
Membangun budaya membaca tidaklah sulit meski tidak mudah juga. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menumbuhkan budaya tersebut; apalagi untuk kita yang jauh dari kata mudah dalam mengakses bahan bacaan atau kultur membaca.
Tapi tenang, artikel kali ini akan mengupas budaya membaca dan rintangannya sampai ke akar serta akan memberimu langkah jitu untuk membangun budaya membaca. Check it out!
Budaya Membaca dan Tantangannya
Otak kita memang lebih suka menangkap sesuatu hal yang berpola, runtut, dan menyenangkan mata. Seperti ketika kita datang di pameran lukis, kita cenderung hanya melihat karyanya saja tanpa peduli dengan keterangan tertulis (caption) yang biasa menyertai sebuah karya.
Hal itu terjadi karena kita sering menganggap hasil akhir lebih penting daripada proses. Dalam hal ini proses membaca. Rentetan kata yang terangkai menjadi kalimat lalu menjadi paragraf dan terakhir wacana membutuhkan kesabaran dan ketenangan untuk memahaminya. Baru setelah selesai membaca kita menjadi tahu makna yang terkandung.
Nah, salah satu faktor yang menjadi hulu dari masalah ketidaksabaran tersebut ialah banjir informasi di media sosial kita. Tak heran jika banyak orang mudah terseret arus hoaks.
Contoh lain adalah ketika kamu berhadapan dengan komik. Bisa dihitung berapa banyak orang yang membaca [untuk memahami] kalimat pada text box dalam panel komik dibanding dengan mereka yang hanya melakukan scanning (baca cepat).
Sebuah pertanyaan kemudian bisa kita munculkan, “Budaya membaca itu membaca apa dan yang seperti apa? Bukankah membaca kalimat larangan juga termasuk membaca?”
Istilah membaca memang luas. Suatu fenomena yang terjadi di masyarakat pun menjadi objek yang bisa kita baca yang kemudian menghasilkan kesimpulan.
Terlepas dari luasnya istilah membaca, pada artikel kali ini, pembahasan membangun budaya membaca hanya terbatas pada sebuah kegiatan melihat, mengucap, dan memahami suatu wacana tertulis baik berupa artikel maupun buku.

Sebelum kita bisa membaca fenomena yang lebih luas, kita perlu mengisi diri kita dengan pengetahuan. Salah satu sumber pengetahuan ialah bacaan.
Ketika kita bisa membaca suatu fenomena dengan jernih dan jeli, kita tidak akan kesulitan dalam mengatasi permasalah dalam hidup yang datang silih-berganti. Karenanya, membangun budaya membaca menjadi suatu hal yang penting untuk kita miliki. Karena dari sanalah pintu kesuksesan juga akan terbuka lebar.
Delapan Langkah Membangun Budaya Membaca
Nah, tanpa perlu mengikuti kelas terapi membangun budaya membaca yang bertebaran di internet, berikut langkah ampuh, taktis, dan aplikatif buat kamu yang mau mulai membangun budaya membaca!
- Kenali Diri Sendiri
Yes! Kamu tidak salah baca. Mengenal diri sendiri menjadi langkah pertama yang wajib kamu lakukan. Hal ini memang klise dan menimbulkan kesan, “itu lagi-itu lagi”. Namun demikian, perkara mengenal diri sendiri akan menjadi tali pengikat konsistensimu dalam proses membaca. Apalagi jika yang kamu baca adalah buku dengan jumlah halaman yang tidak sedikit yang rawan membuatmu bosan.
Bukan hanya membosankan tapi kemungkinan besar kamu akan enggan menyentuhnya sejak mengetahui jumlah halaman tersebut. Belum mulai membaca tapi udah merasa berat buat membuka lembar pertama, bukankah ini menjadi ganjalan utama untukmu dalam membangun budaya membaca?
Solusinya, kamu bisa melakukan journaling untuk membantumu mengenali diri sendiri. Beberapa pertanyaan yang bisa menjadi pemantik, antara lain seperti:
- Mengapa aku tidak suka membaca?
- Mengapa ketika melihat buku, aku membayangkan suatu hal yang rumit dan menyebalkan?
- Kenapa aku harus membaca buku?
- Apakah budaya membaca buku penting buat masa depanku?
- Apa yang aku inginkan dalam hidup ini?
- Apa tujuanku membaca buku?
