Sebagai manusia, kita sepakat bahwa selalu ada kekurangan pada diri sendiri. Manusia tak pernah sempurna. Ia selalu mempunyai celah dan tak jarang berbuat kesalahan.
Perkara di atas penting untuk disadari bahwa kekurangan tak bisa kita pandang sebelah mata sebagai yang tak berguna dan perlu ditutupi.
Bagaimanapun juga, celah-celah itu lah yang membuat manusia lengkap. Sebuah celah yang menyimpan daya kekuatan yang jarang manusia ketahui untuk dapat digunakan.
Dengan begitu, sesorang akan berkembang lebih jauh seturut dengan tujuan hidupnya. Dalam satu tarikan nafas, kita bisa merumuskan hal di atas dalam satu kalimat, “Less is More”.
Ketika kamu berjalan-jalan di galeri atau pameran lukisan, tak jarang kamu melihat sebuah lukisan yang hanya terdiri dari sapuan sederhana kuas. Atau lihat saja lukisan Barnett Newman berjudul “Anna’s Light” 1968 dengan media kanvas 274 X 609 cm yang penuh dengan warna merah.
Orang yang sekilas melihatnya mungkin akan berpikir bahwa tak ada yang istimewa dari lukisan itu. Namun, ketika melihatnya secara tenang dan intim, orang-orang merasakan kehangatan, sekaligus kemegahan yang mengerikan.
Lukisan tersebut pun terjual dengan harga 105.9 juta USD. Padahal lukisan tersebut begitu minimalis, tak sekompleks lukisan para pelukis yang menganut aliran realism.
Mengenal Minimalism dari Barat
Awal konsep minimalis tersebut muncul pada tahun 1800-1850 di Amerika. Ada sebuah anggapan ketika itu bahwa wawasan dan pencerahan dapat diperoleh melalui kesederhanaan. Meski memang tak muncul istilah minimalis ketika itu untuk merumuskan gagasan kesederhanaan.
Konsep tersebut mengalami ekpsansi ketika sekelompok seniman pada 1960an menentang aturan baku yang pucat dan tawar untuk seni murni. Dari sinilah kemudian bidang-bidang seperti: kepenulisan, arsitektur, desain dan kreatif mengadopsi gaya minimalis. Akhirnya konsep tersebut diadopsi untuk sebuah gaya hidup hingga sekarang.
Mengenal Minimalism dari Indonesia
Apabila yang kita baca pada beberapa paragraf di atas menerangkan konsep minimalis dari Barat, sekarang mari kita lihat konsep tersebut di bumi Indonesia.
Sebagai negara dunia ketiga, Indonesia dipandang sebagai negara yang tak maju dan irrasional. Alasan ini lah yang membawa negara Barat datang untuk menjajah guna memberadabkan Indonesia.
Padahal kita mengenal arsitektur termaju seperti yang diterapkan pada candi-candi di Indonesia seperti Candi Borobudur.
Irrasionalitas yang dipandang Barat sebagai sesuatu yang rendah nyatanya menjadi pegangan masyarakat Indonesia agar dapat hidup dengan bahagia. Hal tersebut tercermin dari praktik penghayat kepercayaan yang menempatkan alam sebagai pusat.
Di tanah Jawa sendiri kita mengenal istilah “Nerimo Ing Pandume Gusti” yang berarti menerima apa yang Tuhan telah berikan. Ungkapan tersebut menyiratkan gaya hidup sederhana dan secukupnya. Tak berlebih dan tak rakus.
Kita memang tak mengenal apa itu minimalism. Tapi dengan apa yang telah masyarakat Indonesia lakukan, sejatinya kita telah melakukan apa yang terumuskan dalam konsep minimalism.
Memakai pakaian yang ada tanpa perlu membeli lebih banyak, memiliki pola pikir yang berorientasi pada nilai fungsional dan kualitas daripada kuantitas, menggunakan benda-benda yang recycleable menjadi sesuatu yang telah nenek moyang kita terapkan.
Lihat saja berbagai perkakas yang terbuat dari bahan alam seperti: celengan dari bambu, rumah dengan material kayu atau bambu yang dominan, bakiak, bahkan kain jarik yang sama menjadi pakaian sehari-hari.
Bukankah hal di atas merupakan esensi dari gaya hidup minimalis?
Mengenal Minimalism dari Jepang
Masih di wilayah Asia, Jepang telah menerapkan konsep minimalis jauh sebelum Barat. Mungkin saja Jepang yang mempengaruhi gerakan minimalis di Barat setelah mereka membuka diri terhadap dunia luar.
