Seribu Rapalan di Jantung Samas

Rujito, seorang konservator berada di selasar rumahnya di daerah Sanden, Samas (Sabtu, 14/08/2021).

“Itu kita potong-kita sembelih, tetapi pada waktu menyembelih kita harus membaca rapalan. Sebelum kita buang ke laut kepalanya, kita buka mulutnya, kita sumbat pakai padi-padian atau kacang-kacangan,” aku Rujito. Ia lantas menghisap rokok yang sempat terhenti karena ajuan pertanyaan saya. “Kalau tidak kami lakukan seperti itu, dengan menyumbat menggunakan padi atau kacang-kacangan, nanti ombak laut akan naik, banyak bencana, masyarakat ada yang sakit,” katanya dengan nada lirih.  

***

Bagian paling selatan pulau Jawa masih menyimpan banyak enigma kisah yang jarang terkuak dan mencuat ke jagad maya. Kisah-kisah itu mengalir deras pada tiap nadi penduduk Samas.

Matahari di barat langit secara perlahan menghilang dibalik kepulan awan hitam. Mengubah kehidupan dalam terang ke kegelapan malam.

Bau amis itu makin menjadi menyeruak masuk ke dalam hidung. Pohon-pohon cemara mulai terlihat seperti siluet. Deburan ombak pantai Samas meraung-raung ditelan adzan Isya.

Dari selatan seorang pria berumur 60 tahun berjalan sambil menuntun anak kecil masuk ke dalam rumah bercat biru. Tinggi ia di atas rata-rata penduduk Samas. Sekitar 180 cm. Tulang tangannya besar, begitupun bagian kaki. Penduduk Samas memanggilnya dengan Rujito, seorang konservator sejak tahun 2000.

Di depan rumah Rujito terhampar perlengkapan nelayan seperti jaring, pelampung, dan styrofoam box yang barangkali dipakai sebagai penyimpanan ikan. “Memang saya akui, dulu saya adalah pemburu,” kata Rujito tegas.  

Rujito terekam dalam dalam sejarah sebagai seorang yang giat dalam laku konservasi penyu. Ia kadang sampai harus mengeluarkan uang untuk membiayai laku konservasi. Kini bersama komunitas reISPIRASI, Rujito dapat menghirup nafas lebih panjang lantaran kerja penyelamatan penyu ia lakukan secara bersama-sama.

Tak dinyana, Rujito dulunya merupakan seorang yang gemar berkelahi dan suka memburu penyu untuk dikonsumsi. Ia percaya bahwa daging penyu punya khasiat tersendiri bagi tubuhnya.

Kami berbincang di atas amben menghadap ke timur di depan selasar rumah Rujito. Di atas kami bulan separoh terlihat bersinar dan sesekali tersapu daun cemara. “Sesudah diberi sosialisasi dan pembinaan dari dinas kelautan dan perikanan, saya akhirnya sadar akan pelestarian penyu,” pungkas Rujito. “Sampai sekarang pun saya masih menjadi penyelamat penyu, tidak pernah ada kata pensiun.”

Rujito memang tak kenal lelah. Di samping kegiatannya bertani, ia masih tetap memberikan atensi lebih pada penyu. Ia mengaku pada awal-awal konservasi, hanya Rujito yang bergerak dalam penyelamatan penyu, khususnya di wilayah pantai selatan. “Kan dulu itu baru [wilayah] Samas. Lalu [seiring berjalannya waktu] banyak yang mengikuti di pantai lain bagian selatan seperti Goa Cemara, Mina Bahari, Trisik, dan Kuwaru.”

Waktu, tenaga, dan pengeluaran yang tak sedikit membuat beberapa dari usaha penyelamatan penyu di wilayah macet. “Dia (konservator wilayah lain) kemudian mengikuti apa yang saya lakukan. Sampai sekarang ada yang masih berjalan, ada yang macet, bahkan ada yang tidak berjalan. Kalau saya tidak muluk-muluk yang penting aktif selalu berperan tiap harinya melakukan usaha-usaha konservasi.”