Setelah kamu merasa cukup dalam proses mengenal diri sendiri, kamu bisa bergerak ke langkah ke dua.
- Ubah Mindset
Percaya atau tidak, beberapa orang merasa terkuras energinya dan merasa stress ketika melihat sebuah buku yang harus ia baca. Hal ini bisa kita sebut dengan istilah psikosomatis. Sebuah istilah yang merujuk pada efek yang terjadi pada tubuh yang disebabkan oleh pikiran.
Mindset menjadi ganjalan lain dalam membangun budaya membaca. Kalaupun kita berhasil membaca sebuah buku hingga tuntas, bisa dipastikan tidak akan maksimal dalam memahami bacaan tersebut.
Hal tersebut begitu beralasan karena mindset-mu selalu menginterupsi tiap kali kamu membaca kalimat. Berbeda jika mindset-mu telah berganti dalam keadaan siap dalam proses membaca. Bukan tak mungkin kamu justru akan menghabiskan waktu yang lebih lama dalam membaca karena kamu menikmati itu.
- Temukan Bacaan Ringan
Nah! Sebelum kamu mulai dengan bacaan yang full dengan kalimat dan perlu pemahaman yang mendalam, kamu sebaiknya mulai dengan artikel ringan yang bisa dibaca sekali duduk atau buku bergambar.
Kamu bisa membaca cerpen atau komik. Mulailah dengan dua bacaan tersebut dulu. Setelah kamu bisa konsisten membaca tiap hari selama sebulan, kamu bisa bergeser ke buku-buku pengetahuan. Intinya kamu menemukan bacaan yang mampu membuatmu jatuh hati sehingga ketika membaca, kamu tidak merasa terbebani.
Jika kamu telah membaca buku dan tidak sadar bahwa kamu telah mencapai lembar terakhir, itu artinya kamu menikmati bacaanmu. Carilah bacaan-bacaan sejenis agar kamu tetap mau membaca.
- Buat Dirimu Terpapar Bacaan
Anak yang dibesarkan dengan orang tua penulis akan tumbuh dengan kultur membaca yang kuat dibanding dengan anak yang dibesarkan di keluarga petani yang jauh dari bacaan.
Pernyataan di atas memberikan sebuah kesimpulan bahwa seseorang perlu dekat dengan bahan bacaan. Dengan segala hal yang ada kaitan dengan buku atau literasi.
Jika kamu bukan seorang anak yang berasal dari keluarga atau lingkungan dengan kultur membaca, kamu bisa kok memanipulasi lingkungan sekitarmu agar mendekatkanmu dengan bacaan.
Sebagai contoh adalah kamu bisa memajang buku-buku di ruang-ruang yang sering kamu lalui seperti di ruang tamu, ruang makan, dan kamar tidur. Bahkan, Dian Sastrowardoyo meletakkan buku di toilet rumah. Apakah itu sebuah kebetulan belaka? Tentu tidak.

Sesering mungkin kita terpapar bacaan, makin mudah kita untuk membangun budaya membaca. Otak kita butuh pembiasaan. Ia suka hal-hal yang berpola dan konstan.
Cara lain yang juga efektif adalah pasang poster-poster penulis atau kutipan kalimat sebuah buku. Perhatikan saja kalau kamu main ke toko buku, kamu akan menemukan di berbagai dinding macam-macam poster. Mulai dari poster penulis sampai poster yang hanya berisi sebuah kutipan buku.
Hal di atas selain digunakan untuk membangun imajinasi pengunjung juga berguna memprovokasi mereka agar mau membaca. Nah, hal ini akan kita bahas pada langkah ke lima.
- Carilah Provokator
Ketika dalam proses membaca kita tiba-tiba kehilangan gairah, kita bisa mendongkraknya dengan sebuah pemantik. Persis seperti sebuah arang yang mulai meredup, kita tentu perlu mengipasnya agar ia tetap membara.
Hal ini wajar dalam membaca karena melibatkan energi kita. Ketika kita lelah, baik otak maupun fisik, mood yang tadinya membara pelan-pelan meredup. Solusinya selain istirahat ialah diri kita butuh diprovokasi.
Kamu bisa mendengarkan ulasan buku tersebut dalam bentuk audio atau video. Dengan mendengar dan melihat, kita akan menyerap ekspresi dan emosi pengulas. Sehingga gairah untuk melanjutkan proses membaca membara kembali.
