Dunia tampak lebih baik dan penuh warna di sepanjang tahun 2020. Segala kemalangan pupus. Virus mematikan lenyap. Orang-orang mulai tak gentar berinteraksi di tengah massa. Perekonomian kembali dengan pesat dan masyarakat kembali berdaya.
Begitulah sekilas terkaan terhadap karya Addy Debil dengan figur doodle bermata pejam miliknya dalam pameran tunggal ia bertajuk “Eyes Shut Fantasia”. Karakter yang ia ciptakan sejak 2011 tersebut merepresentasikan setengah perjalanan hidup manusia yang dilalui dengan mata terpejam yang dipandang jauh lebih indah dibanding realitas. Ruang hampa yang kemudian terbentuk dalam kegelapan ia isi dengan imaji-imaji warna-warni melalui figur-figur doodle dengan mata terpejam dengan bermacam ekspresi.
Terlepas dari itu, bagaimana relasi figur Debil yang dipenuhi kegembiraan dengan dinamika hidup ia sebagai seorang seniman di sepanjang 2020 dan semester pertama 2021. Apakah juga berjalan paralel dengan kehidupannya?
Pertaruhan di dunia seni rupa nyatanya membawa Addy Debil pada kemungkinan-kemungkinan yang tak ia duga sebelumnya.
Selepas virus lokal yang berepisentrum di Wuhan, Tiongkok mengubah dirinya menjadi virus global, pemerintah Indonesia lantas memberlakukan PSBB untuk seluruh wilayahnya pada Maret tahun lalu. Debil yang kala itu meneken kontrak dengan beberapa perusahaan dalam suatu kolaborasi seni rupa pada akhirnya pun lantak.
Dunia seni rupa memang menjadi salah satu bidang yang terdampak akibat pandemi Covid-19. Pakem konvensional seni rupa di Indonesia membuat seni rupa mengubah dirinya dan terpaksa kawin dengan dunia digital untuk dapat tetap survive. Meski tidak semua perupa mau melakukannya.
Hafez Gumay, Koordinator Advokasi Koalisi Seni, mengacu pada data Koalisi Seni per 3 April 2020 mengatakan terdapat 181 acara seni yang ditunda atau dibatalkan akibat Covid-19 yaitu 21 proses produksi, rilis, dan festival film, 98 konser, tur, dan festival musik, 1 acara sastra, 18 pameran seni rupa, 9 pertunjukan tari dan 34 pentas teater, pantomim, wayang, boneka, dan dongeng.
Sudah setahun lebih sejak data tersebut rilis. Ketika Indonesia memasuki era new normal sejak pemberlakuannya secara berkala dalam 4 fase pada 1 Juni 2020, bagaimana kemudian nasib dunia seni yang sempat ambruk?
Hibriditas Seni Rupa dan Pemberontakan
Selain Addy Debil, juga terdapat dua seniman muda yang sedang menghelat pameran tunggal yaitu Ummi Shabrina dan Bernandi Desanda. Mereka bekerja sama dengan Kohesi Initiative, sebuah galeri seni junior dari grup Srisasanti Syndicate, yang terletak di Tirtodipuran Link, jalan Tirtodipuran No. 50, Yogyakarta.
Kohesi Initiative hadir sebagai tempat untuk mewadahi seniman muda berkarya. Pameran tunggal mereka yanng masih akan berlangsung sampai dengan 6 Juni 2021 sejak pembukaannya bulan lalu, menjadi gelagat seniman muda yang tidak dapat membendung gairah dalam berkarya. Mereka mendobrak kebuntuan dan pembatasan akibat ketakmenentuan situasi bangsa.
Yogyakarta sebagai kota dengan konsentrasi seni rupa terbesar di Indonesia mulai menghidupkan kembali gairah seni rupa yang dibuktikan dengan tak sedikitnya perhelatan pameran seni rupa. Salah satunya dapat dilihat melalui Kohesi Initiative.
Festival Seni yang disebut paling besar se-Asia, Art Jog, pun pada tahun ini akan tetap digelar dengan segala risiko yang ada.