Rumah Rujto terlihat dari bibir pantai. Foto Andreas Pramono

Rumah Rujito berdiri di padukuhan Ngepet, Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, RT 64 sekaligus RT terakhir yang letaknya 100 meter dari pesisir menghadap langsung ke samudera hindia. Lahan tempat Rujito mendirikan rumah dan lahan dimana ia biasa bertani berstatus Sultan Ground (SG).

Tanah yang ada di kalurahan Srigading paling besar digunakan untuk sawah dan ladang seluas 432,8250  Ha. Penggunaan terluas kedua 210,4000 Ha diperuntukkan bagi pemukiman. Jalan menyita 71,3000 Ha, bangunan umum seluas 3,1512 Ha, pekuburan seluas 3,3233 Ha dan pengunaaan lain-lain seluas 36,6005 Ha.

Rujito bersama anak lelakinya mendapat bagian lahan untuk mereka olah. “Kemarin baru aja panen brambang (bawang merah).” Lahan ia tidak jauh dari rumah. Sekitar 250 meter ke utara.

Di malam hari, tak banyak penduduk beraktivitas. Di samping kiri-kanan rumah Rujito beberapa orang terlihat duduk bersantai di selasar dengan hanya diterangi lampu kecil 30 watt berwarna putih menyala. “Itu tanah dikapling-kapling gitu. Tanah SG-tanah Keraton buat saya kelola bareng anak. Hasilnya buat kami sendiri.”

Sultan ground merupakan istilah khusus yang biasa digunakan untuk menyebut tanah-tanah milik keraton Yogyakarta yang sebelumnya merupakan bekas tanah Swapraja setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 dalam Hukum Tanah Nasional.

Lahan tempat biasa Rujito melakukan kegiatan penetasan telur penyu berada di barat daya rumahnya sekitar 50 meter. Tempat seluas 290 m2 itu selain digunakan sebagai tempat penetasan sekaligus menjadi basecamp reISPIRASI, juga tempat pengkondisian tukik sebelum dilepas di laut Samas. Di dalam basecamp terdapat setidaknya 15 buis beton sebagai tempat penetasan. Penggunaan buis beton dilakukan sebagai upaya menghindarkan telur dari predator seperti anjing, burung camar, dan tikus.

Bangunan tempat penangkaran penyu. Foto Andreas Pramono

Tentu wilayah konservasi tersebut tidak terbatas pada kolam maupun basecamp penetasan. Persisnya titik konservasi dimulai dari mercusuar di pantai Pandansari sampai di ujung potongan sungai opak di bagian timur.

Penyu yang mendarat di pantai selatan biasanya bertelur di sepanjang garis pantai dan kebanyakan titik penyu bertelur ada di daerah timur sebelum potongan sungai opak.

Sekalipun telah mendapat sosialisasi dan pembinaan terkait penyu, nyatanya masih terdapat penduduk yang menjual telur penyu.

Rujito mengaku kesadaran dalam upaya penyelamatan penyu masih nimim di daerahnya. Banyak penduduk yang mencari telur penyu hanya untuk ditukarkan dengan uang. Rujito dan Deni, pendiri reISPIRASI kerap menebus telur yang penduduk temukan. Per telur setidaknya mereka harus mengeluarkan Rp 2.000. Meski begitu tidak semua penduduk mencari telur untuk dijual. Beberapa orang justru memberikan telur kepada Rujito untuk ditetaskan. “Memang ada yang peduli tapi tidak semuanya,” aku Ruijto.

Wilayah seluas lebih-kurang 9 Ha yang menjadi daerah konservasi akan diajukan ke Keraton untuk mendapat kekancingan. Luasan tersebut belum mencakup bagian pesisir dan ke arah timur sungai opak. Untuk mengancing wilayah seluas lebih dari 10 hektar tersebut tentu ada syarat yang tak mudah untuk dipenuhi seperti wajib bebas dari pemukiman, lalu pedagang pinggir pantai juga harus direlokasi, ditambah lagi Jeep wisata yang kerap masuk dalam radius konservasi menjadi persoalan tersendiri.