Kita bisa melihat gaya hidup tersebut dari konsep Zen Budhism mereka. Zen ini menekankan praktik meditasi untuk mengenal kodrat diri. Ia bukan aliran agama namun masih bagian dari agama Budha. Sebuah pencerahan yang manusia usahakan melalui diri sendiri dengan alam sebagai pusat.
Hal-hal yang bisa kita amati menggunakan indera adalah tempat meditasi yang mereka bangun dengan minimalis, atau upacara minum teh a la Jepang yang ringkas dan penuh gerakan terukur juga pelan.
Bergeser ke seni kaligrafi Jepang, kita sering melihat lingkaran hasil sapuan kuas. Lingkaran yang bernama ensō ini mengacu pada pikiran yang bebas tanpa hambatan. Beberapa praktisi Zen menghubungkan gagasan itu dengan wabi-sabi, keindahan ketidaksempurnaan. Persis seperti konsep “Less is More”.
Manfaat Menerapkan Gaya Hidup Minimalis
Inti dari gaya hidup minimalis adalah memaksimalkan barang-barang tanpa perlu membeli atau menambah kuantitasnya sehingga kita akan lebih produktif dan berkembang. Kita juga akan lebih tenang karena kita hanya fokus pada satu-dua hal saja.
Arus globalisasi yang begitu cepat tak bisa menyetir kita untuk mengikutinya. Kecepatan yang bahkan manusia sendiri tak bisa ikuti.
Ketika kita memaksa mengikuti, dampaknya tentu akan terjadi kelelahan atau burnout. Jika hal ini berkelanjutan, akan terjadi ketidakstabilan emosi pada diri kita. Perkara ini justru berbahaya bagi hidup sehari-hari.
Di lain sisi, dengan gaya hidup minimalis, kita tak akan berlomba-lomba menimbun barang. Tak akan ada lagi persaingan dengan orang lain atau pengguna media sosial untuk lebih eksis dan trendi yang sering ditentukan oleh kepemilikan barang tertentu seperti pakaian.
Arus informasi media sosial menawarkan banyak hal hingga kita kebingungan dan mau tak mau menjadi kalap dan mengikuti semua yang ada di dalamnya.
Dengan konsep minimalis kita diajak untuk benar-benar memikirkan tujuan hidup. Apakah hidup seseorang bisa disetir oleh informasi di media sosial. Apakah dengan mengikuti tren merupakan kunci kebahagiaan.
Ternyata diri manusia terjebak oleh ilusi yang membuat seseorang rela mengorbankan waktu berjam-jam menatap layar handphone. Ilusi tersebut membawa kita dalam persaingan komoditi. Membentuk kita menjadi bagian dari masyarakat konsumerisme. Psikologis kita pun menjadi tak stabil.
Dengan melambat dan menakar ulang hidup, kita menjadi tahu kebutuhan dalam hidup sehari-hari. Ketika kita dapat mengontrol emosi konsumeris, kita dapat hidup lebih tenang. Apa yang kita lakukan menjadi maksimal dan produktif.
Kendati demikian, kita tak perlu hingga menerapkan gaya hidup minimalis secara ekstrem. Maksudnya, jangan sampai gaya hidup tersebut justru menyusahkanmu.
Sebagai contoh, kamu berusaha mengurangi barang-barang di rumah ke tingkat yang paling minim. Sehingga rumahmu hampir menjadi rumah kosong tanpa barang.
Pada dasarnya konsep ini mencoba memberikan penawar agar kita tak larut dalam aktifitas membeli dan menumpuk barang yang tak berguna atau esensial bagi kita.
Dengan begitu, gaya hidup ini akan benar-benar membuat kita lebih produktif dan powerful. Fokus kita akan lebih terarah pada satu-dua hal dengan memaksimalkan apa yang kita punya tanpa perlu repot-repot membeli barang yang tak kita butuhkan.
Kita mungkin saja akan merasa senang jika membeli banyak barang, namun hal itu tak akan bertahan begitu lama. Ia semacam ilusi yang hanya memberikan kesenangan sesaat.
Karena itu mengenal minimalism menjadi langkah awal bagi praktik kehidupan yang bahagia.
Semakin kita mengenal lebih dalam, kita akan menjadi lebih terarah dan tak impulsif. Pandangan kita akan berubah dari yang tadinya suka membeli barang tanpa tujuan dengan dalih kesenangan sesaat menjadi berfokus pada nilai fungsionalitas dan kualitas.
Pada akhirnya, kebahagiaan yang lebih long-last dapat kita rengkuh dan mengisi aktifitas sehari-hari.