Ketika dihubungi pada, Selasa (01/06/2021) Heri Pemad, pendiri Art Jog, mengatakan dalam pertemuannya melalui video conference, zoom, dengan [Mantan] Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama serta Direktur Jenderal Kebudayaan Indonesia, Hilmar Farid tahun lalu, bahwa ia akan tetap membuat sebuah karya berupa event. Khususnya di bidang seni rupa. Meski ketika itu Covid-19 sedang marak-maraknya menginfeksi masyarakat secara brutal.
Ia menegaskan bahwa, “…bukan karena saya melawan kondisi,” kata Heri, “akan tetapi saya akan berusaha bersahabat dengan pandemi”.
Dan memang benar pernyataan Heri Pemad tersebut. Art Jog bertajuk ‘Resilience’ sukses digelar pada 8 Agustus – 10 Oktober 2020 dengan mengadopsi sistem hibrid (offline dan online).
Meski begitu, tak mudah bagi Heri mengadakan Art Jog di situasi pandemi meski memasuki kebijakan new normal. Sama seperti pelaku seni lain, ia harus mencoba segala kemungkinan yang dapat diterapkan pada Art Jog. Berulang kali ia meyakinkan manajemen miliknya dan para seniman bahwa Art Jog tetap akan digelar. Heri pun kemudian meminta crew Pemad Manajemen untuk tetap berpikir dalam upaya menyiasati pandemi.
Heri meyakinkan bahwa Art Jog akan menjadi pilot project di wilayah seni rupa sekaligus pelopor pemulihan ekonomi di wilayah seni dan kreatif di era pandemi.
Pria yang mendapat julukan ‘pemad’, sekaligus ketua Joga Festival tersebut tidak membiarkan harapannya tenggelam begitu saja dalam pandemi. Ia membiarkan harapan di dadanya tetap berdetak sama seperti Addy Debil.
Debil yang mengawali kesenimannya dari seorang street art artist di Bandung ini memberontak untuk menyiasati pandemi dengan sebuah karya baru kolaborasi bersama kawannnya yang seorang cheff bertajuk SOON. Sebuah fusion antara food and beverage (F&B) dengan seni ala Debil.
Tidak sampai di situ, Debil yang setelah projek kolaborasi awal tahun gagal dihantam pandemi kemudian menemukan suaka lain bersama perusahaan penyedia layanan telekomunikasi, Smartfren, dalam projek kolaborasi bertajuk “The Unlimited Story of Indonesian Netijen”.
Projek tersebut menjadi bukti bagaimana harapan dan usahanya dapat mendobrak batas ruang dan waktu yang dianggap mustahil oleh kebanyakan orang di situasi pandemi.
Kenormalan baru justru semakin membuktikan sekaligus menegaskan bahwa ekosistem seni rupa tidak dapat menolak pemisahan tradisional antara apresiator dan objek seni.
Debil menyadari hal itu jauh sebelum memasuki era kenormalan baru. Ia membuat karyanya tidak hanya dapat diapresiasi di ruang tertutup seperti galeri namun ia membiarkan karyanya bergerak di ruang-ruang yang dapat dijamah oleh tiap elemen masyarakat.
Seni Rupa Sebagai Medium Pemulihan
“Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara”.
Begitulah kata Semar, tokoh pewayangan yang bijaksana, yang mempunyai arti harus dan wajib hukumnya mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan, serta membuang jauh sifat angkara murka, serakah, dan tamak.
Aforisme tersebut sangat terasa menggema seperti Gong di tengah-tengah masyarakat di situasi pandemi.
Ketika bangsa Indonesia memasuki situasi normal yang benar-benar baru setelah setahun dihantam tak bersisa oleh Covid-19, masyarakat tentulah belajar banyak atasnya. Solidaritas antarelemen masyarakat tak dapat ditampik. Ia menjamur di ruang-ruang yang tak terjamah dunia maya.
Fenomena sosial-budaya yang terjadi di masyarakat dan berubah menjadi kegelisahan menjadi salah satu penggerak seniman untuk mencipta dan menandai zaman dengan suatu karya. Karena itulah istilah kenormalan baru hanya digunakan untuk menandai dinamika masyarakat yang berjalan beriringan dengan pandemi seolah sesuatu yang normal. Bukan untuk seni rupa itu sendiri.