Rumah Rujto terlihat dari bibir pantai. Foto Andreas Pramono

Peta wilayah konservasi yang akan diajukan kekancingan ke Keraton.

Pengajuan penggunaan lahan sebagai wilayah konservasi di pantai selatan harus mengacu pada Peraturan Gubernur DIY Nomor 49 Tahun 2018 tentang Prosedur Permohonan Pemanfaatan Tanah Kasultanan dan Tanah Kadipaten.   

Sejak awal Rujito menerima pembinaan, wilayah Samas telah dirancang menjadi wahana wisata pendidikan. “Itu yang membuat saya tertarik. Menurut saya pendidikan adalah masa depan kita. Biar pun saya pribadi tidak bisa menyekolahkan anak saya seperti harapan saya. Tapi saya ikut andil mengabdikan diri sebagai pelestari bagi pendidikan anak sampai saat ini,” kata Rujito dengan bangga.

Tahun 2007 Rujito pernah menerima tamu mahasiswi dari UNY yang berniat melakukan riset terkait penyu. “Dia mengadakan penelitian selama 6 bulan. [Seingat saya] namanya Dewik, Danti, dan Nurul.”

Suatu waktu, Rujito pernah mendapati seorang penduduk menjual telur. Ia lantas memberitahu tindakan itu pada dinas kelautan dan perikanan. Namun ia tak merasa puas dengan penanganan yang dilakukan. Rujito mengaku bahwa penyelesaian tersebut tidak bisa semudah itu lewat jalur damai. “Saya tidak puas dengan penyidik. Itu kan ada aturan denda. Tapi kok cuma tanda tangan saja. Katanya sih mitra. Besok kalau memang penanganan tetap seperti itu berarti UU tidak berjalan. Kalau itu melanggar UU ya, harus ditindak secara hukum.”

Pada tahun yang sama, dalam upaya penyelamatan penyu, Rujito dibantu oleh komunitas rumah hijau. Pasca rumah hijau berhenti memberikan bantuan, Deni yang nantinya membentuk reISPIRASI lah yang membantu Rujito sampai saat ini. “Tanpa bantuan Mas Deni saya kurang gerak, Mas.”

Rujito mempunyai strategi lain dalam upaya konservasi yang ia lakukan. “Dari dulu saya gabung dengan masyarakat setempat dan nelayan, saya tidak lepas dari mereka karena semua lingkup di wilayah Samas ini harus kita rangkul biar menyatu.” Ketika ia mendapat ilmu terkait pelestarian penyu, Rujito tidak tanggung-tangung untuk membagikannya dengan penduduk. “Waktu pertemuan Jumat Kliwon, saya ikut gabung di pertemuan warga itu. Nah, dari situ materi yang saya dapat dari dinas kemudian saya floor-kan. Soalnya kan kalau mengadakan pertemuan sendiri pasti mengeluarkan biaya,” kata Rujito sambil tertawa kecil.

Selain ilmu dari dinas kelautan dan perikanan, Rujito mempunyai ilmu titen yang digunakan untuk mengetahui masa penyu akan naik ke permukaan dan bertelur di pantai selatan. “Faktor bulan bisa menjadi penentu, sedangkan jam-waktu itu tidak bisa, lalu feeling atau naluri memberi tahu. Umpamanya air laut ada perubahan, boleh dikatakan bau amis, kalau ada suara anjing dan burung [beterbangan] itu penentu lain. Tandanya mereka mau mencuri telur. Angin kencang dan kalau pasir pantai bersentuhan dengan kaki rasanya akan gatal cekat-cekit, itu tandanya penyu mau [naik] bertelur.”

Ilmu modern dan titen milik Rujito membuat ia menjadi konservator mumpuni. Ia kadang masih memberi materi terkait konservasi penyu ketika ada kegiatan oleh reISPIRASI – jika memang dibutuhkan. Dengan apa yang telah Rujito lakukan, ia diganjar dengan tiga kali penghargaan sampai saat ini. “Saya mendapat penghargaan, kalpataru tahun 2002, lalu dapat lagi di tahun 2007, dan terakhir 2016,” kata Rujito.

