000 ekor tukik yang dilepaskan ke lautan, hanya ada seekor yang kemungkinan hidup sampai dewasa. Hal tersebut telah mempertimbangkan predator alami di lautan.

Depan (selatan) rumah Rujito. Foto Andreas Pramono

Orang Arab yang dulu datang dan membeli telur penyu dari Rujito – ketika ia masih jadi pemburu – mengungkapkan rasa kagum ketika mendapati Rujito di televisi sebagai seorang konservator penyu. “Dia terakhir melihat saya di tv sebagai penyelamat [penyu] mengucapkan selamat. Karena atas kepedulian saya sadar akan artinya itu (penyelamatan penyu). [Dia] merasa bangga sekali,” kata Rujito yang tidak acuh dengan angin malam Samas yang merangsek masuk ke celah celana pendek dan kaos oblongnya. “Makasih, Pak. Anda [sangat] sadar. Dulu belum ada aturannya (tentang konservasi penyu),” pungkas Rujito menirukan ucapan orang Arab itu.

Pria tiga anak dan dua cucu tersebut tak kenal lelah. Menyelamatkan penyu, bertani, dan kadang ia masih sempat turun melaut bersama anak dan teman-temannya. “Pada waktu musim [melaut], laut bisa dijadikan [ajang] persahabatan. Saya turun, tetap melaut, kalau mampu. [Karena] di tengah kan banyak temannya. Pegang ikan [saya] juga senang.”

Ia sadar betul bahwa alam harus dirawat. Melalui pengabdian selama ini – sebagai bentuk lain pengabdian untuk pendidikan – masa depan akan terbentang lebih baik. Karena ia sendiri tak percaya dengan manfaat ijazah. “Kalau sekarang, saya sudah tidak punya ijazah. Lah mau buat apa? Di pakai buat [mengajukan] bantuan juga engga empuk,” seloroh Rujito sambil tertawa.

Suasana sekitar rumah Rujito makin lama makin senyap. Kami tetiba disergap sepi. Beberapa orang yang tadi duduk di selaras rumah mereka telah lenyap. Di Samas, langit malam tampak bersih dari asap kendaraan. Satu-dua bintang di atas kami kadang disapu daun cemara. Bendera merah-putih yang tersemat di pasak atap rumah berkibar.

Sebelum pamit untuk pergi, saya meminta kesediaan Rujito untuk diambil gambar diri. Ia pun dengan senang hati mempersilakan. Di depan pintu rumahnya, di bawah cahaya lampu 30 watt, Rujito tampak gagah. Membayangkan sepak terjang ia selama 21 tahun terasa menakjubkan. Seorang yang dengan hati penuh mengabdi untuk masa depan anak-anak dengan mengesampingkan hidupnya sendiri.

‘Titik Didih Seni Rupa di Era New Normal’: Sebuah Ledakan Emosi atau Kompromitas?  

Dunia tampak lebih baik dan penuh warna di sepanjang tahun 2020. Segala kemalangan pupus. Virus mematikan lenyap. Orang-orang mulai tak gentar berinteraksi di tengah massa. Perekonomian kembali dengan pesat dan masyarakat kembali berdaya.

Begitulah sekilas terkaan terhadap karya Addy Debil dengan figur doodle bermata pejam miliknya dalam pameran tunggal ia bertajuk “Eyes Shut Fantasia”. Karakter yang ia ciptakan sejak 2011 tersebut merepresentasikan setengah perjalanan hidup manusia yang dilalui dengan mata terpejam yang dipandang jauh lebih indah dibanding realitas. Ruang hampa yang kemudian terbentuk dalam kegelapan ia isi dengan imaji-imaji warna-warni melalui figur-figur doodle dengan mata terpejam dengan bermacam ekspresi.

Terlepas dari itu, bagaimana relasi figur Debil yang dipenuhi kegembiraan dengan dinamika hidup ia sebagai seorang seniman di sepanjang 2020 dan semester pertama 2021. Apakah juga berjalan paralel dengan kehidupannya?

Pertaruhan di dunia seni rupa nyatanya membawa Addy Debil pada kemungkinan-kemungkinan yang tak ia duga sebelumnya.

Selepas virus lokal yang berepisentrum di Wuhan, Tiongkok mengubah dirinya menjadi virus global, pemerintah Indonesia lantas memberlakukan PSBB untuk seluruh wilayahnya pada Maret tahun lalu. Debil yang kala itu meneken kontrak dengan beberapa perusahaan dalam suatu kolaborasi seni rupa pada akhirnya pun lantak.

Dunia seni rupa memang menjadi salah satu bidang yang terdampak akibat pandemi Covid-19. Pakem konvensional seni rupa di Indonesia membuat seni rupa mengubah dirinya dan terpaksa kawin dengan dunia digital untuk dapat tetap survive. Meski tidak semua perupa mau melakukannya.

Hafez Gumay, Koordinator Advokasi Koalisi Seni, mengacu pada data Koalisi Seni per 3 April 2020 mengatakan terdapat 181 acara seni yang ditunda atau dibatalkan akibat Covid-19 yaitu 21 proses produksi, rilis, dan festival film, 98 konser, tur, dan festival musik, 1 acara sastra, 18 pameran seni rupa, 9 pertunjukan tari dan 34 pentas teater, pantomim, wayang, boneka, dan dongeng.