Tengoklah karya Debil yang berjudul Upside Down yang menyiratkan sebuah pesan betapa masyarakat remukakibat Covid-19. Tak hanya Debil dan seniman lain, teman-teman Debil pun terkenda imbas pandemi. Hal tersebutlah yang kemudian coba ia suarakan melalui lukisannya tersebut.
“Jadi [lukisan] itu aku bikin karena sepanjang tahun 2020 banyak orang di sekelilingku tak sedikit usahanya yang tumbang. Benar-benar dalam kurun waktu yang sebentar dan berlangsung begitu cepat,” kata Debil.
Guru Besar ISI Yogyakarta, Profesor M. Dwi Marianto mengatakan bahwa selain perihal ekonomi, seni rupa secara simbolik dapat menjadi sarana untuk menjaga nyala api dan menggerakkan masyarakat agar tetap optimis terhadap kehidupan dengan cara mengubah mindset.
Lebih lanjut, pria yang sekaligus pengamat seni tersebut menyampaikan bahwa seni tidak dapat dilepaskan dari kehidupan. Menurut ia seni harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Pernyataan Dwi Marianto tersebut selaras dengan pernyataan Ratri Ninditya, Koordinator Peneliti Kebijakan Seni dan Budaya, Koalisi Seni, dalam tulisannya berjudul “Membayangkan Ekosistem Seni Pascapandemi”.
Ninditya mengatakan bahwa transformasi relasi antarpihak dalam ekosistem kesenian perlu dipandang secara holistik lebih dari sekadar transaksi ekonomi. Dengan itu, cita-cita ekosistem seni yang sehat dapat terwujud sebagai lebih dari sekadar keberdayaan ekonomi, tetapi juga kepekaan daya refleksi kritis dari pengalaman hidup yang terus berubah.
Ketika era kenormalan baru masih menyisakan residu negatif akibat hantaman virus, seni rupa salah satunya, mampu membantu masyarakat pulih secara psikis. Dengan begitu mental masyarakat kemudian akan bertumbuh dengan positif dan kuat. Masyarakat lalu dapat kembali tampil untuk sampai pada kebahagiaan dan kesejahteraan. Persis seperti yang dikatakan tokoh pewayangan, Semar di atas.
Sinyal tersebut ternyata ditangkap baik oleh perupa Sohieb Toyaroja yang sedang menggelar pameran di Jogja Gallery. Kali ini Sohieb mengangkat tema “Semar Ngruwat Jagad”. Ia mencoba menyampaikan ajaran Semar secara tersirat melalui lukisan-lukisannya.
Dari situ semakin mengafirmasi peran seni rupa sebagai sebuah representasi ledakan emosi seniman. Ledakan emosi tersebut menular menjadi solidaritas nasional bahkan internasional. Seniman akan terus bergerak di tengah era kenormalan baru. Seperti kata Heri Pemad, bahwa tidak ada istilah seniman itu mati.
Ia selalu meyakini kekuatan seni rupa untuk menandai zaman sebagai arsip ingatan kolektif.
Baik Heri Pemad ataupun Addy Debil, mereka sama-sama memberontak terhadap pasung kreatifitas. Pandemi justru membawa mereka pada jalan lain dalam menyiasati Covid-19. Melalui karyanya masing-masing, mereka menandai sebuah zaman ketika dunia luluh-lantak akibat coronavirus.
Mereka menyadari sejak awal bahwa seni (termasuk di dalamnya seni rupa) akan selalu bergerak. Ninditya mengasosiasikannya dengan jaringan rizomatik yang terus bergerak dan saling terhubung satu dengan yang lainnya sebagai sebuah fenomena sosial-budaya.
Karena itu upaya kompromi terhadap kenormalan baru merupakan daya seni rupa untuk mendobrak kebuntuan dan membalikkan situasi dari kerentanan ke situasi yang lebih baik. Seperti halnya Debil yang melalui karyanya Upside Down mengatakan bahwa pencarian kebahagiaan untuk menghindari kesedihan sudah seperti roda kehidupan yang selalu berputar.