Meski dengan ilmu yang telah Rujito miliki, ia tetap mempunyai kesulitan dalam penetasan telur. Terlebih ketika ada orang lain yang ikut. Ia mengatakan bahwa kadang dalam memindahkan telur dari sarang asli ke ember, orang yang ikut masih asal memindah. “Mindahnya semaunya sendiri.”

Pada waktu memindah, ember harus diberi pasir terlebih dahulu, begitupun setelahnya agar tidak kena angin. “Kalau kena angin nanti bisa mengempit. Menjadi tidak baik [telurnya].” Begitupun ketika memasukkan ke dalam buis beton tidak boleh terlalu lama karena angin akan sangat berpengaruh. Penataan telur pun harus diperhatikan agar menyisakan rongga. “Biasanya anak-anak kalau ikut serta tata cara penetasan, mereka sering sekadar menata.”

Hal tersebut adalah satu dari sekian faktor penentu keberlangsungan hidup penyu. Faktor lainnya adalah sampah plastik yang setiap tahunnya makin bertambah di lautan. Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) merilis laporan berjudul White Paper on Plastics Circular Economy and Global Trade terbitan Juli 2020. Laporan itu memaparkan sampah plastik yang berada di dunia mencapai 150 juta ton. Sedangkan pertumbuhannya mencapai 8 juta ton per tahunnya.

Padahal dari 1000 ekor tukik yang dilepaskan ke lautan, hanya ada seekor yang kemungkinan hidup sampai dewasa. Hal tersebut telah mempertimbangkan predator alami di lautan.

Depan (selatan) rumah Rujito. Foto Andreas Pramono

Orang Arab yang dulu datang dan membeli telur penyu dari Rujito – ketika ia masih jadi pemburu – mengungkapkan rasa kagum ketika mendapati Rujito di televisi sebagai seorang konservator penyu. “Dia terakhir melihat saya di tv sebagai penyelamat [penyu] mengucapkan selamat. Karena atas kepedulian saya sadar akan artinya itu (penyelamatan penyu). [Dia] merasa bangga sekali,” kata Rujito yang tidak acuh dengan angin malam Samas yang merangsek masuk ke celah celana pendek dan kaos oblongnya. “Makasih, Pak. Anda [sangat] sadar. Dulu belum ada aturannya (tentang konservasi penyu),” pungkas Rujito menirukan ucapan orang Arab itu.

Pria tiga anak dan dua cucu tersebut tak kenal lelah. Menyelamatkan penyu, bertani, dan kadang ia masih sempat turun melaut bersama anak dan teman-temannya. “Pada waktu musim [melaut], laut bisa dijadikan [ajang] persahabatan. Saya turun, tetap melaut, kalau mampu. [Karena] di tengah kan banyak temannya. Pegang ikan [saya] juga senang.”

Ia sadar betul bahwa alam harus dirawat. Melalui pengabdian selama ini – sebagai bentuk lain pengabdian untuk pendidikan – masa depan akan terbentang lebih baik. Karena ia sendiri tak percaya dengan manfaat ijazah. “Kalau sekarang, saya sudah tidak punya ijazah. Lah mau buat apa? Di pakai buat [mengajukan] bantuan juga engga empuk,” seloroh Rujito sambil tertawa.

Suasana sekitar rumah Rujito makin lama makin senyap. Kami tetiba disergap sepi. Beberapa orang yang tadi duduk di selaras rumah mereka telah lenyap. Di Samas, langit malam tampak bersih dari asap kendaraan. Satu-dua bintang di atas kami kadang disapu daun cemara. Bendera merah-putih yang tersemat di pasak atap rumah berkibar.

Sebelum pamit untuk pergi, saya meminta kesediaan Rujito untuk diambil gambar diri. Ia pun dengan senang hati mempersilakan. Di depan pintu rumahnya, di bawah cahaya lampu 30 watt, Rujito tampak gagah. Membayangkan sepak terjang ia selama 21 tahun terasa menakjubkan. Seorang yang dengan hati penuh mengabdi untuk masa depan anak-anak dengan mengesampingkan hidupnya sendiri.

Design a site like this with WordPress.com
Get started