Sudah setahun lebih sejak data tersebut rilis. Ketika Indonesia memasuki era new normal sejak pemberlakuannya secara berkala dalam 4 fase pada 1 Juni 2020, bagaimana kemudian nasib dunia seni yang sempat ambruk?

Hibriditas Seni Rupa dan Pemberontakan

Selain Addy Debil, juga terdapat dua seniman muda yang sedang menghelat pameran tunggal yaitu Ummi Shabrina dan Bernandi Desanda. Mereka bekerja sama dengan Kohesi Initiative, sebuah galeri seni junior dari grup Srisasanti Syndicate, yang terletak di Tirtodipuran Link, jalan Tirtodipuran No. 50, Yogyakarta.

Kohesi Initiative hadir sebagai tempat untuk mewadahi seniman muda berkarya. Pameran tunggal mereka yanng masih akan berlangsung sampai dengan 6 Juni 2021 sejak pembukaannya bulan lalu, menjadi gelagat seniman muda yang tidak dapat membendung gairah dalam berkarya. Mereka mendobrak kebuntuan dan pembatasan akibat ketakmenentuan situasi bangsa.

Yogyakarta sebagai kota dengan konsentrasi seni rupa terbesar di Indonesia mulai menghidupkan kembali gairah seni rupa yang dibuktikan dengan tak sedikitnya perhelatan pameran seni rupa. Salah satunya dapat dilihat melalui Kohesi Initiative.

Festival Seni yang disebut paling besar se-Asia, Art Jog, pun pada tahun ini akan tetap digelar dengan segala risiko yang ada.

Ketika dihubungi pada, Selasa (01/06/2021) Heri Pemad, pendiri Art Jog, mengatakan dalam pertemuannya melalui video conference, zoom, dengan [Mantan] Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama serta Direktur Jenderal Kebudayaan Indonesia, Hilmar Farid tahun lalu, bahwa ia akan tetap membuat sebuah karya berupa event. Khususnya di bidang seni rupa. Meski ketika itu Covid-19 sedang marak-maraknya menginfeksi masyarakat secara brutal.

Ia menegaskan bahwa, “…bukan karena saya melawan kondisi,” kata Heri, “akan tetapi saya akan berusaha bersahabat dengan pandemi”.

Dan memang benar pernyataan Heri Pemad tersebut. Art Jog bertajuk ‘Resilience’ sukses digelar pada 8 Agustus – 10 Oktober 2020 dengan mengadopsi sistem hibrid (offline dan online).

Meski begitu, tak mudah bagi Heri mengadakan Art Jog di situasi pandemi meski memasuki kebijakan new normal. Sama seperti pelaku seni lain, ia harus mencoba segala kemungkinan yang dapat diterapkan pada Art Jog. Berulang kali ia meyakinkan manajemen miliknya dan para seniman bahwa Art Jog tetap akan digelar. Heri pun kemudian meminta crew Pemad Manajemen untuk tetap berpikir dalam upaya menyiasati pandemi.

Heri meyakinkan bahwa Art Jog akan menjadi pilot project di wilayah seni rupa sekaligus pelopor pemulihan ekonomi di wilayah seni dan kreatif di era pandemi.

Pria yang mendapat julukan ‘pemad’, sekaligus ketua Joga Festival tersebut tidak membiarkan harapannya tenggelam begitu saja dalam pandemi. Ia membiarkan harapan di dadanya tetap berdetak sama seperti Addy Debil.

Debil yang mengawali kesenimannya dari seorang street art artist di Bandung ini memberontak untuk menyiasati pandemi dengan sebuah karya baru kolaborasi bersama kawannnya yang seorang cheff bertajuk SOON. Sebuah fusion antara food and beverage (F&B) dengan seni ala Debil.

Tidak sampai di situ, Debil yang setelah projek kolaborasi awal tahun gagal dihantam pandemi kemudian menemukan suaka lain bersama perusahaan penyedia layanan telekomunikasi, Smartfren, dalam projek kolaborasi bertajuk “The Unlimited Story of Indonesian Netijen”.

Projek tersebut menjadi bukti bagaimana harapan dan usahanya dapat mendobrak batas ruang dan waktu yang dianggap mustahil oleh kebanyakan orang di situasi pandemi.

Kenormalan baru justru semakin membuktikan sekaligus menegaskan bahwa ekosistem seni rupa tidak dapat menolak pemisahan tradisional antara apresiator dan objek seni.

Debil menyadari hal itu jauh sebelum memasuki era kenormalan baru. Ia membuat karyanya tidak hanya dapat diapresiasi di ruang tertutup seperti galeri namun ia membiarkan karyanya bergerak di ruang-ruang yang dapat dijamah oleh tiap elemen masyarakat.

Seni Rupa Sebagai Medium Pemulihan

“Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara”.

