Pameran Asana Bina Seni yang kembali dihelat kini telah sampai pada hari terakhir pameran digital sejak dibuka pada 25 Juli lalu. Program milik Yayasan Biennale Yogyakarta tersebut sejak pembukaannya dapat juga dikunjungi secara daring di Taman Budaya Yogyakarta namun telah berakhir pada 4 Agustus lalu.
Melalui Asana Bina Seni, Yayasan Biennale Yogyakarta ingin mendukung terciptanya ekosistem seni rupa yang berkelanjutan di Yogyakarta. Gagasan tersebut di atas dimulai dari visi Yayasan Biennale Yogyakarta untuk berkontribusi dalam proses pendidikan seni, selain juga melalui penyelenggaraan pameran Biennale Jogja dan Simposium Khatulistiwa.
Asana Bina Seni, sebagai pra Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 menghadirkan sebelas karya seni dari tujuh seniman dan empat kolektif dengan diikat pada satu payung MANTRA yang berarti tawaran ritual untuk bersama menjadi doa demi kebaikan semua manusia.
Tema yang diangkat para seniman di Asana Bina Seni kali ini mencakup lokalitas, lingkungan, identitas dan tubuh, serta fragmentasi sosial. Dua diantara peserta ialah Radeh Kukuh Hermadi dengan karya berjudul Matinya Tanah Firdaus, dan kolektif Proyek Benggala yang menggali kontekstualitas makna sebuah pacul.
Raden Kukuh mencoba merekonstruksi narasi yang hilang di daerah tempat ia tinggal, Gunung Kidul. Rekonstruksi tersebut menyasar pada proses deforestation dan desertification yang berpuncak pada zaman gaber beriringan dengan serangan hama tikus tahun 1960an.
Ketertarikan Kukuh pada hilangnya narasi di Gunung Kidul dimulai pada awal 2020 ketika ia membaca catatan seorang Geolog bernama Franz Wilhelm Junghuhn dalam buku Pulung Gantung karya Darmaningtyas. Junghuhn mengatakan bahwa Gunung Kidul pada tahun 1800 merupakan daerah indah, lebat, hijau. Ia sampai-sampai menjulukinya dengan Tanah Firdaus. Padahal pasca masa kemerdekaan daerah Gunung Kidul justru dikenal sebagai daerah gersang dan gundul. Dari sinilah kemudian Kukuh berupaya untuk mengungkap hilangnya narasi tersebut melalui karyanya.
Tak jauh beda dengan Kukuh melalui Matinya Tanah Firdaus, Proyek Benggala mencoba menggali historisitas pacul sebagai artefak yang terus digunakan sampai saat ini. Fenomena tersebut beririsan dengan tradisi lisan dan representasi simbolik di dalam budaya agraria hingga menyasar pada ideologi dan politik kekuasaan.
Proyek interdisipliner yang digarap oleh Racmhad Afandi, Adnan Aditya, Adhi Pandoyo, dan Awalludin M mengungkap sisa peninggalan Sunan Kalijaga yang bertumpu pada pacul sebagai artefak.
Upaya merepresentasi pacul melalui karya seni, pertama kali tercetus oleh Awalludin M (Cak Udin). Cak Udin, yang juga ketua Lesbumi, mengatakan bahwa Sunan Kalijaga pernah memberi wejangan kepada Ki Ageng Selo terkait pacul. Wejangan tersebut merujuk pada anatomi pacul dan filosofi atas kehidupan manusia.
Pacul terdiri dari tiga bagian dengan makna yang berbeda. Pertama, bagian paling tajam atau pacul berarti Ngipatake barang kang Muncul (Membuang barang yang mendugul atau tidak rata). Maknanya adalah manusia harus selalu berbuat baik dengan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak rata, seperti ego dan sifat jelek lain. Kedua, lingakaran tempat kayu atau Bawak berarti Obahing Awak (Bergeraknya tubuh). Maknanya adalah manusia hidup diwajibkan berikhtiar mencari rezeki dari Gusti Allah guna memenuhi kebutuhan hidup disamping menyembah-Nya. Ketiga, batang kayu sebagai pegangan atau Doran berarti Donga Marang Pangeran (Berdoa kepada Gusti Allah). Maknanya adalah manusia harus senantiasa ingat dan menyembah Gusti Allah.
