Indonesia Pasca-Pandemi dan Resilience

Indonesia bukanlah kanvas kosong yang hanya bisa dilukis oleh segelintir orang. Bukan pula ruang-ruang berbatas yang terisolasi. Indonesia ibarat tembok penuh coretan warna yang sesiapapun boleh menggoreskan kuasnya dan tak ada satu atau segelintir orang dapat menghapus atau memprivatisasinya.

Tak dapat disangkal bahwa bangsa Indonesia ada karena kesatuan atas keberagaman. Bangsa multikultur seolah kodrat untuk Indonesia.

Sebelum Indonesia lahir, ketika Nusantara masih dikuasai kerajaan-kerajaan, banyak suku-bangsa lain berdatangan sekadar untuk berdagang. Bersama perdagangan itu pula budaya dan sistem kepercayaan luar masuk dan berasimilasi dan/atau berakulturasi.

Tak pelak kemudian bangsa Indonesia punya beragam tradisi dengan kearifan lokal di tiap daerah di Indonesia. Salah satu kearifan lokal yang ada ialah membasuh anggota tubuh melalui gentong air (biasa terletak di samping sumur) atau Padasan.

Sumur masyarakat (terkhusus Jawa) pada masa-masa pra-kolonialisme lebih banyak terletak di luar rumah. Di sampingnya biasa terdapat gentong berisi air yang digunakan untuk mencuci kaki-tangan sebelum masuk rumah.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, masyarakat ketika itu masih banyak yang berprofesi sebagai petani. Ketika ingin memasuki rumah, petani yang tak akan jauh dari lumpur atau kotoran yang melekat, terlebih dahulu membersihkannya menggunakan air yang berasal dari gentong.

Kepercayaan masyarakat Jawa tentang lelembut atau roh/entitas kasat mata juga berkaitan dengan kearifan lokal tersebut. Lelembut dipercaya dapat menempel di tubuh manusia atau istilahnya sawanen. Salah satu cara mengusirnya adalah dengan membersihkan tubuh menggunakan air. Karena itu, gentong berisi air selalu diletakkan di luar rumah untuk membersihkan (minimal) kaki-tangan setelah keluar rumah.

Clifford Geertz, dalam bukunya Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi, mengungkap bahwa lelembut selalu masuk ke dalam tubuh dari bawah, melalui kaki. Hal ini masuk akal ketika masyarakat mempunyai budaya mencuci kaki sebelum masuk rumah melalui padasan.

Jika melihat dari sudut pandang ilmiah, membasuh anggota badan dengan air sebelum masuk rumah dapat mencegah virus menular penyebab penyakit menjangkiti manusia.

Budaya tersebut punya kaitan erat dengan pandemi Covid-19 saat ini. Sebelum vaksin macam Sinovac dan/atau AstraZeneca diciptakan, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyarankan setiap orang mencuci tangan (dengan sabun). Tangan menjadi sarana paling mudah menularkan corona virus desease karena orang kerap tak sadar mengusapkan tangan ke daerah wajah. Padahal virus tersebut mudah masuk melalui hidung dan mulut.

Virus barangkali menjadi alasan utama masyarakat Jawa mempunyai kearifan lokal cuci kaki-tangan sebelum masuk rumah melalui gentong.

Sebelum Clifford Geertz melakukan penelitan di daerah Mojokuto, Jawa Timur, yang menghasilkan karya masyur “Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi”, Hindia-Belanda telah mengalami epidemi dalam skup lokal dan regional. Salah satunya dalam kasus penyakit cacar.

Penyakit cacar menjadi penyebab kematian terbanyak di Jawa sampai pada awal abad ke-20. Layaknya vaksinasi Covid-19, vaksinasi cacar pun dilakukan dalam mencegah penyebaran penyakit. Meski setelah itu tidak ada usaha lain untuk mengembangkan pemeliharaan kesehatan masyarakat di Jawa.

Jurnal Humaniora edisi 3 Oktober 2006 memuat sebuah artikel berjudul “Dari Mantri Hingga Dokter Jawa: Studi Kebijakan Pemerintahan Kolonial Dalam Penanganan Penyakit Cacar di Jawa Abad XIX – XX”. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa pihak yang mempunyai peranan besar dalam proses vaksinasi cacar di wilayah Jawa adalah para mantri dan dokter djawa sebagai dokter pembantu.

Mereka dapat mudah masuk ke tengah-tengah masyarakat melalui pendekatan kultural dan kedekatan emosional. Proses ini tampaknya menjadi kesempatan transfer pengetahuan mengenai penyakit kepada masyarakat.

Bisa jadi pembuatan sumur di luar rumah dan penggunaan gentong air merupakan residu dari proses transfer pengetahuan tersebut.

Nahas, ketika modernisasi masuk ke Hindia-Belanda, Indonesia perlahan kehilangan piranti tersebut. PAM telah menggantikan sumur dan akibatnya gentong air pun kehilangan tempatnya. Hal tersebut diperparah dengan hotel-hotel yang menyedot air tanah sehingga membuat masyarakat di sekitarnya kehilangan sumber air.