Begitulah kata Semar, tokoh pewayangan yang bijaksana, yang mempunyai arti harus dan wajib hukumnya mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan, serta membuang jauh sifat angkara murka, serakah, dan tamak.

Aforisme tersebut sangat terasa menggema seperti Gong di tengah-tengah masyarakat di situasi pandemi.

Ketika bangsa Indonesia memasuki situasi normal yang benar-benar baru setelah setahun dihantam tak bersisa oleh Covid-19, masyarakat tentulah belajar banyak atasnya. Solidaritas antarelemen masyarakat tak dapat ditampik. Ia menjamur di ruang-ruang yang tak terjamah dunia maya.

Fenomena sosial-budaya yang terjadi di masyarakat dan berubah menjadi kegelisahan menjadi salah satu penggerak seniman untuk mencipta dan menandai zaman dengan suatu karya. Karena itulah istilah kenormalan baru hanya digunakan untuk menandai dinamika masyarakat yang berjalan beriringan dengan pandemi seolah sesuatu yang normal. Bukan untuk seni rupa itu sendiri.

Tengoklah karya Debil yang berjudul Upside Down yang menyiratkan sebuah pesan betapa masyarakat remukakibat Covid-19. Tak hanya Debil dan seniman lain, teman-teman Debil pun terkenda imbas pandemi. Hal tersebutlah yang kemudian coba ia suarakan melalui lukisannya tersebut.

“Jadi [lukisan] itu aku bikin karena sepanjang tahun 2020 banyak orang di sekelilingku tak sedikit usahanya yang tumbang. Benar-benar dalam kurun waktu yang sebentar dan berlangsung begitu cepat,” kata Debil.

Guru Besar ISI Yogyakarta, Profesor M. Dwi Marianto mengatakan bahwa selain perihal ekonomi, seni rupa secara simbolik dapat menjadi sarana untuk menjaga nyala api dan menggerakkan masyarakat agar tetap optimis terhadap kehidupan dengan cara mengubah mindset.

Lebih lanjut, pria yang sekaligus pengamat seni tersebut menyampaikan bahwa seni tidak dapat dilepaskan dari kehidupan. Menurut ia seni harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Pernyataan Dwi Marianto tersebut selaras dengan pernyataan Ratri Ninditya, Koordinator Peneliti Kebijakan Seni dan Budaya, Koalisi Seni, dalam tulisannya berjudul “Membayangkan Ekosistem Seni Pascapandemi”.

Ninditya mengatakan bahwa transformasi relasi antarpihak dalam ekosistem kesenian perlu dipandang secara holistik lebih dari sekadar transaksi ekonomi. Dengan itu, cita-cita ekosistem seni yang sehat dapat terwujud sebagai lebih dari sekadar keberdayaan ekonomi, tetapi juga kepekaan daya refleksi kritis dari pengalaman hidup yang terus berubah.

Ketika era kenormalan baru masih menyisakan residu negatif akibat hantaman virus, seni rupa salah satunya, mampu membantu masyarakat pulih secara psikis. Dengan begitu mental masyarakat kemudian akan bertumbuh dengan positif dan kuat. Masyarakat lalu dapat kembali tampil untuk sampai pada kebahagiaan dan kesejahteraan. Persis seperti yang dikatakan tokoh pewayangan, Semar di atas.

Sinyal tersebut ternyata ditangkap baik oleh perupa Sohieb Toyaroja yang sedang menggelar pameran di Jogja Gallery. Kali ini Sohieb mengangkat tema “Semar Ngruwat Jagad”. Ia mencoba menyampaikan ajaran Semar secara tersirat melalui lukisan-lukisannya.

Dari situ semakin mengafirmasi peran seni rupa sebagai sebuah representasi ledakan emosi seniman. Ledakan emosi tersebut menular menjadi solidaritas nasional bahkan internasional. Seniman akan terus bergerak di tengah era kenormalan baru. Seperti kata Heri Pemad, bahwa tidak ada istilah seniman itu mati.

Ia selalu meyakini kekuatan seni rupa untuk menandai zaman sebagai arsip ingatan kolektif.

Baik Heri Pemad ataupun Addy Debil, mereka sama-sama memberontak terhadap pasung kreatifitas. Pandemi justru membawa mereka pada jalan lain dalam menyiasati Covid-19. Melalui karyanya masing-masing, mereka menandai sebuah zaman ketika dunia luluh-lantak akibat coronavirus.

Mereka menyadari sejak awal bahwa seni (termasuk di dalamnya seni rupa) akan selalu bergerak. Ninditya mengasosiasikannya dengan jaringan rizomatik yang terus bergerak dan saling terhubung satu dengan yang lainnya sebagai sebuah fenomena sosial-budaya.

Karena itu upaya kompromi terhadap kenormalan baru merupakan daya seni rupa untuk mendobrak kebuntuan dan membalikkan situasi dari kerentanan ke situasi yang lebih baik. Seperti halnya Debil yang melalui karyanya Upside Down mengatakan bahwa pencarian kebahagiaan untuk menghindari kesedihan sudah seperti roda kehidupan yang selalu berputar.

Design a site like this with WordPress.com
Get started