Di sisi lain, kamu bisa menghadiri acara bedah buku tersebut. Mendiskusikan buku bersama pembaca lain akan membuka celah-celah menarik yang mungkin relate dengan apa yang terjadi dalam hidupmu. Alhasil, kamu bahkan akan membacanya secara lebih kritis karena kamu butuh jawaban atas sesuatu yang terjadi dalam hidupmu.
Kalau kedua hal di atas tidak bisa kamu dapatkan, jangan kecewa karena kamu masih punya dirimu sendiri. Memprovokasi diri sendiri. Pemantiknya adalah hasilmu mengenali diri sendiri. Inilah pentingnya mengenal diri sendiri sebelum mulai membangun budaya membaca.
- Gunakan Prinsip 20 X 15
Dalam proses membaca, kita akan merasa pikiran penuh. Hal ini wajar saja karena kita berusaha memahami bacaan. Jika kita tetap memaksa membaca dengan kondisi pikiran yang penuh kemungkinan besar kita akan skip beberapa hal yang tentu berhubungan satu dengan lainnya. Dan, jika hal tersebut terjadi kita akan bingung karena ada sesuatu yang putus dalam proses memahami bacaan.
Di sinilah kamu perlu mengambil jeda per 20 menit membaca. Kamu bisa beristirahat selama 15 menit sebelum melanjutkan proses membaca. Selama 15 menit istirahat kamu tidak boleh sama sekali membuka media sosial. Hal itu akan menjadi hambatan besar untuk seseorang yang baru awal dalam membangun budaya membaca.
Kamu bisa mengendapkan apa yang telah kamu baca lalu menulis poin-poin penting di kertas. Intinya adalah pikiranmu wajib istirahat hingga terasa ringan dan plong agar kamu bisa melanjutkan membaca.
- Matikan Handphone mu
Berkomitmenlah ketika membaca buku bahwa kamu sama sekali tidak akan membuka handphone. Kamu bisa membuat target perhari dalam membaca dan pada akhir proses membaca, kamu baru boleh memegang handphone.
Sebagai contoh, per hari kamu harus menyelesaikan lima puluh halaman. Setelah selesai lima puluh halaman pertama barulah kamu boleh memegang handphone.
Jika ingin lebih ekstrem, letakkan handphone dan segala pernak-pernik milikmu di tempat terpisah dari tempatmu membaca sehingga kamu bisa lebih fokus pada satu bacaan.
- Bacalah di Tempat Tenang
Proses dan cara orang membaca berbeda-beda. Ada yang harus di tengah keramaian dengan tak seorang pun dikenal atau di tempat sepi dan sunyi. Hal ini lagi-lagi berkaitan dengan hasilmu dalam mengenal diri sendiri
Jika kamu seorang yang lebih suka membaca di tempat sunyi, ya jangan berusaha menantang dirimu membaca di keramaian seperti di kafe. Mungkin bisa, tapi setelah kamu establish dalam membangun budaya membaca.
Sekarang kamu tahu bahwa ada beberapa langkah yang bisa dipakai untuk membangun budaya membaca. Hal tersebut tentu akan benar-benar berdampak jika kamu menjalankan dengan kesungguhan hati.
Maka dari itu lah langkah pertama membangun budaya membaca dibuka dengan “mengenal diri sendiri” karena hasil dari pengenalan diri sendiri akan membantu tiap detik ketika kita sedang dalam proses membaca.

Kamu tak perlu khawatir, jika memang ada niat untuk membangun budaya membaca, pasti selalu ada jalan. Yang perlu kamu ketahui adalah bukan hanya kamu yang struggle dalam membangun budaya membaca. Ribuan orang juga mengalami hal sama.
Jatuh-bangun, trial-error selalu menjadi bagian dari hidup manusia. Begitupun dalam membaca. Satu hal yang perlu kamu pastikan adalah kamu tidak berhenti. Jangan pernah berhenti untuk membaca walaupun satu paragraf. Dari langkah kecil itu, harapanmu untuk merengkuh budaya membaca akan tercapai.
Ketika kamu mencapai itu, kamu akan menemukan sesuatu yang luar biasa. Sebuah kekuatan yang selama ini kamu butuhkan untuk bergerak di tengah kepungan dunia yang tanpa sekat dan di tengah banjir arus informasi. Sesudah itu, pintu kesuksesan pun akan terbuka lebar-lebar.