Padasan atau gentong tanah liat berisi air akhirnya kembali mengingatkan masyarakat saat ini dengan kearifan lokal yang telah lama ditinggalkan.

Masyarakat kembali timbul kesadaran untuk menyediakan sarana cuci kaki-tangan di depan rumah. Meski kini bukan lagi menggunakan gentong melainkan kran air. Atau apapun itu asal dapat menampung air untuk membasuh kaki-tangan agar bersih dari Covid-19.

Sebenarnya, masyarakat Indonesia telah mempunyai sistem antisipasi penyebaran virus macam Covid-19 jauh sebelum kolonialisme masuk. Pengetahuan dan pengobatan alam yang dimiliki suku-suku di Nusantara sedikit banyak telah mengurangi tingkat mortalitas dan meningkatkan taraf kehidupan.

Kita bisa melihat masyarakat adat Sunda di wilayah kabupaten Lebak, Banten yang sering disebut orang Kanekes atau suku Baduy dalam menerapkan tradisi masuk ke hutan bagi orang Rimba, dan menetap dalam kurun waktu tertentu serta melarang orang asing masuk yang disebut besesandingon.

Tradisi tersebut bukankah mirip dengan karantina wilayah yang dilakukan pemerintah?

Di lain sisi, mengutip dari laman projectmultatuli.org bahwa ketika Covid-19 merebak, masyarakat Baduy Luar mempunyai inisiatif menjaga perbatasan, serta membikin aliran air di sekitar luar kawasan Baduy yang ditujukan untuk mencegah orang-orang masuk sembarangan.

Hasilnya adalah tak ditemukan satupun kasus yang melibatkan Covid-19 sejak awal penyebarannya di Indonesia.

Membayangkan Indonesia pasca-pandemi tentu tak sekalut itu meski juga tak mudah (seperti) membangun perekonomian yang sempat sekarat.

Nyatanya dari dua contoh tradisi di atas yaitu padasan dan besesandingon, gotong-royong masyarakat menjadi kekuatan besar dalam menghadapi permasalah seperti pandemi Covid-19.

Andai pandemi ini pergi, masyarakat kiwari (tanpa melepas peranan negara) telah mempunyai kekuatan yang berasal dari pengetahuan dalam menanggulangi bencana alam dan non-alam.

Soekarno, dalam pidatonya 1 Juni 1945, pernah mengatakan, “… Kita mendirikan Negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemiko yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan Negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!”

Ungkapan Soekarno tersebut tampak jelas tidak lahir dari kekosongan. Gotong royong menjadi saripati terakhir dari Pancasila.

Ketika pemerintah mengumumkan bahwa Covid-19 telah masuk di Indonesia, ketika itu pula banyak orang membentuk kelompok untuk membantu penanganan Covid-19.

Kita bisa melihat beberapa di antaranya yaitu Solidaritas Pangan Jogja (SPJ), Solidaritas Sosial Bandung, serta Food Not Bomb.

Bukan hanya itu, banyak juga media daring yang mendedikasikan platform mereka untuk mempublikasikan informasi apapun tentang solidaritas atau penjualan oksigen seperti yang dilakukan sudutkantin.com.

Iklim gotong royong di ruang digital akan menjadi budaya pasca-pandemi. Hal ini, sekali lagi, dapat dibaca bahwa embrio bangsa Indonesia ialah Gotong Royong.

Meski globalisasi – kalau tidak bisa dibilang westernisasi – mempengaruhi dinamika gotong royong di masyarakat, yang sedikit banyak telah pudar, namun di ruang lain macam ruang maya, gotong royong ternyata justru ada dan bahkan tumbuh subur seperti yang dapat kita lihat secara jelas ketika pandemi.

Karenanya kemudian, andai pandemi pergi, kita bisa berbangga dan optimis bahwa masyarakat Indonesia telah jauh lebih kuat.

Namun kita tentu juga harus berhati-hati sebab nilai gotong royong tersebut bisa benar-benar memudar dan akhirnya lenyap kalau kita tidak mengembangkan diri dan hanya berbangga dengan pengetahuan yang ada.

Kita tahu ruang digital menjadi arena pertarungan wacana. Banyak pihak terlibat di dalamnya. Di antara mereka mungkin punya sifat antagonisme atas semangat gotong royong. Kalau tidak hati-hati, kita akan jadi bagian dari aktor politik penyebab segregasi sosial radikal. Dari situ sentimen antarkelompok dapat meningkat drastis.

Kalau itu yang terjadi, bayangan Indonesia pasca-pandemi, akan benar-benar kalut. Tembok yang awalnya penuh warna akan menjadi satu warna ‘merah’ padam dan orang tak akan bisa menggoreskan kuas di atasnya.

Design a site like this with WordPress.com
Get started