Pada Matinya Tanah Firdaus, kita dapat melihat Radeh Kukuh Hermadi menggantung sembilan karung goni yang telah dipotong menjadi persegi panjang. Di muka karung goni terdapat sebuah gambar yang merepresentasikan Gunung Kidul tahun 1960. Dua karung paling depan merupakan gambar seorang simbok-simbok; bagian kanan membawa kelapa dan beras sebagai representasi Gunung Kidul di tahun 1800 sebagai daerah hijau yang masih mampu menghasilkan banyak hal, sedangkan bagian kiri membawa olan-olan (semacam ulat sagu yang hidup di akar pohon).
Pada slide kedua kanan terdapat gambar bunga jati, ketiga adalah kayu jati dan mahoni, lalu industri arang rumahan, gubuk kecil dengan asap membubung. Pada bagian tengah, karung goni diberi warna hitam sebagai transisi ke sisi sebelah kiri. Setelahnya adalah peristiwa penyerangan tikus-tikus yang berpuncak pada zaman gaber. Simbok pembawa olan-olan merepresentasikan konsumsi makanan kebun atau alas pada 1800 sebagai pengganti protein.
Dengan dikelilingi karung goni pada bagian inti-tengah terdapat sebuah kotak di atas meja berisi banyak arang dan satu sketsa hamparan alam hijau berbukit yang merepresentasikan Gunung Kidul tahun 1800an.
Arang tersebut menjadi jawaban penduduk Gunung Kidul atas eksploitasi hutan oleh pemerintah Hindia-Belanda dan Keraton yang membuat tanah luruh menyisakan batuan kapur yang tidak dapat diolah.
Pada artikel dalam jurnal Lembaran Sejarah berjudul Pengelolaan Hutan Jati di Afdeeling Gunung Kidul 1846-1933 terbitan 2001 dipaparkan bahwa Keraton Yogyakarta membutuhkan banyak kayu jati untuk keperluan pembangunan Pasanggrahan Ambarukmo di Gowok.
Kala itu keraton masih sangat mempercayai aturan adat dan kepercayaan Jawa dalam pemilihan kayu jati yang baik. Menurut adat dan kepercayaan Jawa, pohon jati apabila dijadikan bahan bangunan rumah akan berpengaruh terhadap kehidupan orang yang tinggal di dalamnya. Dari situlah pembangunan tersebut justru dinilai sebagai suatu pemborosan.
Kebutuhan kayu bakar bagi pabrik gula dan arak kala itu pun didorong oleh pemerintah kolonial yang berakibat pada gundulnya hutan-hutan.
Penduduk Gunung Kidul yang kala itu menanggung akibat dari gundulnya hutan kemudian menyiasati dengan industri arang rumahan agar bertahan hidup. Kukuh bercerita bahwa penduduk Gunung Kidul kala itu kesulitan bercocok-tanam. Padi yang ditanam setahun sekali membuat mereka menyiasati dengan menanam tanaman lain seperti kacang-kacangan.
Kayu sebagai bahan baku pembuatan arang penduduk ambil dari milik pemerintah Hindia-Belanda. Dengan kata lain penduduk Gunung Kidul menggarong kayu glondongan setelah kayu tersebut dihanyutkan ke sungai (baca: pengiriman kayu kuno).
Kukuh juga menambahkan audio hasil wawancara ia dengan penduduk desa Wonolagi, Gunung Kidul yang dimixing dengan audio narasinya yang menceritakan hilangnya narasi Gunung Kidul tahun 1800 sebagai daerah hijau. Audio tersebut menambah kesan murung dan gelap pada Matinya Tanah Firdaus.
Berbeda dengan Kukuh, Proyek Benggala menciptakan sebuah ruang yang dapat diterka sebagai sebuah mushola kecil. Mereka menyebutnya dengan multishola. Di tengah-tengah terdapat karpet merah dengan di atasnya bagian tepi terdapat sembilan penutup kepala seperti blangkon, iket, dan topi fedora. Sedangkan di bagian bawah pojok kiri-kanan terdapat kain hijau dan putih. Barulah tepat di inti karpet diletakkan empat cangkul yang disusun terbalik saling memunggungi sehingga menyerupai tatakan Al-Qur’an. Di tengah titik perpotongan empat pacul berdiri sebuah senthir dan menggantung sebuah tasbih.
Empat pacul tersebut didapat dari tempat yang berbeda-beda begitupun dengan jenisnya. Dari empat pacul tersebut, hanya satu yang merupakan pacul wejangan Sunan Kalijaga. Tiga pacul lain merupakan pacul modern. Perbedaannya terletak pada bagian plat atau pacul. Plat pada pacul modern biasanya dapat dilepas-pasang. Semacam bagian plat paling tajam tidak terhubung langsung dengan Bawak. Sedangkan plat pada pacul versi wejangaan Sunan Kalijaga langsung terhubung dengan Bawak tanpa sambungan.
Adnan dan Rachmad mengatakan bahwa ketika membicarakan pacul tak terlepas dari syair Gundul-Gundul Pacul. Syair yang telah ada sejak tahun 1400 itu ditulis dan dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga.
Pacul secara filosofi membicarakan hubungan dan pekerjaan manusia dengan Gusti Allah. Manusia dituntut untuk berilmu, bekerja yang bermanfaat, lalu menjadi seorang manusia utuh, setelahnya manusia akan menjadi pemimpin. Namun, ketika manusia yang telah memiliki pacul lalu ia justru gembelengan atau sombong dan ceroboh dia akan jatuh. Kalau dia jatuh, semua akan jatuh. Karenanya syair Gundul-gundul pacul merupakan nasihat oleh sang Wali kepada pemimpin (baca: pemimpin Jawa) untuk mengutamakan kesejahteraan rakyat. Berikut syair dari Gundhul-gundhul Pacul.
Gundhul gundhul pacul cul
gembèlengan
Nyunggi nyunggi wakul kul
gembèlengan
Wakul ngglimpang segané dadi sak latar
Wakul ngglimpang segané dadi sak latar
Gundul gundul cangkul, sembrono
Membawa bakul (di atas kepala) dengan sembrono
Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman
Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman.
Selain Sunan Kalijaga yang memberi simbolisasi pada pacul, Soekarno ketika kolonialisme berakhir menggunakan moment tersebut sebagi dalih pemberian makna lain pada pacul. Pacul merepresentasikan semangat revolusioner, kepribadian, dan kemajuan. Pembangunan Semesta Nasional Berencana pada 1 Januari 1961 pun juga dimulai dengan upacara pengayunan pacul oleh Soekarno.
Gambar pacul pun juga terdapat pada sajadah di bagian mihrab multishola milik Proyek Benggala. Dua pacul berhadapan seolah membentuk segitiga berlatar belakang pemandangan alam dengan sebuah gunung dan diatas sajadah tersebut terletak sebuah blangkon. Pada dinding mihrab atas menggantung sebuah cermin bulat yang dapat ditafsir sebagai simbol dari kolektif Benggala.
***
Terdapat titik kesamaan antara karya Proyek Benggala dengan Matinya Tanah Firdaus. Mereka sama-sama menggali historisitas sebuah benda atau tempat yang terikat sebuah mikro-makro-kosmos.
Pacul sebagai sebuah artefak yang menjadi simbol atas peradaban masa lalu mencerminkan sebuah laku manusia agar selalu ingat kepada Gusti Allah. Sebuah perjuangan untuk selalu mengusahakan hidup yang baik melalui pekerjaan tercermin dalam entitas pacul.
Begitupun dengan Matinya Tanah Firdaus yang memproyeksikan laku eksploitatif manusia yang diganjar dengan zaman gaber berbarengan dengan serangan hama tikus. Hanya karung goni, peninggalan pemerintah Hindia-Belanda yang kala itu menjadi pelindung diri dari serangan tikus-tikus. Gunung Kidul pun kemudian tiba pada zaman nir-kehidupan ketika Indonesia justru telah merdeka.
Baik pacul, karung goni, dan arang merupakan artefak yang dilekati simbol-simbol peradaban masa lalu. Artefak itu mengartikulasikan sebuah pesan penting terkait kesatuan alam, manusia, dan Gusti Allah. Ia memberi pesan pada manusia modern untuk menjaga kesatuan dengan tidak merusak alam, tindak menafikan peran Gusti Allah, dan tetap menjadi pribadi yang tak gembelengan. Ia tak dapat dicerai menjadi bagian tersendiri melainkan satu. Ketunggalan yang satu atau Tritunggal.





